Gubernur NTB: susah mencari pemimpin otentik

Gubernur NTB: susah mencari pemimpin otentik

Gubernur NTB Zulkieflimansyah dan Wagub NTB Sitti Rohmi Djalilah memberikan keterangan usai pelantikan sebagai Gubernur dan Wagub NTB di Istana Negara Jakarta, Rabu (19/9/2018). Foto ANTARA News (Agus Salim)

Jadi kalau uangnya banyak, nyewa konsultan, seperti ada orang gak suka anak-anak, tapi disuruh oleh konsultannya, yah terpaksa dia nimbang-nimbang bayi
Mataram (ANTARA News) - Gubernur Nusa Tenggara Barat Zulkieflimansyah mengatakan di era milineal seperti sekarang paling susah mencari pemimpin yang otentik.

"Yang paling susah saat sekarang adalah mencari pemimpin yang otentik," kata Zulkieflimansyah di Mataram, Jumat.

Pernyataan disampaikan saat menjawab pertanyaan mahasiswa IPDN Kampus NTB, Bayu Ridwan Saputra, tentang inovasi Bang Zul--sapaan akrab Gubernur NTB--terkait menjadi pemimpin pada acara Jumpa Bang Zul dan Umi Rohmi yang digelar DI halaman Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menurut dia, kebanyakan orang menjadi gubernur dan bupati hanya karena ciptaan dari konsultan politiknya.

"Jadi kalau uangnya banyak, nyewa konsultan, seperti ada orang gak suka anak-anak, tapi disuruh oleh konsultannya, yah terpaksa dia nimbang-nimbang bayi," katanya.

Jadi orang kadang-kadang menjadi pemimpin yang penuh gincu dan dibuat-buat.

Dalam penyampaiannya, gubernur mengutip teori pemasaran (marketing) bahwa "people can be manipulated once or twice but not all that time,".

Artinya orang bisa dimanipulasi sekali atau dua kali tetapi tidak bisa dimanipulasi sepanjang waktu.

"Jadi `be your self`, itu yang paling penting," ujarnya.

Menurut gubernur, menjadi pemimpin itu tidak harus menjadi gubernur.

Zulkieflimansyah mengutip tulisan Robin Sharma dalam buku yang berjudul "Leadership With Any Title". Dikatakannya, orang bisa menjadi pemimpin tanpa harus mendapatkan kedudukan formal.

Dia mencontohkan jabatan kepala dinas (kadis). Bang Zul mengatakan, boleh saja seorang itu jabatannya kadis, tapi dia bisa mengatur-atur seorang gubernur.

"Ada orang yang kelihatan punya jabatan tapi sebenarnya tidak punya kemampuan dan kekuasaan," kata gubernur.

Karena itu, kedepan itu menjadi seorang pemimpin itu harus otentik dan tidak bisa dibuat-buat.

"Kalau sejatinya dia bukan seorang pemimpin, maka susah juga untuk disorong-sorong menjadi pemimpin karena tidak kelihatan. Karena itu `upgrade` kemampuan, perbanyak jaringan, belajar berorganisasi," kata Doktor Zul.

Untuk itu, pemimpin kedepan mestinya harus sudah selesai dengan kepentingan dirinya sendiri. "Jangan jadi gubernur, tapi masih kepingin cari kekayaan," katanya.

Jangan jadi gubernur tapi kepingin populer dan dibuat-buat. "Kedepan itu, jadi gubernur punya kerendahan hati dan berkorban untuk orang yang lebih banyak," katanya.

Baca juga: Gubernur NTB minta warga terdampak gempa tenang
Baca juga: Gubernur NTB: Sikapi pemilu dengan menyenangkan
Baca juga: Gubernur baru NTB prioritaskan rehabilitasi-rekonstruksi pascagempa

Pewarta:
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar