counter

IMF-WB - Sepekan di Bali dengan dua "standing ovation"

IMF-WB - Sepekan di Bali dengan dua "standing ovation"

Presiden Joko Widodo saat berpidato dalam Prenary Session Annual Meeting IMF-WB 2018. (Hanni Sofia)

Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Kisah tentang sepekan di Bali menjadi milik mereka yang hadir dalam pertemuan tahunan IMF-WB 2018.

Barangkali ada yang merangkai persahabatan baru, menjajaki peluang kerja sama, hingga keinginan untuk tinggal lebih lama.

Namun di luar semuanya itu, sepekan di Bali menorehkan reputasi dan daya tarik yang kian tinggi bagi Indonesia.

Pertemuan IMF-WB telah diakhiri tidak saja dengan senyum melainkan dengan tawa lebar bukan hanya bagi penyelenggara namun ribuan mereka yang hadir.

Bagi Indonesia sendiri, dua standing ovation para hadirin saat Presiden Joko Widodo berpidato di Plenary Session Annual Meeting 2018 menjadi bukti bahwa betapa Indonesia telah mampu menciptakan sebuah standar baru dalam banyak hal.

Sebagaimana yang disampaikan Menko Kemaritiman bahwa Indonesia dianggap telah memberikan sesuatu yang berkelas bagi ajang IMF-WB.

Hal itu seperti yang diungkapkan Menkeu Sri Mulyani tentu akan menjadi tekanan tersendiri bagi Maroko sebagai tuan rumah selanjutnya untuk mengejar standar yang diberikan Indonesia yang dianggap sangat-sangat tinggi.

Di sisi lain, Indonesia pun dibanjiri simpati dan ucapan duka cita dari berbagai petinggi negara bahkan tawaran bantuan yang mengalir bak mata air yang seketika muncul di mana-mana.

Rangkaian acara dengan 2.000 pertemuan di dalamnya terselenggara dengan apik dengan diberi sentuhan yang meninggalkan kesan paling mendalam dalam analogi "Game of Thrones" ala Presiden Jokowi.

Publik pun bereaksi spontan, sosial media kebanjiran trending topic serial HBO yang segera akan merilis sesi ke-8-nya itu.


Kehadiran ASEAN

Sejatinya pertemuan IMF-WB umumnya dihadiri oleh para menteri keuangan, gubernur bank sentral, hingga pemangku kepentingan di bidang makroekonomi berbagai negara di dunia.

Hal berbeda terjadi di Bali, ketika Indonesia menginisiasi digelarnya ASEAN Leaders Gathering (ALG) di sela sibuknya agenda pertemuan tahunan paling bergengsi di bidang makro-ekonomi dunia itu.

Maka menjadi laksana sebuah bingkisan yang menyenangkan ketika konfirmasi kehadiran kemudian diterima dari seluruh Kepala Negara/Pemerintahan (Leaders) ASEAN bahkan dihadiri juga oleh Sekretaris Jenderal ASEAN, Sekretaris Jenderal PBB, Presiden Bank Dunia dan Managing Director IMF.

Seluruh kepala negara/pemerintahan ASEAN yang hadir seluruhnya menjadi cermin betapa wibawa dan kepercayaan mereka terhadap Indonesia telah bertambah kuat.

Sebab bukan mudah untuk menyatukan mereka dalam satu frame jika tidak ada kesempatan yang benar-benar signifikan bagi banyak kepentingan.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi melihat pertemuan tahunan IMF-WB dengan ALG di dalamnya, menjadi ajang pembuktian bagi Indonesia sebagai tuan rumah yang mengesankan.

Kehadiran banyak kepala negara/pemerintahan dalam ajang itu sekaligus menjadi bukti konkret betapa Indonesia telah semakin diperhitungkan di mata dunia internasional.

Meski butuh kerja keras saat mencapainya namun diperlukan dua kali lipat kerja keras untuk mempertahankannya ke depan.


Setelah IMF-WB

Pekerjaan besar selalu menanti setiap kali ada sukses akbar yang digenggam. 

Pengamat ekonomi Dian Ayu Yustina melihat Indonesia memiliki pekerjaan rumah yang tidak sederhana setelah pertemuan IMF-WB.

Menurut dia, sukses bukan semata berhenti pada penyelenggaraan namun tindak lanjut konkret yang mendatangkan dampak positif bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Ekonom Bank Danamon itu memang melihat penyelenggaraan pertemuan IMF-WB yang sukses oleh pemerintah Indonesia sehingga memungkinkan mengangkat posisi Indonesia semakin kuat dalam peta ekonomi dunia.

Terlebih dari sisi penyelenggaraan juga tampak betapa Bali sudah dipersiapkan dengan matang untuk menjadi tuan rumah acara tersebut.

Pengalaman Bali sebagai tuan rumah penyelenggaraan pertemuan APEC sebelumnya rupanya menjadi modal yang baik kali ini.

Selepas ajang itu, menurut dia, Indonesia memiliki pekerjaan rumah yang besar untuk tetap fokus menempatkan ekonomi Indonesia pada posisi terbaik di tengah tekanan perekonomian global.

Dalam jangka pendek, Indonesia dinilai Dian harus mampu mendorong realisasi investasi yang telah disepakati sepanjang sepekan pelaksanaan pertemuan IMF-WB.

Investasi harus terealisasi untuk menopang perekonomian domestik dalam menghadapi tantangan berat perang dagang yang sedang terjadi.

Memang Indonesia telah menunjukkan kelasnya dengan menjadi tuan rumah yang melampaui ekspektasi dan out of the box. 

Maka wajar jika ribuan orang barangkali sulit untuk menghilangkan kesan mereka tentang sebuah kisah sepekan di Bali.

Indonesia pun tak mudah untuk lupa tentang "double standing ovation" meski pekerjaan rumah yang panjang kini sedang menanti.

Apalagi pertemuan IMF-WB 2018 di Bali diklaim menjadi yang terbesar sepanjang sejarah terutama dilihat dari jumlah peserta yang begitu besar.

Tercatat sebanyak 36.619 orang di Bali yang ternyata hampir 2 kali lipat di atas asumsi pemerintah sebelumnya yakni 19.000 orang.

Hal itu pula yang diperkirakan akan mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi Bali menjadi di atas nasional atau akan lebih dari 6,54 persen.

Salah satu penyumbang ekonomi datang dari sektor pariwisata karena sebagian peserta disinyalir melanjutkan kunjungannya di Bali untuk melancong.

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar