UEFA Nations League

Ada apa dengan Der Panzer?

Ada apa dengan Der Panzer?

Para pemain Der Panzer Jerman berjalan lesu usai dipermalukan Belanda 0-3 (skysports.com)

Jakarta (ANTARA News)  - Penampilan timnas Jerman di kompetisi UEFA Nations League memang melempem. Menyelesaikan pertandingan kedua, tim berjulukan Der Panzer ini berada di dasar kelasemen dan terancam degradasi setelah dipermalukan seteru abadi mereka, Belanda 0-3.

Baca juga: Hasil Pertandingan: Belanda bekuk Jerman, Gibraltar cetak sejarah
Baca juga: Klasemen Nations League, Jerman terpuruk di dasar klasemen



Terelepas dari kekalahan tersebut, tren tim pemenang Piala Dunia 2014 itu relatif memburam terutama setelah nir prestasi mengejutkan pada piala dunia di Rusia. Untuk kali pertama dalam 80 tahun terakhir, Jerman tersingkir di babak awal turnamen. Padahal sesaat sebelum menuju Piala Dunia 2018 sebagai favorit juara, Jerman memenangi Piala Konfederasi 2017 dengan cara yang mengesankan. 

Sebelumnya di Piala Dunia 1938, Jerman sebetulnya juga mendapat cerita serupa. Waktu itu, Piala Dunia langsung dibuka dengan fase gugur (16 besar) di mana Jerman didepak oleh Swiss lewat pertandingan ulang. 

Namun, efek dari eliminasi dini di zaman dulu itu tentu tidak sedahsyat seperti sekarang lantaran Jerman kala itu belum berstatus sakral sebagai juara dunia. Apalagi ketika itu, Piala Dunia masih sebagai turnamen antara segelintir negara saja.  Dengan demikian, Rusia 2018 adalah Piala Dunia terkelam dalam sejarah sepakbola Jerman.

Seusai Piala Dunia musim panas di Rusia, empat bulan kemudian, kini jerman harus berjibaku menghindari degrasi dari Liga A di UEFFA Nations League, setelah hasil imbang di kandang sendiri melawan Prancis dan kekalahan 3-0 pada Sabtu di kandang Belanda. 

Kekalahan dari Belanda adalah lima kekalahan dalam sembilan pertandingan terakhir mereka dan itu merupakan kejatuhan yang luar biasa dari tim yang paling sering bertengger di singgasana tertinggi dunia seperti Jerman. 

Berikut beberapa alasan tentang melempemnya penampilan Der Panzer:


Finishing yang buruk

Jerman memiliki 21 tembakan saat melawan Belanda tetapi hanya empat yang menemukan target. Statistik tersebut menggambarkan potensi tim Jerman untuk mencetak gol relatif besar hanya penyelesaian akhir yang buruk. Bahkan jika dihitung dalam lima pertandingan terakhir, Jerman hanya memproduksi dua gol dari 107 tembakan.
 
  hasil jumlah tendangan on target
Meksiko kalah 0-1 26 9
Swedia menang 2-1 18 6
Korsel kalah 0-2 28 6
Perancis seri 0-0 14 7
Belanda kalah 0-3 21 4


Aktor-aktor utama kegagalan mencetak ghol ke gawang Belanda pada pertandingan Sabtu adalah Thomas Muller, Julian Draxler, dan Timo Werner. Ketiga pemain ini beberapa kali gagal memanfaatkan peluang bagus. Dari sini terlihat bahwa pelatih Joachim Loew sangat membutuhkan darah segar sebagai pencetak gol untuk membuat perbedaan bagi timnya.


Bermain terputus-putus

Saat menghadapi Belanda, Jerman terlihat bermain terputus-putus akibat tidak efektifnya lini tengah mereka, terutama di babak pertama. Pada babak kedua keadaan lumayan membaik, tetapi belum mencerminkan kohesifitas yang solid sebagaimana tim Jerman selama ini.

Para pemain lini tengah Jerman hanya menyelesaikan 69 persen dari umpan-umpan mereka di sepertiga akhir lapangan. Timo Werner kerap kali salah memberikan umpan terutama sebelum jeda pertandingan. Jerome Boateng juga demikian, salah satunya kesalahan fatal dalam memberikan umpan yang dimanfaatkan oleh Georginio Wijnaldum. Secara keseluruhan, lapangan tengah Belanda lebih solid dan lebih tajam dalam memberikan final pass, sementara Jerman berjuang untuk menjalin koneksi antara lini, terutama di 45 menit pertama. 


Disorganisasi lini pertahanan

Rapuhnya lini pertahanan sangat jarang disematkan ke tim Panser Jerman selama ini. Namun, saat menghadapi Belanda, lini pertahanan yang digalang Jonas Hector, Matthias Ginter, dan Mats Hummels  sangat tidak terorganisasi.

Hal itu jelas terlihat saat terjadi gol pembuka, ketika Manuel Neuer salah mengantisipasi tendangan sudut dan keluar dari posisi untuk menonton Virgil van Dijk yang bereaksi cepat memanfaatkan rebound tandukan Ryan Babel yang menerpa mistar. Di momen itu terlihat bahwa Ryan Babel begitu bebas melompat tanpa pengawalan akibat salah paham para pemain lini belakang Jerman.

Jerman memang terlihat terintimidasi dengan set-piece Belanda. Selain itu, serangan balik tuan rumah juga selalu tampak berbahaya akibat kurang koordinasinya pertahanan Jerman.


Kepercayaan diri rendah

Pada pertandingan melawan Belanda, tim Panser Jerman nampak tampil kurang percaya diri, Bisa jadi ini terkait dengan banyaknya kritikan pedas terhadap sang nahkoda Joachim Low, salah satunya kritik pedas dari mantan kapten timnas Jerman Michael Ballack, terutama setelah tragedi memalukan di Piala Dunia Russia empat bulan lalu.

Baca juga: Ballack bilang Low harus keluar
Baca juga: Michael Ballack kecewa Leroy Sane tak masuk skuad Jerman


Kekurangpercayaan diri Der Panzer juga ditengarai terkait dengan masalah yang tengah dihadapi Bayern Munich di Bundesliga. Seperti diketahui, para pemain Bayern selalu mendominasi timnas Jerman hampir sepanjang sejarah. Bayern saat ini sedang mendapat tekanan dari fans mereka setelah gagal memenangi empat pertandingan terakhir mereka. Ini kondisi langka yang dialami sang raksasa Bayern yang sangat dominan di Bundesliga.

Para pemain Bayern seperti Neuer, Boateng, Mats Hummels, Joshua Kimmich dan Muller bergabung ke timnas dengan membawa beban rasa malu dipundak akibat keterpurukan klub mereka. Meskipun mungkin sulit untuk mengukur tingkat kepercayaan diri pemain di timnas dikaitkan dengan performa klub mereka, secara psikologis performa kurang bagus para pemain Bayern terlihat jelas sangat mengganggu permainan tim nasional Jerman yang terkenal penuh determinasi.

Terlepas dari masalah ini, Low dan skuad Jerman-nya harus menggembleng diri dan mengeraskan hati  untuk perjalanan yang sulit ke Prancis pada hari Selasa pekan depan. Jika tidak, mereka harus membayar mahal terdegradasi dari kumpulan elit Liga Bangsa-Bangsa Eropa (UEFFA Nations League). Bila ini terjadi, mungkin lebih menyakitkan dari episode kelam mereka di Russia empat bulan lalu.

Pewarta: Dadan Ramdani
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar