DIY miliki 64 produk warisan budaya Indonesia

DIY miliki 64 produk warisan budaya Indonesia

Siswa Taman Kanak-Kanak 98 Giriloyo, mempraktekkan cara mewarnai batik di tempat produksi batik tulis Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Senin (28/1). Kegiatan tersebut sebagai bentuk pengenalan terhadap warisan budaya asli Indonesia. (FOTO ANTARA/Herka Yanis Pangaribowo)

ada sebanyak 64 pengakuan atau mendapat sertifikat warisan budaya tak benda
Bantul  (ANTARA News) - Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat sebanyak 64 produk yang ada di empat kabupaten dan kota provinsi ini telah mendapat pengakuan pemerintah sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.

"Sekarang ini sampai dengan tahun 2018 di DIY ada sebanyak 64 pengakuan atau mendapat sertifikat warisan budaya tak benda," kata Wakil Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY Singgih Raharjo di Kabupaten Bantul, Senin.

Namun demikian, kata dia, produk warisan budaya yang sudah disajikan dan disosialisasikan kepada masyarakat DIY hingga saat ini baru 37 produk, sebab sebanyak 27 produk lainnya baru beberapa waktu lalu mendapat pengakuan.

Ia mengatakan sertifikat pengakuan warisan budaya tak benda untuk 27 produk itu diserahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI kepada Gubernur DIY pada awal Oktober 2018, dan kemudian diserahkan ke bupati dan wali kota masing-masing.

"Yang 37 produk itu diperoleh tahun 2017 ke belakang, nah tentu ini tidak hanya kuliner, dan bagian dari 37 yang sudah kita dapatkan itu ada kerajinan, keterampilan dan ada produk budaya lain dari sisi pakaian," katanya.

Singgih menjelaskan, upaya dari pemerintah untuk mengenalkan warisan budaya tak benda itu salah satunya dengan pameran produk, baik kuliner maupun keterampilan yang sudah dapat pengakuan warisan budaya tak benda di akhir pekan lalu.

"Sehingga masyarakat harus tahu itu, selain itu juga untuk mengedukasi masyarakat agar (produk warisan budaya) menjadi kebanggaan atau ciri khas masyarakat khususnya di DIY," katanya.

Ia mengatakan, salah satu wilayah yang belum lama menjadi lokasi pameran warisan budaya adalah Desa Pleret, sebab salah satu desa di Bantul itu mempunyai nilai penting bagi berdirinya Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat.

"Sehingga dengan itu kami `sekali dayung dua pulau terlampaui`, dari sisi memenuhi kolektifnya tentang Jogja, kemudian sosialisasi tentang warisan budaya yang sudah dapatkan sertifikasi. Ini penting untuk kita sosialisasi ke masyarakat," katanya.

Baca juga: DIY perlu lindungi kebudayaan rakyat
 

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Inilah penyebab perubahan cuaca di puncak musim kemarau

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar