Ketegangan geopolitik AS-Saudi picu harga minyak naik tipis

Ketegangan geopolitik AS-Saudi picu harga minyak naik tipis

Ilustrasi: minyak mentah (egypttoday.com)

"...ketakutan yang pada awalnya mendorong harga lebih tinggi"
New York (ANTARA News) - Harga minyak naik tipis pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), didukung oleh ketegangan geopolitik atas hilangnya seorang wartawan Saudi yang memicu kekhawatiran pasokan dari Riyadh serta prospek permintaan jangka panjang.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember bertambah 0,35 dolar AS menjadi ditutup pada 80,78 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 0,44 dolar AS menjadi menetap di 71,78 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Pekan lalu, kedua kontrak jatuh lebih dari empat persen karena pasar saham AS merosot.

Namun peningkatan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat sebagai konsumen minyak utama dunia dengan Arab Saudi sebagai salah satu produsen minyak mentah terbesar, mendukung harga minyak pada perdagangan Senin (15/10).

Riyadh telah berada di bawah tekanan sejak jurnalis Jamal Khashoggi, seorang kritikus kerajaan yang menjadi kolumnis untuk The Washington Post, telah hilang sejak ia memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Presiden AS Donald Trump telah mengancam "hukuman berat" jika ditemukan bahwa Khashoggi terbunuh di kantor konsulat.

Arab Saudi mengatakan akan membalas tindakan apa pun terhadapnya atas kasus Khashoggi, kantor berita negara tersebut SPA melaporkan pada Minggu (14/10), mengutip sumber resmi. Ini terjadi pada saat yang kritis untuk pasar minyak global, yang sedang bersiap untuk sanksi-sanksi AS terhadap Iran mulai berlaku pada 4 November.

Amerika Serikat masih bertujuan untuk memotong penjualan minyak Iran menjadi nol. Utusan khusus Washington untuk Iran mengatakan pada Senin (15/10).

Turki dan Italia adalah pembeli terakhir minyak mentah Iran di luar China, India, dan Timur Tengah. Menurut data tanker dan sumber industri, tanda terbaru bahwa pengiriman menerima pukulan besar dari sanksi-sanksi AS yang kian mendekat.

Beberapa produsen bertujuan untuk meningkatkan produksi di tengah penurunan ekspor Iran. Irak berencana akan meningkatkan ekspor minyak dari pelabuhan di selatan menjadi empat juta barel per hari (bph) pada kuartal pertama 2019.

"Jika Saudi tidak datang untuk menyelamatkan ketika sanksi-sanksi Iran dimulai ... itu akan menjadikan pasar sangat kekurangan. Itu adalah ketakutan yang pada awalnya mendorong harga lebih tinggi," kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago, seperti dikutip Reuters.

Namun, beberapa premi risiko diambil keluar pasar ketika Trump pada Senin (15/10) meningkatkan kemungkinan bahwa "pembunuh jahat" harus bertanggung jawab atas hilangnya Khashoggi.

Mengerahkan tekanan turun pada harga, laporan bulanan Jumat (12/10) dari Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pasar tampak "dipasok cukup untuk saat ini" dan memangkas perkiraan untuk pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun ini dan tahun depan.

Sekretaris jenderal Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pekan lalu mengatakan bahwa kelompok itu melihat pasar minyak juga dipasok dengan baik dan berhati-hati menciptakan banjir pasokan pada tahun depan.

Baca juga: Wall Street jatuh terseret penurunan saham-saham teknologi







Pelaku pasar juga fokus pada pelemahan celah spread bensin. Premi bensin terhadap WTI jatuh menjadi 9,49 dolar AS, terlemah sejak Februari 2017.

"Kami terus menekankan runtuhnya virtual dalam celah spread ` bensin NYMEX sebagai pertimbangan bearish terhadap pasar minyak mentah yang memberikan pengimbangan signifikan terhadap ketegangan Saudi akhir pekan dalam perdagangan hari ini,"  kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates, dalam catatan.

 

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar