Wall Street berakhir turun setelah melonjak sehari sebelumnya

Wall Street berakhir turun setelah melonjak sehari sebelumnya

Penunjuk jalan Wallstreet kawasan bursa saham Amerika Serikat (AS) di Kota New York. (Reuters)

New York (ANTARA News) - Saham-saham di Wall Street berakhir lebih rendah pada perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), setelah sehari sebelumnya melonjak dengan tiga indeks utama naik dua persen lebih didorong laba kuartalan yang kuat  perusahaan-perusahaan terkemuka Amerika Serikat.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 91,74 poin atau 0,36 persen, menjadi ditutup di 25.706,68. Indeks S&P 500 turun 0,71 poin atau 0,03 persen, menjadi berakhir di 2.809,21. Indeks Komposit Nasdaq ditutup 2,79 poin atau 0,04 persen lebih rendah, menjadi 7.642,70.

Saham IBM turun 7,63 persen, memimpin kemunduran indeks di Dow. Perusahaan melaporkan hasil kuartalan beragam setelah penutupan perdagangan Selasa (17/10), dengan hasil laba melampaui perkiraan dan pendapatannya gagal memenuhi ekspektasi.

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup melemah, dengan sektor material, energi dan konsumen discretionary memimpin kerugian, masing-masing turun 0,83 persen, 0,69 persen dan 0,69 persen.

Nasdaq menghapus kenaikan hari sebelumnya meskipun saham Netflix masih melanjutkan relinya. Saham raksasa video-streaming AS melonjak lebih dari lima persen setelah melaporkan laba yang lebih kuat dari perkiraan.

Pasar bergejolak pada Rabu (17/10), dengan saham-saham kerap kali berayun antara keuntungan dan kerugian. Para ahli mencatat bahwa gerakan semacam ini akan berlanjut sampai laporan laba perusahaan-perusahaan menegaskan kembali prospek untuk tahun depan.

Ekspektasi untuk musim laba ini tinggi. Para analis yang disurvei oleh FactSet memperkirakan laba kuartal ketiga perusahaan-perusahaan S&P 500 tumbuh sebesar 19 persen. Dari S&P 500, sejauh ini perusahaan-perusahaan yang telah melaporkan kinerja keungannya, 88,5 persen melampaui ekspektasi analis, menurut FactSet.

Investor juga memperhatikan risalah dari pertemuan Federal Reserve AS pada September. Risalah yang dirilis pada sore hari itu menunjukkan bahwa bank sentral tetap yakin perlu mengetatkan kebijakan moneter untuk menjaga ekonomi tetap stabil.

"Para peserta umumnya mengantisipasi bahwa peningkatan bertahap lebih lanjut dalam kisaran target untuk suku bunga federal fund (federal funds rate/FFR) kemungkinan besar akan konsisten dengan ekspansi ekonomi yang berkelanjutan, kondisi pasar tenaga kerja yang kuat dan inflasi mendekati dua persen dalam jangka menengah," kata risalah.

"The Fed berkeinginan untuk melanjutkan menaikkan suku bunga, tetapi suku bunga fed fund sekarang memasuki wilayah yang tidak pasti di mana tidak dapat lagi dicirikan sebagai selalu akomodatif. Implikasinya adalah keputusan tingkat suku bunga mendatang akan didasarkan pada data yang masuk," kata Chris Low, kepala ekonom di FTN Financial.

Di bidang ekonomi, "housing starts" (rumah yang baru dibangun) yang dimiliki secara pribadi AS pada September berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 1.201.000 unit, Departemen Perdagangan mengumumkan Rabu (17/10).

Angka tersebut 5,3 persen di bawah perkiraan Agustus yang direvisi sebesar 1.268.000 unit, tetapi 3,7 persen di atas tingkat September 2017 pada 1.158.000 unit.

Baca juga: Kenaikan imbal hasil obligasi dorong Wall Street berakhir lemah

Baca juga: Wall Street kembali jatuh, saham-saham teknologi rontok

 

Pewarta:
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar