Metropolitan

Skybridge Tanah Abang perlu integrasi dengan angkutan umum

Skybridge Tanah Abang perlu integrasi dengan angkutan umum

Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Tanah Abang, Jakarta Pusat sudah dilaksanakan peluncuran awal sekaligus sosialisasi serta penempatan kepada pedagang. Dokumen PD Pembangunan Sarana Jaya.

Skybridge Tanah Abang dikatakan bermanfaat, apabila ...
Jakarta (ANTARA News) - Koalisi Pejalan Kaki menilai Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) atau "skybridge" Tanah Abang, Jakarta Pusat perlu integrasi dengan moda angkutan umum, agar masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara langsung.

"Skybridge Tanah Abang dikatakan bermanfaat, apabila langsung terintegrasi dengan angkutan umum lainnya," ujar Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus, di Jakarta, Kamis.

Alfred mengatakan istilah "skybridge" seharusnya untuk menghubungkan antar manusia, bukan untuk menyediakan tempat bagi pedagang kaki lima (PKL) berjualan.

Namun, penataan PKL di JPM dianggap tidak masalah selagi tidak menghilangkan fungsi utama jembatan itu sendiri.

Yang terpenting, lanjut Alfred, trotoar bagi pejalan kaki tidak dihilangkan.

"Bus Transjakarta yang biasa keliling itu salah satu moda transportasi yang dapat dimanfaatkan maksimal. Kalau tidak, nanti ojek online yang memenuhi jalanan sekitar," katanya.

Ia berharap dengan diluncurkannya program Jak Lingko, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dapat mengatasi masalah angkutan umum yang seringkali dianggap menyebabkan macet karena berhenti tidak pada tempatnya di Tanah Abang.

JPM Tanah Abang tengah memasuki proses penyelesaian akhir dan diharapkan dapat rampung pada akhir Oktober 2018.

Jembatan yang lebih sering disebut "skybridge" tersebut merupakan jembatan penghubung Stasiun Tanah Abang hingga ke Blok G dan menjadi jembatan antarmoda yang berintegrasi langsung dengan Stasiun Tanah Abang.

Baca juga: Jembatan penyeberangan multiguna Tanah Abang masuk tahap dua
Baca juga: Pegiat usulkan jembatan penyeberangan orang bermasalah dirobohkan

 

Pewarta:
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar