Artikel

Catatan jurnalis Antara - Naluri wartawan yang tak pernah padam

Catatan jurnalis Antara - Naluri wartawan yang tak pernah padam

Kepala Biro LKBN Antara Provinsi Sulawesi Tengah, Rolex Malaha. (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

Akhirnya saya bangkut dan meninggalkan keluarga, kembali masuk ke dalam kota memantau situasi dan melaporkannya ke Jakarta untuk disiarkan..
Oleh Rolex Malaha *)

Waktu menunjukkan pukul 15.30 Wita, Jumat, 28 September 2018, ketika gempa bumi pertama bermagnitudo 6 pada Skala Richter, mengguncang Kota Palu selama beberapa detik.

Saya yang sedang mengedit berita di ruang redaksi Biro LKBN Antara Sulawesi Tengah, Jalan Tanjung Dako No.17, Kota Palu, tidak beranjak dari meja komputer meski di luar sana, masyarakat sudah berhamburan ke luar rumah. Saya terus menunggu selesainya berita gempa tersebut yang sedang dibuat pewarta agar segera disunting dan disiarkan kepada publik.

Sekitar 15 menit kemudian, Kepala Redaksi Kesra dan Karkhas LKBN Antara, Arief Mujayatno, mengirimi saya rilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyebutkan bahwa gempa 6 SR yang berpusat di Donggala bagian utara itu menyebabkan satu orang meninggal, 10 luka-luka dan ratusan rumah rusak. Kurang dari lima menit, rilis itu sudah saya siarkan.

Saya kemudian sibuk menghubungi rekan-rekan jurnalis untuk mencari informasi mengenai dampak gempa itu. Saya sendiri mencoba menelepon Kapolres Donggala namun rekan saya itu mengatakan belum mendapat informasi dari jajaran Polsek.

Sekitar pukul 17.20 Wita, muncul gempa kedua yang menurut BMKG bermagnitudo 5,4 SR.

Saya pun tak beranjak dari ruang redaksi karena terus sibuk mengerahkan teman-teman mengumpulkan informasi sambil menyunting berita-berita nongempa, hingga tibalah pada guncangan yang maha hebat itu.

Sekitar pukul 18.00 Wita, saat sedang mengedit sebuah video untuk berita konvergensi bersama staf saya, Budi Kombu, tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh yang mengejutkan. Bumi dan gedung terguncang hebat. Kami merasa seperti benda di dalam botol yang diguncang-guncang, hingga jendela di belakang saya terbuka dengan sendirinya.

Staf saya Budi Kombu secara refleks melompat keluar lewat jendela itu untuk menengok istri dan bayinya berusia dua bulan di rumah sebelah, sementara saya berusaha berlari keluar ruangan untuk meyelamatkan diri dengan terus mengucapkan "Haleluya, Tuhan tolong saya."

Staf saya, Anas Massa,  yang sedang mengetik berita di meja sebelah berhasil keluar duluan melalui tiga pintu untuk mencapai halaman kantor. Saya pun berusaha menyusulnya, namun karena begitu kuatnya guncangan, saya hampir tidak bisa maju karena terhempas ke depan dan belakang, ke kiri dan kanan.

Di ruang redaksi itu, ada sebuah meja kayu yang di atasnya tersimpan koran-koran lokal yang sudah berhamburan di lantai. Saya pun berjongkok ke bawah meja sambil berusaha ke luar ruangan dengan menyeret meja itu sebagai alat pelindung.

Setelah lolos dari pintu pertama, saya keluar dari bawah meja karena melihat bahwa gedung kantor cukup kuat dan tidak ada tanda-tanda roboh, lalu bergerak sekuat tenaga ke halaman kantor.

Jalan raya di depan kantor yang tidak jauh dari Pasar Masomba, sebuah pasar besar di Kota Palu itu, terdengar suara masyarakat yang meraung-raung ketakutan sambil memanggil nama Tuhan. Puluhan orang yang sedang mengendarai sepeda motor tampak jatuh rebah bahkan terlempar ke aspal.

Saya membuka ponsel saya dan memotret peristiwa itu dalam kondisi bumi yang terus berguncang dan suasana mencekam, di mana masjid-masjid yang sedang melantunkan kumandang azan Maghrib, tiba-tiba senyap.

Saya langsung mengirimkan dua keping foto itu ke Jakarta melalui whatsapp grup Redaktur Antara Sejahtera dengan harapan untuk segera disiarkan Antara.

Baru saja selesai mengirim foto itu, staf saya Budi Kombu berlari melaporkan bahwa pagar belakang kantor roboh.

Saya kemudian bergerak ke belakang kantor bersama wartawan Antara lainnya Anas Massa, masih dalam situasi gempa yang tak henti-hentinya mengamuk. Saya minta Anas untuk berdiri di dekat pagar yang roboh lalu saya memotret dengan ponsel dan sesegera mungkin mengirimkan lagi ke grup WA yang sama.

Di bawah ketiga keping foto itu saya pun menulis: "Gempa keras Palu. Ada yang bisa kontak saya? saya tak konsen membuat berita, ketakutan semua orang."

Satu menit kemudian saya susul lagi laporan saya: "Pagar kantor Antara roboh". Namun belum ada respons teman-teman grup. Empat menit berikutnya yakni pukul 18.14 Wita, saya susul lagi dengan komentar: "Waduh, ndak ada yang monitor ya. Toloooongggg!!!". Kalimat itu rupanya menjadi pesan terakhir, karena setelah itu sambungan telepon terputus.

Dari indikasi ponsel, semua pesan saya itu masuk dan terbaca teman-teman, namun setelah itu sambungan telepon seluler Telkomsel yang saya gunakan terputus total.

Merasa tidak ada harapan untuk mengirim berita, saya pun bergegas kembali ke rumah untuk menengok keluarga setelah lima menit sebelumnya, anak saya sempat mengontak menanyakan keadaan saya dan melaporkan keadaan mereka yang semuanya selamat.

Saya berusaha menenangkan keluarga yang berkumpul di jalan aspal depan rumah bersama puluhan warga lainnya.
Satu unit kendaraan tertimbun akibat gempa 7,4 pada skala richter (SR), di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). Petobo merupakan kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.

Ancaman tsunami

Selama beberapa jam, gempa susulan yang relatif kecil terus mengguncang hingga pada sekitar pukul 23.30 Wita, muncul arahan Badan SAR Kota Palu untuk menyampaikan kepada warga agar bergerak ke Kantor SAR di Jalan Garuda yang tempatnya lebih tinggi.

Kami pun bergegas ke sana, dan menemukan jalanan ke Kantor SAR itu dipadati kendaraan warga yang mencari perlindungan. Di kantor SAR itu lah baru saya mendapatkan informasi mengenai dahsyatnya dampak yang ditimbulkan tsunami di sepanjang Teluk Palu.

"Kami memang menyarankan warga untuk mencari tempat perlindungan di lokasi yang lebih tinggi untuk menghindar dari dampak tsunami," kata seorang anggota SAR Palu.

Mendengar informasi itu, saya pun kembali mencoba mengontak teman-teman wartawan di Jakarta untuk memberikan informasi, namun gagal karena tidak ada signal telepon. Saya kembali ke mobil dan mengajak keluarga untuk naik ke lokasi yang lebih tinggi guna mencari perlindungan.

Sekitar 15 menit kemudian, kami sudah berada di sebuah lahan terbuka di Kelurahan Kavatuna. Ribuan warga sudah duluan berada di tempat itu.

Di tengah guncangan yang masih terus menyusul, saya pun semakin penasaran ingin menyampaikan laporan ke redaksi mengenai musibah yang sedang melanda ibu kota Sulteng ini, hingga pada sekita pukul 03.00 Wita, Sabtu (29/8), tiba-tiba ponsel seorang pemuda yang berbaring di dekat kami berbunyi.

Selama beberapa detik, dia sempat berbicara dengan keluarganya dan menceriterakan keadaannya. Ternyata dia menggunakan nomor seluler dari operator Indosat.

Segera saya meminta nomor ponsel Indosat milik istri dan menyimpanya di ponsel saya agar bisa berhubungan keluar menggunakan WA. Puji Tuhan, nomor tersambung dan orang pertama saya kontak adalah adik saya di Jakarta untuk menginformasikan bahwa keadaan kami semua selamat dan sehat wal `afiat, namun sedang berada di pengungsian di atas gunung.

Orang kedua yang saya hubungi sebelum signal terputus yakni Direktur Pemberitaan Perum LKBN Antara Akhmad Munir untuk melaporkan peristiwa ini dan kondisi yang kami alami sekeluarga, karena belum ada informasi mengenai kondisi rekan-rekan karyawan Antara lainnya.

Usai berbicara sekitar 10 menit dengan Cak Munir, panggilan akrab Akhmad Munir, saya membuka WA dan melihat pesan dari Kepala Redaksi Politik LKBN Antara mas Sigit yang merespon pesan WA saya sebelumnya dengan mengatakan: `bang, kami semua mencoba mengontak abang, tapi tidak bisa tersambung."

Saya juga sempat mengontak Kepala Biro Antara Makassar Laode Masrafi pada subuh itu untuk mengabarkan keadaan kami dan berkoordiasi agar dia membantu segera mengirim pewarta ke Palu untuk liputan bencana ini.

Saya mencoba memejamkan mata sambil berbaring di atas terpal beratap langit yang diterangi rembulan, tetapi tidak bisa. Dua hal yang membuat saya tidak bisa tidur adalah mengawasi anak-istri dan seorang cucu berusia dua bulan serta rasa penasaran ingin membuat berita namun tak dapat mengirimnya ke redaksi.

Pukul 06.00 Wita, saya mengajak keluarga untuk turun gunung kembali ke rumah setelah menantu saya pada Sabtu subuh sempat menengok rumah mereka di BTN Kelapa Gading, Kabupaten Sigi, dan menyampaikan informasi bahwa kondisi rumah itu tidak ada kerusakan.

Di rumah kami di Jalan Tanjung Satu yang jaraknya hanya sekitar 15 menit berjalan kaki ke Kantor Biro Antara Palu, saya minta keluarga untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan dan pindah ke rumah anak kami yang sampai tulisan ini diketik, masih berada di BTN Kelapa Gading Blok AM No.7 dan No.9.

Sementara mereka bersiap-siap, pada sekitar pukul 07.00 Wita, saya mengambil sepeda motor dan berkeliling melihat kondisi Kota Palu.

Saya datang ke Mal Tatura Palu yang tidak jauh dari rumah kami, memotret beberapa kali dengan kamera ponsel sambil meneteskan air mata melihat besarnya kerusakan dan mendengar informasi puluhan jenazah terdapat di dalam reruntuhan bangunan itu.

Saya segera mengirim foto itu ke Redpel Foto Antara Saptono namun berkali-kali gagal karena sulitnya jaringan ponsel Indosat. Sementara itu saya bergeser ke Rumah Sakit Budi Agung di Jalan Maluku.
Tim penyelamat dari Manggala Agni mencari korban gempa dan tsunami di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). Petobo merupakan kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa 7,4 pada skala richter (SR) yang terjadi pada 28 September 2018. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj

Memilukan

Pemandangan memilukan saya saksikan di mana banyak korban yang luka parah yang terbaring di halaman, hanya bisa merintih kesakitan dan lukanya dikerumini lalat tanpa ada pertolongan medis karena terbatasnya dokter dan perawat yang semuanya juga menjadi korban bencana.

Saya terus memotret sambil berkeliling dan mencoba mengirimkan via WA. Satu dua foto akhirnya bisa terkirim sambil berjalan menuju Hotel Roa Roa dan bertemu pemilik hotel itu, Ko Agung Susilo, yang juga sahabat akrab saya.

Saya kemudian memotret dia setelah kami berdoa di dekat reruntuhan hotel berlantai delapan yang hancur luluh lantak tersebut, sebelum saya meninggalkannya dan menuju Balai Kota Palu untuk melihat situasi yang terjadi.

Setelah berhasil mengirim sekitar 11 keping foto melalui whatsapp dan memberi laporan lisan untuk bahan berita tulis, saya kemudian menjemput keluarga untuk pindah ke BTN Kelapa Gading. Tiba di BTN itu, saya coba beristirahat namun tidak bisa memejamkan mata karena teringat liputan yang menanti kehadiran jurnalis.

Kondisi itu diperparah oleh signal ponsel Indosat yang sama sekali terputus total di tempat kami mengungsi.

Akhirnya saya bangkit dan meninggalkan keluarga, kembali masuk ke dalam kota memantau situasi dan melaporkannya ke Jakarta untuk disiarkan sambil mengkoordinasikan bantuan liputan dengan pimpinan di Jakarta dan rekan-rekan di daerah tetangga seperti Makassar dan Gorontalo.

Mulai hari Sabtu (29/9) petang, bantuan pewarta Antara mulai berdatangan diawali pewarta foto energik dari Jakarta, Adimaja yang akrab dipanggil Cumi, lalu pewarta tulis dari Makassar, Darwin Fatir.

Sejak hari pertama hingga hari Rabu (3/10), saat tim liputan dari Jakarta yang dipimpin Ade P Marboen dan didampingi Redpel Budi Setiawanto, saya nyaris tak pernah istirahat untuk meliput dan membuat berita, semata-mata karena naluri jurnalis yang ingin sesegera mungkin menyiarkan berbagai peristiwa yang dialami, dan disaksikan untuk diketahui publik.

Pada Senin, 1 Oktober 2018, saya menerima pesan whatsapp dari sahabat saya Priyambodo yang akrab disapa Mas Bob, yang membangkitkan semangat dan rasa bangga sebagai jurnalis.

"Bang Rolex, saya baru tiba dari Thammasat, Thai Selatan, dan turut berduka atas bencana di Sulteng. Saya baca banyak reportase bang Rolex. Sehat dan sukses selalu, bang Rolex. Salam, Tku," begitu tulis Bob, wartawan senior LKBN Antara, yang juga Direktur Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) tersebut.

Sejumlah teman dari Jakarta dan beberapa daerah juga mengirimkan pesan yang mirip, semakin menambah kebanggaan sebagai jurnalis. Saya pun sempat melayani wawancara langsung beberapa jurnalis dari provinsi lain serta dari Malaysia dan Filipina.

Mungkin ini pulalah yang membuat naluri jurnalis saya tidak bisa dipadamkan oleh kengerian bencana yang merenggut sedikitnya 2.100 orang tewas, 5.000-an orang tidak diketahui nasibnya, lebih seratus ribu orang mengungsi disertai kerusakan parah dan masif bangunan-bangunan dan infastruktur.

Saya juga bangga dengan keluarga yang saya hidupi dari penghasilan selama 34 tahun mengabdi di LKBN Antara (status honor tetap mulai April 1984), yang mengerti dengan panggilan profesi saya meskipun harus tinggalkan di lokasi pengungsian yang terpencil, gelap gulita tanpa listrik, dan kelangkaan bahan makanan, utamanya susu dan perlengkapan untuk cucu kami yang berusia dua bulan, serta trauma karena saat itu tiada hari tanpa gempa susulan.

*) Penulis adalah Kepala Biro LKBN Antara Provinsi Sulawesi Tengah

Baca juga: Korban meninggal Sulteng masih ditemukan
Baca juga: Bangkit di antara kepungan bencana

 

Pewarta:
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar