Indonesia adopsi penanganan penyakit kanker di tingkat Asia

Indonesia adopsi penanganan penyakit kanker di tingkat Asia

Direktur Utama RS Kanker Dharmais Prof DR Dr Abdul Kadir, PH.d, Sp.THT-KL (K) di sela-sela acara Pertemuan Ke-7 ANCCA di Jakarta, Kamis (25/10/2018). (ANTARAnews/Aditya Ramadhan)

pembelajaran buat kita semua tentang bagaimana penerapan 'cancer control program' di Asia
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia melalui Kementerian Kesehatan dan Rumah Sakit Pusat Nasional Kanker Dharmais akan mengadopsi beberapa program penanganan penyakit kanker yang telah dilakukan dan efektif di beberapa negara dalam forum Aliansi Pusat Kanker Nasional Asia (ANCCA).

"Dengan adanya kegiatan seperti ini maka kita dari Indonesia khususnya RS Pusat kanker Nasional Dharmais itu bisa jadi bahan pembelajaran buat kita semua tentang bagaimana penerapan 'cancer control program' di Asia, Jepang, Korea, China dan negara-negara lain," kata Direktur Utama RS Kanker Dharmais Abdul Kadir di Jakarta, Kamis.

Kadir mengatakan Indonesia akan mengadopsi strategi negara-negara tersebut untuk menyusun program pengendalian kanker di Tanah Air.

Pertemuan ANCCA ke-7 yang diadakan di Indonesia dan diikuti oleh 14 negara anggota dan 600 peserta tersebut akan saling berbagi pengalaman tentang penerapan program pengendalian kanker di Asia Pasifik.

Antara suatu negara dengan negara lain akan berbagi pengalaman bagaimana strategi masing-masing dalam rangka menurunkan angka kesakitan penyakit kanker dan pencegahan penyakit kanker.

Baca juga: Kanker darah bukan penyakit keturunan

Di samping itu juga sejumlah negara akan saling berbagi hasil data yang didapatkan dari program masing-masing.

Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Ekonomi Kesehatan M Subuh juga mengatakan hal serupa untuk mengadopsi program yang sudah berhasil dan efektif dilakukan negara lain dalam pengendalian kanker.

"Dengan adanya pertemuan ini di Jakarta yang dimediasi juga oleh Dharmais ini, akan membuka wacana. Misalnya ada 'sharing knowledge', seperti India mereka mempunyai sistem preventif dan promotif yang sudah berkembang mungkin akan kita adopsi bersama-sama," kata Subuh.

Subuh berharap dari diadakannya pertemuan ini bisa berbagi pengalaman tentang penerapan kebijakan dan kebijakan teknis maupun manajerial yang nantinya menjadi upaya-upaya pencegahan kanker. 

Kadir mengatakan hasil dari pertemuan ini akan menjadi rekomendasi kebijakan yang diteruskan pada pemerintah tentang penanganan kanker.

"Harapan kami hasil pertemuan ini nanti kami akan bisa menyusun suatu rekomendasi dan tentunya suatu kebijakan dan program, yang nantinya kami akan usulkan ke Kementerian Kesehatan untuk dijadikan acuan," kata Kadir.

Baca juga: Sebagian besar pasien kanker payudara terlambat periksakan diri

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kemenkes : Kanker payudara, jenis kasus kanker terbanyak di Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar