Sulit deteksi tanda dan gejala diabetes gestasional

Sulit deteksi tanda dan gejala diabetes gestasional

Ilustrasi ibu hamil sedang memeriksa gula darahnya (Shutterstock)


Jakarta (ANTARA News) – Ternyata, tanda dan gejala diabetes saat hamil atau diabetes gestasional ini sulit dideteksi,  sebab, ibu hamil tanpa diabetes pun juga mengalami hal yang sama, seperti mual, lelah, mudah lapar, atau kesemutan. 

“Meski begitu, ibu hamil harus mewaspadai sembilan tanda dan gejala diabetes, yakni sering BAK (buang air kecil), sering haus, mudah lapar, mudah lelah, berat badan menurun, mata buram, mual, luka sulit sembuh, dan kesemutan,” sebut dr. Merwin Tjahjadi, Sp.OG dalam presentasinya di Small Group Media Discussion  RSPI “Diabetes dan Kehamilan”  di Jakarta, Kamis. 

Ia menyebutkan bahwa satu dari 10 wanita itu menderita diabetes. Dan diabetes ini merupakan penyebab kematian wanita tertinggi nomor 9 di dunia. 

“Separuh dari wanita yang menderita diabetes gestasional itu berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (kurang dari 2500 gram) dan bayi besar (lebih dari 4000 gram) dan bayi tersebut berisiko 1,5 kali terkena DM tipe 2 saat usia dewasa,” ungkap dr Merwin. 

Menurut WHO, sambungnya, insiden diabetes dalam kehamilan di Indonesia adalah 1,9 hingga 3,6 persen. Sementara itu, frekuensi diabetes pada kehamilan yang tak terdeteksi, yakni 10-25 persen.

“Saat hamil terjadi perubahan metabolisme, hormon, berat badan, maupun pola makan. Berkaitan dengan diabetes, sensitivitas hormon insulin pada ibu hamil itu menurun 45 hingga 70 persen dibanding ibu tidak hamil,” imbuh dr. Merwin. 

Oleh karena itu, dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah ini, menyarankan agar ibu yang memiliki faktor risiko, seperti obesitas, riwayat diabetes melitus sebelumnya, riwayat keluarga dengan diabetes, abortus berulang, riwayat melahirkan dengan cacat bawaan atau bayi lebih dari 4000 gram, dan riwayat pre-eklampsia untuk memeriksakan kadar gula darah mereka. 

“Periksalah glukosa darah sewaktu atau glukosa darah puasa saat kunjungan antenatal pertama. Sedangkan, untuk wanita hamil tanpa riwayat DM dan tanpa faktor risiko dapat melakukan Tes Tolerenasi Glukosa Oral (TTOG) pada usia kehamilan 24-28 minggu,” ujar dr. Merwin. 

Selain itu, lanjutnya, wanita dengan diabetes gestasional mesti melakukan skrining untuk diabetes melitus yang persisten pada 6-12 minggu setelah melahirkan. 

“Wanita dengan riwayat diabetes gestasional juga melakukan skrining untuk diabetes atau pre-diabetes setiap tiga tahun,” pungkas dr. Merwin. 

Baca juga: Hamil di atas 30 tahun tingkatkan risiko diabetes dalam kehamilan

Pewarta: Anggarini Paramita
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Dirjen P2P Kemenkes pastikan tenaga ahli diabetes di Indonesia mencukupi

Komentar