Harga minyak naik jelang sanksi AS terhadap Iran

Harga minyak naik jelang sanksi AS terhadap Iran

Ilustrasi: minyak mentah (egypttoday.com)

Jika permintaan global berkontraksi lebih dari yang kita duga, itu bukan pertanda baik untuk permintaan minyak
New York (ANTARA News) - Harga minyak naik pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), didukung ekspektasi bahwa sanksi terhadap Iran akan memperketat pasokan global, tetapi membukukan penurunan mingguan karena kemerosotan di pasar saham dan kekhawatiran tentang perang perdagangan mempersuram prospek permintaan bahan bakar minyak.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember meningkat 0,73 dolar AS atau satu persen menjadi 77,62 dolar AS per barel, menjadi menetap di 77,62 dolar AS per barel. Patokan global ini mencatat kerugian mingguan sekitar 2,7 persen dan turun sekitar 10 dolar AS dalam tiga minggu.

Sementara minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember menguat 0,26 dolar AS atau 0,4 persen, menjadi berakhir di 67,59 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. WTI mencatat kerugian mingguan sekitar 2,3 persen.

Harga mendapat dukungan ketika dua sumber mengatakan pada Jumat (26/10) bahwa Irak akan menghentikan pengangkutan minyak mentah dari ladang minyak Kirkuk utara ke Iran pada November untuk mematuhi sanksi AS.

Washington telah mengatakan ingin mengurangi penjualan minyak Iran menjadi nol, meskipun ini tampaknya tidak mungkin. Namun, banyak pembeli, termasuk pelanggan terbesar Iran, China, tampak menjadi sejalan, memaksa Teheran untuk menyimpan minyak yang tidak terjual di kapal-kapal tanker.

"Jika Anda bergerak maju dan melihat orang-orang bermain sesuai aturan, yang saya kira tidak pernah benar-benar terjadi, Anda akan melihat pasokan datang dan kita bisa mengalami masalah nanti," kata Michael McAllister, direktur riset ekuitas di MUFG Securities.

Keruntuhan global dalam ekuitas telah membebani pasar minyak.

Pasar keuangan telah bergolak oleh perang perdagangan AS-China, kejatuhan mata uang negara-negara berkembang, meningkatnya suku bunga dan kekhawatiran ekonomi di Italia. Ada juga tanda-tanda perlambatan dalam perdagangan global, karena tingkat pengiriman kontainer dan curah turun.

"Jika permintaan global berkontraksi lebih dari yang kita duga, itu bukan pertanda baik untuk permintaan minyak. PDB dan permintaan minyak cukup terkorelasi dengan baik," kata Analis Ekuitas Energi di CFRA Research, Stewart Glickman.

Gejolak pasar baru-baru ini dan perkiraan untuk peningkatan pasokan telah menyebabkan investor menarik kembali taruhan pada harga minyak yang lebih tinggi. Para hedge fund memangkas taruhan bullish mereka pada minyak mentah AS ke yang paling dalam lebih dari setahun, menurut angka Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS.

Gubernur OPEC Arab Saudi mengatakan pada Kamis (25/10) bahwa pasar minyak dapat menghadapi kelebihan pasokan. "Pasar pada kuartal keempat bisa bergeser ke arah situasi kelebihan pasokan sebagaimana dibuktikan oleh meningkatnya persediaan selama beberapa minggu terakhir," kata Adeeb Al-Aama kepada Reuters.

Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan mungkin ada kebutuhan untuk intervensi guna mengurangi cadangan minyak.

Produksi minyak mentah AS melonjak, didorong oleh kemajuan teknologi. Produksi tahun ini diperkirakan akan memecahkan rekor tahunan pada 1970.

Perusahaan-perusahaan energi AS menambah rig minyak untuk minggu ketiga berturut-turut, menjaga jumlah rig di tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, perusahaan jasa energi General Electric Co. Baker Hughes mengatakan. Produktifitas yang menurun di beberapa ladang serpih telah memaksa perusahaan untuk mengebor lebih banyak mempertahankan pertumbuhan produksi.

Baca juga: Akhir pekan dolar AS melemah, investor lindungi aset dengan yen

Baca juga: Harga emas naik, investor beralih ke aset yang aman


Baca juga: Harga minyak naik didorong kebangkitan pasar saham



 

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Ekspor perdana CPO dari Pelabuhan Calang ke India

Komentar