counter

Ekonom sebut pelemahan rupiah karena faktor global dan domestik

Ekonom sebut pelemahan rupiah karena faktor global dan domestik

Ekonom senior dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetyantono saat menjadi pembicara dalam acara Rembuk Nasional "Kemandirian Ekonomi untuk Indonesia Maju" di Manado, Sabtu (27/10/2018). (Humas Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian)

Kita itu harus akui kalau kita memiilki kuda-kuda yang lemah khususnya dari sisi current account
Manado (ANTARA News) - Ekonom senior Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetyantono menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS dalam empat bulan terakhir karena kombinasi faktor global dan domestik.

"Rupiah melemah karena kombinasi menguatnya ekonomi Amerika Serikat dan juga memang harus diakui ada beberapa kuda-kuda ekonomi kita yang lemah," katanya dalam acara rembuk nasional bertajuk "Kemandirian Ekonomi untuk Indonesia Maju" di Manado, Sulut, Sabtu.
   
Menurut Tony, penguatan perekonomian AS telah memengaruhi mata uang di hampir seluruh negara dunia.

Nilai tukar di banyak negara, termasuk Indonesia, mengalami pelemahan seiring semakin menguatnya dolar AS.

Nilai tukar rupiah tercatat mengalami depresiasi hingga 12 persen, yang juga dipengaruhi krisis di sejumlah negara seperti Turki dan Argentina.

Faktor-faktor eksternal tersebut memang memengaruhi aliran modal asing yang kemudian berdampak terhadap rupiah.
   
Kendati demikian, lanjut Tony, tidak dapat dipungkiri pelemahan rupiah juga tak lepas dari permasalahan ekonomi dalam negeri terutama soal defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).
     
"Kita tidak boleh bohong bahwa di dalam negeri sendiri kita punya masalah. Masalah itu current account deficit. Jadi kita itu harus akui kalau kita memiilki kuda-kuda yang lemah khususnya dari sisi current account," ujarnya.
 
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2018 tercatat delapan miliar dolar AS atau 3,04 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau lebih tinggi dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar 5,7 miliar dolar AS atau 2,21 persen dari PDB.

Kendati pada triwulan kedua defisit transaksi berjalan sudah mencapai batas maksimal yang dianggap aman yaitu tiga persen, namun jika dihitung per semester I-2018, maka defisit transaksi berjalan baru mencapai 2,6 persen dari PDB.
   
"CAD kan sempat mencapai batas psikologis tiga persen dari PDB. Ketika mencapai ambang itu lah confidence terhadap rupiah melemah," ujar Tony.
   
Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah pada Jumat (26/10) mencapai Rp15.207 per dolar AS atau menguat dibandingkan Kamis hari sebelumnya Rp15.210 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah Jumat sore melemah jadi Rp15.212
Baca juga: Meski dikritik Trump, BI yakini Fed tidak ubah rencana kenaikan bunga

 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Menyulap limbah kaca jadi kerajinan bernilai jutaan rupiah

Komentar