Harga minyak jatuh, Rusia isyaratkan produksi tetap tinggi

Harga minyak jatuh, Rusia isyaratkan produksi tetap tinggi

Petugas SPBU bersiap melayani pembeli bakar minyak (BBM) di SPBU daerah Jakarta Pusat, Senin (9/4/2018). Kementerian ESDM tengah merumuskan peraturan yang mengatur keharusan badan usaha untuk berkonsultasi kepada pemerintah sebelum menaikkan harga BBM nonsubsidi sebagai pertimbangan dampak yang akan terjadi pascakenaikan harga. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

tidak ada alasan bagi Rusia untuk membekukan atau memangkas tingkat produksi minyaknya
New York (ANTARA News) - Harga minyak sedikit melemah pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), dengan kontrak berjangka di jalur kinerja bulanan terburuk sejak pertengahan 2016, setelah Rusia mengisyaratkan bahwa produksi akan tetap tinggi dan ketika kekhawatiran atas ekonomi global memicu kecemasan tentang permintaan minyak mentah.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember kehilangan 0,28 dolar AS menjadi menetap pada 77,34 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange LCOc1 berjangka turun 28 sen menjadi 77,34 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun 0,55 dolar AS menjadi ditutup pada 67,04 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Patokan global Brent berada di jalur untuk turun sekitar 6,6 persen pada bulan ini. Minyak mentah AS berada di jalur turun sekitar 8,5 persen. Keduanya diperkirakan akan mencatat penurunan bulanan paling curam sejak Juli 2016.

Sekalipun ada sanksi-sanksi AS terhadap ekspor Iran yang mulai berlaku pada 4 November, harga minyak telah jatuh sekitar 10 dolar AS per barel sejak tingkat tertinggi empat tahun yang dicapai pada awal Oktober.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan pada Sabtu (27/10) tidak ada alasan bagi Rusia untuk membekukan atau memangkas tingkat produksi minyaknya, mencatat bahwa ada risiko-risiko bahwa pasar minyak global dapat menghadapi defisit. Demikian laporan yang ditulis Reuters.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang dipimpin oleh Arab Saudi dan anggota non-OPEC Rusia, sepakat pada Juni untuk meningkatkan pasokan minyak, tetapi OPEC kemudian mengisyaratkan pekan lalu bahwa mungkin harus menerapkan kembali pemangkasan produksi karena persediaan global meningkat.

"Ketika Rusia mulai berbicara tentang menjaga tingkat produksi tinggi dan bahkan kemungkinan bahwa mereka perlu meningkatkannya karena kemungkinan pasokan yang ketat, itu membawa beberapa tekanan jual," kata Gene McGillian, direktur riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut.

Komoditas-komoditas industri seperti minyak mentah dan tembaga juga telah diguncang oleh kerugian besar di pasar ekuitas global karena kekhawatiran atas pendapatan perusahaan, dan kekhawatiran atas dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dari meningkatnya ketegangan perdagangan, serta dolar AS yang lebih kuat.

Indeks dolar AS juga naik, didukung oleh data belanja konsumen AS yang kuat. Penguatan dolar AS membuat komoditas-komoditas berdenominasi greenback lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Manajer-manajer investasi telah memangkas posisi bullish-nya dalam minyak mentah berjangka dan opsi-opsi selama empat minggu berturut-turut ke level terendah sejak Juli 2017, karena prospek permintaan berkembang semakin tidak pasti.

"Hedge fund benar-benar meninggalkan long side of the market (mempertahankan saham untuk kenaikan harga) dan ada beberapa `short-selling` terjadi pada persepsi ini bahwa mungkin ekonomi sedang melambat," kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group di Chicago.

"Masih berlanjut pelemahan psikologis di pasar."

Di sisi penawaran, Iran telah mulai menjual minyak mentah ke perusahaan-perusahaan swasta melalui pertukaran domestik untuk pertama kalinya, situs web berita kementerian perminyakan melaporkan.

Dengan hanya beberapa hari sebelum sanksi-sanksi AS terhadap Iran berlaku, tiga dari lima pelanggan utama Iran -- India, China, dan Turki -- menolak seruan Washington untuk mengakhiri pembelian minyak mentah, dengan alasan tidak ada pasokan yang cukup di seluruh dunia untuk menggantikannya, menurut sumber yang akrab dengan masalah ini.

Tekanan itu, bersama dengan kekhawatiran lonjakan harga minyak yang merusak, meningkatkan kemungkinan kesepakatan bilateral untuk memungkinkan beberapa pembelian berlanjut, menurut sumber.

Baca juga: Saham Boeing anjlok 6,59 persen seiring kejatuhan Wall Street

Baca juga: Harga minyak naik jelang sanksi AS terhadap Iran


 

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar