Pemerintah Indonesia dorong pemuda ASEAN pupuk toleransi

Pemerintah Indonesia dorong pemuda ASEAN pupuk toleransi

Para delegasi ASEAN Youth Interfaith Camp 2018 berfoto bersama di halaman Masjid Gedhe Mataram Kotagede Bantul Yogyakarta, Rabu (30/10/2018). (ANTARAnews/Aditya Ramadhan)

bagaimana kita memberikan pemahaman yang baik tentang pluralitas, keberagaman agama dan budaya yang ada di Indonesia
Yogyakarta, (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bersama Kementerian Luar Negeri serta Kementerian Agama mendorong pemuda-pemuda ASEAN untuk memupuk rasa toleransi melalui program ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) 2018.

Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Kemenko PMK Yohan di Yogyakarta, Rabu, mengatakan tujuannya diadakan program tersebut untuk memperkuat hubungan antarnegara dan perdamaian di Asia Tenggara di masa datang.

Sebanyak 22 pemuda yang merupakan perwakilan agama dan calon pemimpin agama di negara anggota ASEAN mengikuti program AYIC 2018 yang diadakan di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.

Dalam program tersebut para delegasi mengunjungi tempat-tempat bersejarah tentang ajaran agama yang ada di Indonesia untuk mengetahui budaya toleransi di masyarakat Indonesia yang telah ada sejak lama.

Delegasi mengunjungi Masjid Gedhe Mataram di Kotagede Yogyakarta untuk mempelajari tentang penyebaran agama Islam yang dibawa masuk ke Indonesia melalui Wali Songo.

Dalam kunjungan ke masjid tertua di Yogyajakarta tersebut, para pemuda ASEAN mendapatkan informasi mengenai sejarah masuknya Islam di Tanah Air yang bermula dari Kerajaan Mataram. 

Pemuda ASEAN tersebut juga mengunjungi Gereja Ganjuran di Kabupaten Bantul yang merupakan gereja Katolik Roma dan didirikan sejak 1924.

Sebelumnya, para delegasi ASEAN tersebut juga telah mengunjungi Candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah dan Candi Prambanan di Yogyakarta yang merupakan bagian dari sejarah ajaran Budha dan Hindu yang ada di Indonesia.

Yohan mengatakan salah satu tujuan diadakan program tersebut untuk memberikan pemahaman kepada negara-negara ASEAN bahwa Indonesia itu sebagai negara yang penuh keberagaman agama dan budaya bisa tetap bersatu.

"Selain itu bagaimana kita memberikan pemahaman yang baik tentang pluralitas, keberagaman agama dan budaya yang ada di Indonesia. Khususnya bagaimana terjadinya sebuah pertumbuhan budaya akibat kita melakukan hubungan baik masyarakat Indonesia dengan masyarakat ASEAN," kata Yohan.

Program AYIC 2018 diikuti oleh 22 peserta dari berbagai negara di Asia Tenggara yang juga dengan beragam keyakinan. Para peserta tersebut berasal dari agama Budha, Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Methodist, dan Taoisme.

Baca juga: Pemuda ASEAN pelajari keberagaman budaya dan agama Indonesia
Baca juga: Remaja ASEAN ikuti Youth Interfaith Camp di Indonesia

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar