Prinsip 5201 untuk cegah diabetes pada anak

Prinsip 5201 untuk cegah diabetes pada anak

Ilustrasi orangtua dan anak bersepeda bersama (Shutterstock)

Jakarta (ANTARA News) – Salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) yang patut diwaspadai  di Indonesia adalah Diabetes Melitus (DM). Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan angka kejadian DM pada anak usia 0-18 tahun mengalami peningkatan sebesar 700 persen selama kurun waktu 10 tahun. 

Ahli endokrin anak Dr. dr. Aman Pulungan, Sp.A (K) memaparkan bahwa ada hubungan antara obesitas dengan resistensi insulin. Ia menelitinya dan menuliskannya dalam karya ilmiah Paediatrica Indonesia tahun 2013. 

“Dari 92 remaja dengan obesitas di Jakarta Pusat, 35 atau 38 persen menunjukkan tanda resistensi insulin,” ungkap Dr. Aman Pulungan, Sp.A (K) dalam acara “Kenali Gejala Dini Kanker Pada Anak” di Jakarta, Rabu (31/10).

Menurut Ketua Pengurus Pusat IDAI, sebaiknya bila orangtua memiliki anak dengan obesitas segera melakukan pemeriksaan diri. 

“Mereka harus diperiksa darahnya karena siapa saja bisa terkena DM,” tegas Dr. Aman.

Baca juga: Waspadai diabetes pada anak
 
Kepala Divisi Endokronologi Departemen Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo/ FKUI ini menyatakan bahwa ketika anak menderita DM itu memerlukan biaya yang besar. 

“Tidak hanya menjadi beban keluarga, tapi juga negara karena anak dengan DM itu harus memakai insulin seumur hidup. Biaya pelayanan kesehatan anak dengan DM itu bisa 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan pasien nondiabetes,” imbuh Dr. Aman. 

Direktur Pencehagan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan dr. Cut Putri Ariane, M.H.Kes mengutip dari data Diabetes: A Global Emergency, Indonesia menduduki urutan no. 7 steleah Cina, India, Amerika Serikat, Brasil, Rusia, dan Meksiko dengan beban estimasi DM sebesar 10 juta. 

“Apakah kita sudah menjaga asupan? Bagaimana dengan gula, garam, dan lemak. Bila ada obesitas, segera cek gula darah,” ujar dr. Cut. 

Selain itu, Dr. Aman menambahkan bahwa ada prinsip 5210 untuk mencegah DM pada anak. 

“5 itu merujuk pada asupan buah dan sayuran 5 kali. Kemudian, 2 adalah dua jam anak duduk di luar kegiatan sekolah dan screen time. Selanjutnya, 1 adalah satu jam adalah waktu ideal melakukan olahraga. Terakhir, 0 adalah tidak ada gula maupun gula tambahan,” sebutnya. 

Baca juga: Akibat buruk asupan glukosa tak pas saat sarapan

Doktor Aman juga mengingatkan agar orangtua tidak memberikan makanan kemasan yang belum jelas kadar gulanya. 

“Hindari memberikan reward ke anak berupa makanan. Sebab, kita tidak tahu kadar gulanya,” ucapnya. 

Baca juga: Ada garis hitam di belakang leher? Ini artinya



 

Pewarta: Anggarini Paramita
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Dirjen P2P Kemenkes pastikan tenaga ahli diabetes di Indonesia mencukupi

Komentar