Pengamat Indef prediksi rupiah temukan keseimbangan baru Desember

Pengamat Indef prediksi rupiah temukan keseimbangan baru Desember

Lembaran mata uang rupiah dan dollar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta (ANTARA/Puspa Perwitasari)

Yang terpenting saat ini bukan nilai tukar rupiah menjadi Rp16 ribu atau Rp17 ribu, tapi bagaimana bisa stabil dan imbang dalam jangka waktu lama, atau menemukan keseimbangan baru
Surabaya (ANTARA News) - Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi nilai tukar rupiah akan menemukan keseimbangan baru pada Desember 2018, dan diharapkan bisa menjaga keseimbangan terhadap dolar AS agak lama.

"Yang terpenting saat ini bukan nilai tukar rupiah menjadi Rp16 ribu atau Rp17 ribu, tapi bagaimana bisa stabil dan imbang dalam jangka waktu lama, atau menemukan keseimbangan baru," kata Bhima di Surabaya, Kamis.

Bhima yang berbicara dalam acara Entrepreneur Networking Forum yang mengambil tema "Outlook Ekonomi 2019 Peluang UMKM di Era Digital dan Tantangan Tahun Politik" itu mengatakan saat ini yang terpenting bagaimana nilai tukar itu stabil, sebab hal itu yang dibutuhkan oleh pengusaha.

Bhima mengakui pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi pada rupiah, melainkan juga terjadi di beberapa negara berkembang, akibat adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

"Dua gajah sedang bertarung, tentunya imbasnya kepada negara sekitar, yakni negara berkembang, hal ini mengakibatkan ketidakpastian global. Yang paling ditakutkan, tiba-tiba nilai tukar itu melesat tinggi tidak terkontrol," kata Bhima.

Meski demikian, kata Bhima, ada beberapa negara yang bisa mengambil keuntungan dari pertarungan dua gajah ini, salah satunya Vietnam dengan membuka investasi sebesar-besarnya bagi China.

Untuk Indonesia, Bhima mengaku sampai tahun 2019 diprediksi pertumbuhan ekonominya akan tetap stabil, karena memiliki pondasi yang kuat dengan pertumbuhan di angka 5,1, sebab memiliki bonus demografi dengan populasi anak muda yang sangat besar.

"Memang Indonesia stabil, tapi untuk nilai pertumbuhan ekonomi diprediksi masih lebih bagus dibanding Amerika Serikat yang hanya tumbuh 2,5," katanya.

Bhima juga optimistis, di tengah era digital dan tantangan tahun politik, sektor UMKM yang menjadi unggulan di Indonesia akan tumbuh lebih tinggi.

"Adanya platform perdagangan digital atau e-commerce turut membantu pemasaran produk-produk UMKM. Jadi kita harus memandang ekonomi di 2019 dengan rasa optimistis. Event politik justru membawa banyak peluang bisnis, yang terpenting terus inovatif dan jeli membaca situasi," katanya.

Baca juga: Kamis pagi, rupiah menguat didorong sentimen positif dalam negeri

Baca juga: Pemerintah usulkan asumsi Rupiah 2019 Rp15.000 per dolar AS


 

Pewarta:
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar