counter

Dokter hewan Asia gelar kongres di Bali

Dokter hewan Asia gelar kongres di Bali

Dokter hewan dari Dinas Peternakan Kota Bandar Lampung melakukan pemeriksaan kesehatan hewan qurban yang dijual di lapak penjualan di Bandar Lampung, Lampung, Rabu (15/8/2018). Pemeriksaan kali ini untuk mengantisipasi hewan qurban yang tak layak dijual jelang Idul Adha 1439 H. (ANTARA FOTO/Ardiansyah)

 Denpasar (ANTARA News) - Para dokter hewan dari kawasan Asia melaksanakan Kongres Federasi Asosiasi Dokter Hewan Asia (Federation of Asian Veterinary Association /FAVA) ke-20 di Nusa Dua, Bali, pada 30 Oktober sampai 3 November 2018.

 Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr drh Agus Lelana, Sp.MP, yang mengikuti kegiatan itu di Nusa Dua, Bali, Kamis menjelaskan FAVA didirikan pada tahun 1978 oleh enam asosiasi veteriner dari Taiwan, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, dan Filipina sebagai pemrakarsa. 

 Ia mengatakan sejak saat itu FAVA melaksanakan kongresnya setiap dua tahun sekali, sementara Executive Council FAVA bertemu setiap tahun.  Kepemimpinan FAVA dipilih  untuk masa kepengurusan dua tahun.  

 Agus Lelana, yang juga pengurus di Pengurus Besar Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), menjelaskan bahwa pada Kongres FAVA 2016, Ketua Umum PB PDHI Dr Heru Setijanto, terpilih menjadi Presiden FAVA periode 2018-2020, sehingga penyelenggaraan Kongres FAVA dan Council Meeting tahun 2018 dilaksanakan oleh Indonesia, yang saat ini dilaksanakan di Bali.

 Ia mengatakan bahwa sebuah kejadian yang penting terjadi dalam sejarah FAVA ketika asosiasi-asosiasi veteriner Australia dan Selandia Baru ikut bergabung. 

 Walaupun dokter hewan Australia dan Selandia Baru dapat dikategorikan sebagai bukan Asia, katanya, mereka sadar dan tidak bisa mengelak bahwa secara geografis, profesional, dan komersial, mereka terikat dengan Asia. 

 Karena itu, Australia Veterinary Associations dan New Zealand Veterinary Associations memilih untuk bergabung dengan FAVA.

 Sebagai organisasi regional, FAVA dianggap berhasil mencapai tujuannya untuk mendorong hubungan dan pemahaman lebih baik di antara para dokter hewan Asia, sesuatu yang sebelum tahun 1978 tidak dijumpai. 

 Karena itu, pencapaian ini dianggap sebagai pencapaian paling penting dari FAVA, yang juga dibuktikan dengan semakin banyaknya asosiasi-asosiasi veteriner regional yang bergabung. 

 Sampai saat ini, asosiasi veteriner yang telah tergabung dengan FAVA adalah Afghanistan Veterinary Association (AfVA), Australian Veterinary Associations (AVA), Bangladesh Veterinary Association (BVA), Hong Kong Veterinary Association (HKVA) dan Indian Veterinary Associations (InVA).

 Kemudian, Indonesia Veterinary Medical Associations (IVA), Japan Veterinary Medical Association (JVMA), Korean Veterinary Medical Association (KVMA), Veterinary Associations of Malaysia (VAM), Mongolian Veterinary Medical Association (MVMA), dan Myanmar Veterinary Association (MVA).

Selain itu, Nepal Veterinary Association (NVA), New Zealand Veterinary Association (NZVA), Federation of Veterinary Associations of Pakistan (FVAP), Philippines  Veterinary Medical Association (PVMA), Singapore Veterinary Association (SVA), Sri Lanka Veterinary Association (SrVA), Taiwan Veterinary Medical Association (TwVMA), Thailand Veterinary Medical Association under the Royal Patronage (TVMA), dan Vietnam Veterinary Association (VVA)

 Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster, pada Kamis membuka Kongres FAVA ke-20 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), yang juga dihadiri Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Dr drh I Ketut Diarmita, Presiden Asosiasi Dokter Hewan Indonesia (IVMA) Dr drh Heru Setijanto.

 Kongres itu, yang dirangkai dengan Kongres IVMA ke-28 diikuti lebih kurang 1.000 peserta dari berbagai negara.

 Baca juga: Pemerintah jaga penyakit menular sebatas pada hewan
Baca juga: Penjual kurban wajib miliki surat kesehatan hewan

Pewarta: I Komang Suparta
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar