counter

Artikel

Harapan Waykanan miliki bandara kian nyata

Harapan Waykanan miliki bandara kian nyata

Ilustrasi - Petugas tengah memberikan pelayanan navigasi penerbangan dari atas Aerodrome Control Tower (ACT) Bandara Minangkabau (Foto: ANTARA News/Ganet)

Bandarlampung (ANTARA News) - Upaya Pemerintah Kabupaten Waykanan bersama Pemprov Lampung untuk mengalihfungsikan Lapangan Udara Angkatan Darat (Lanudad) Gatot Subroto di wilayah setempat untuk dimanfaatkan bagi penerbangan komersial kian mendekati kenyataan.

Beragam alasan mengapa pemerintah setempat berambisi untuk memanfaatkan lapangan udara milik TNI AD tersebut dijadikan bandara komersial. Diantaranya,  membuka peluang pengembangan perekonomian setempat.

Sebagai contoh, untuk ke Kota Bandarlampung (ibu kota Provinsi Lampung) dari ibu kota Kabupaten Waykanan yang berjarak sekitar 187 kilometer, harus ditempuh menggunakan kendaraan roda empat sekitar lima hingga tujuh jam. Belum lagi jika terjadi persoalan seperti jembatan putus, jalan rusak, atau ada kemacetan lalu lintas, kian menambah lama waktu tempuhnya.

Selain banyak lokasi wisata yang cukup eksotik untuk dikunjungi wisatawan dari luar daerah, namun selama ini terkendala transportasi dan lamanya waktu tempuh itu.

Belum lagi, beragam peluang bisnis seperti perkebunan, pertanian, perikanan air tawar, pengembangan pariwisata dan lainnya pun bisa dikembangkan di sana. Apalagi pemerintah setempat cukup membuka lebar peluang bagi pebisnis yang ingin berinvestasi.

Bandara yang diharapkan tersebut, bukan hanya akan membuka isolasi Waykanan dari dunia luar namun juga membuka peluang dan pengembangan daerah sekitarnya termasuk sejumlah kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan.

Upaya keras yang dilakukan pemerintah setempat untuk meminta Lanudad Gatot Subroto di Waytuba, Kabupaten Waykanan dilakukan sejak beberapa tahun lalu, diawali komunikasi dengan pimpinan TNI--dan mendapat respons positif.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, saat meninjau ke lokasi Lanudad, akhir pekan lalu, mengatakan bahwa Lanudad Gatot Subroto telah memenuhi standar untuk dijadikan bandara komersial.

Ia menyebutkan lokasi landasan pacu dan tempat istirahat pesawat termasuk yang sesuai standar.

Menhub mengatakan, dirinya dan rombongan datang untuk melihat kondisi Lanudad Gatot Subroto karena rencananya akhir tahun ini sudah mulai dioperasikan menjadi bandara komersial.

Menurutnya, setelah melakukan kunjungan dan pantauan, Lanudad Gatot Subroto Waay Tuba lebih potensial untuk dijadikan bandara komersial dibandingkan Bandara Banding Agung di Lubuk Linggau Sumatera Selatan.

Dengan menjadi bandara komersial maka potensial untuk memenuhi kebutuhan masyarakat OKU, Sumatera Selatan dan Kabupaten Waykanan.

Menhub Budi menjelaskan, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Lampung, dan Kementerian Perhubungan telah melakukan koordinasi dengan Panglima TNI terkait pengembangan Lanudad Gatot Subroto menjadi bandara komersial.

Menhub menunggu pada hari Senin (29/10/18), berkasnya sudah ada di mejanya dan Selasa (30/10/18) dilakukan pembahasan.

Menteri Perhubungan mengatakan bahwa bandar udara tersebut akan tetap berfungsi sebagai Lapangan Udara Angkatan Darat (Lanudad) walaupun nantinya menjadi bandara komersial.

Walaupun beberapa sarana dan prasarana masih terlihat kurang, seperti ruang tunggu, pintu masuk bandara, ruang tiket, pemeriksaan penumpang, petugas PPK dan lainnya, perbaikannya bisa berjalan setelah menjadi bandara komersial.

Menhub menegaskan, yang paling utama adalah safety atau keselamatan yang harus dipikirkan.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan bahwa upaya menjadikan Lanudad Gatot Subroto Way Tuba sejak tahun 2006 dan baru tahun 2018 ini rencananya direalisasikan.

Dengan melihat semangat Bupati Waykanan, Bupati OKU Timur, Bupati OKU Selatan dan OKU (induk) maka optimisme muncul dan  akan terwujud sebuah bandara komersial di Provinsi Lampung yang potensial bagi wilayah sekitarnya di Sumsel.

Herman Deru menjelaskan bahwa yang paling potensial menjadi bandara komersial adalah Lanudad Gatot Subroto Way Tuba, sedangkan Banding Agung hanya menjadi bandara perintis.

Untuk menunjang bandar udara menjadi bandara komersial, beberapa fasilitas sudah disiapkan seperti adanya hotel untuk para tamu dan lainnya.

Herman mengatakan, ketika dirinya dulu saat menjabat Bupati Oku Timur, telah dibangun hotel dan sarana lainnya. Tetapi tidak jadi, tahun 2018 ini menjadi titik balik bahwa bandar udara ini akan menjadi bandara komersial dan dapat memangkas waktu perjalanan.

Sementara itu, Bupati Waykanan, Raden Adipati Surya sangat mendukung percepatan komersialisasi Lanudad Gatot Subroto menjadi bandara komersial pada akhir 2018.

Dia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang telah memperjuangkan Lanudad Gatot Subroto menjadi bandara komersial.

Menurutnya, dengan terwujudnya Lanudad Gatot Subroto menjadi bandara komersial akan dapat menambah pendapatan asli daerah dan memangkas waktu perjalanan hingga 4 jam.

Selain itu, jarak tempuh ke bandara semakin dekat, seperti Waykanan menuju ke Bandara Raden Inten II Lampung Selatan memakan waktu 4-5 jam menggunakan angkutan darat.

Dengan menggunakan pesawat dari Lanudad hanya membutuhkan waktu 30 menit ke Bandara Raden Inten. Untuk Ogan Komering Ulu Timur Provinsi Sumatera Selatan ke Bandara Sultan Badarudin Palembang membutuhkan waktu 5-6 jam menggunakan angkutan darat sedangkan ke Lanudad hanya butuh 10 menit dengan pesawat.

Ia menambahkan, dengan waktu yang lebih cepat, bandara ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan aparatur sipil negara yang ada di Kabupaten Waykanan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ulu (OKU induk), Ogan Komering Ulu Selatan dan lainnya bisa menggunakan bandara ini.



Tim Kemenhub

Bupati Waykanan Raden Adipati Surya mengatakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah membentuk tim kecil untuk membahas percepatan penggunaan Lanudad Gatot Subroto menjadi bandara komersial.

Adipati yang masih di Jakarta mengurusi hal tersebut menjelaskan, telah diadakan rapat dengan Kemenhub dalam hal ini Dirjen Perhubungan Udara dan Darat. Dia berharap akhir tahun ini dapat menjadi bandara komersial.

Menurut Adipati, yang dihubungi dari Bandarlampung, Selasa (30/10/18).

Pembentukan tim kecil itu terdiri atas direktorat keamanan, navigasi dan otonomi bandara.

Setelah pembentukan tim kecil, nantinya akan dilakukan MoU melibatkan tiga pihak yaitu Gubernur, Dirjen Perhubungan Udara, dan Kepala Satuan Angkatan Udara atau yang mewakili.

Ini semua, bukti dan bentuk keseriusan Pemkab Waykanan untuk bisa memiliki bandara komersial.

Adipati menjelaskan, pertemuan dengan Dirjen Perhubungan Udara ini untuk menindaklanjuti hasil pertemuan dengan Menteri Perhubungan yang akan menjadikan Lanudad Gatoto Subroto sebagai bandara komersial.

Selain membahas masalah bandara, Bupati Waykanan juga mengurusi angkutan batu bara, Jembatan Way Umpu yang putus, pembangunan dry port, bus sekolah, penerangan jalan umum nasional dari ruas simpang empat sampai Blambangan Umpu dan ketersediaan bus Damri untuk mengangkut penumpang dari dan ke bandara komersial itu nantinya.

Pertemuan dihadiri oleh Bupati Waykanan, Asisten II Waykanan, Bappeda Waykanan, Kadishub Prov Lampung, Asisten II Oku Timur, UPT Bandara Raden Inten II, Dishub Oku Timur, Lanudad, Skadron 12 Serbu, dan undangan lainnya.

Kini, upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk memanfaatkan Lanudad Gatot Subroto menjadi bandara komersial hanya menunggu waktu. Pergerakan roda perekonomian setempat dan daerah sekitarnya diprediksi akan berputar.

Tinggal, bagaimanan kesiapan masyarakat setempat menyambut perkembangan yang cukup besar tersebut setelah isolasi transportasi udara nanti terbuka dengan beroperasinya bandara komersial tersebut.*


Baca juga: Menhub nilai Lanudad Gatot Subroto pemenuhi standar komersial


 

Pewarta: Triono Subagyo dan Emir
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar