Pertarungan ideologi dalam kisah remaja Rudolf Nureyev "The White Crow"

Pertarungan ideologi dalam kisah remaja Rudolf Nureyev "The White Crow"

Ralph Fiennes dalam jumpa pers "The White Crow" di Festival Film Tokyo 2018, Sabtu (27/10). (ANTARA News/Alviansyah P)

Jakarta (ANTARA News) - Setelah "The Invisible Woman" dan "Coriolanus", aktor dan sutradara Inggris Ralph Fiennes merampungkan karya ketiganya sebagai film director melalui "The White Crow" yang tayang pada sesi kompetisi di Festival Film Tokyo 2018 (TIFF) hingga Sabtu (3/11).

Film itu diambil dari buku "Rudolf Nureyev: The Life" karya Julie Kavanagh, berkisah kehidupan masa muda dan pertarungan ideologi seorang seniman ballet Rusia, Rudolf Nureyev yang diperankan aktor 22 tahun Oleg Ivenko, saat meniti karir di Paris.

Cerita bermula saat Nureyev lahir di atas kereta yang melitas di wilayah Siberia yang bersalju pada 1938, kemudian menggambarkan cuplikan kehidupan masa kecil Nureyev yang pahit.

Dengan sentuhan sinematografi yang artistik, Ralph Fiennes menunjukkan potongan-potongan kehidupan Nureyev dengan latar pemandangan bersalju di permukiman hingga hutan di Rusia hingga Bosnia.

Cerita kemudian melompat saat Nureyev bersama tim ballet dari Rusia berlatih ke Paris pada 1961. Ralph Fiennes pun muncul sebagai sosok Alexander Pushkin yang menjadi mentor kelompok itu.

Baca juga: Ralph Fiennes berharap festival film jadi pesta ide kreatif

Berbeda dengan anak muda seusianya, Nureyev begitu rajin berlatih menari di salah satu ruangan hingga ia mengalami cedera.

Nureyev diperlihatkan sebagai sosok pemuda tekun, berani, berjiwa seni dan keras kepala. Waktu-waktu luangnya dihabiskan berkeliling museum di Paris, yang menjadi nilai tambah dari karya artistik Ralph Fiennes.

Suatu ketika, Nureyev bertemu Clara Saint (Adele Exarchopoulos) tunangan dari anak Menteri Kebudayaan Prancis. Clara merupakan sosok membosankan yang akhirnya menemani Nureyev ke beberapa tempat di Paris.

Namun, gerak-gerik Nureyev yang bertemu beberapa seniman di Paris membuat gerah pihak Rusia. Orang-orang yang mendampingi tim ballet itu pun memata-matai Nureyev. Ia juga kena teguran karena pulang larut malam, kendati teman-temannya tidak mendapatkan teguran meski pulang lebih larut.

Situasi semakin rumit saat Nureyev semakin sering berpergian, sementara pementasan ballet mereka semakin dekat.

Lantas bagaimana kiprah Nureyev dalam pementasan di Paris, dan bagaimana sikap Rusia terhadap seniman ballet mereka yang mulai nyaman dengan pertemanan dan suasana Kota Paris?

Baca juga: Rencana Ralph Fiennes setelah "The White Crow"

Secara umum, film ini kurang menonjolkan tensi dalam drama yang disuguhkan, kendati mata penonton akan menyaksikan pemandangan-pemandangan indah di Rusia, Bosnia, hingga sederet karya seni bersejarah dari ragam museum di Paris.

Film ini menggunakan tiga bahasa, Rusia, Prancis dan Inggris, serta menampilkan aksi Ralph Fiennes yang begitu fasih bertutur bahasa Rusia.

"Saya tidak lancar, tapi bisa sedikit. Saya belajar dari teks juga dari penerjemah," kata Fiennes saat menjelaskan pembuatan film ini seusai penayangan film di EX Theater Roppongi, Tokyo, Sabtu (27/10) malam.

Pemeran Gareth Mallory dalam "Skyfall" itu mengatakan bahwa "The White Crow" menggambarkan banyak aspek kehidupan selain seni.

"Ketika saya menemukan ceritanya, saya langsung berpikir bahwa sikap membelot (Nureyev), dan masa mudanya yang mengarah ke sana, akan membuat film ini menarik, karena ia membawa begitu banyak tema, realisasi diri, kebebasan, dan dalam konteks Perang Dingin, ada konflik ideologis di sana," kata Ralph Fiennes.

Film berdurasi 122 menit yang didistribusikan Sony Pictures Classics itu sudah tayang di beberapa festival film Amerika, Eropa dan Asia.

Baca juga: Ralph Fiennes mau kunjungi Indonesia asalkan ada festival film

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar