Warga Mamasa masih trauma pascagempa beruntun

Warga Mamasa masih trauma pascagempa beruntun

Seorang pengungsi korban gempa dan pencairan tanah berada di tenda pengungsian di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (26/10/2018). Masa tanggap darurat bencana tahap kedua di Palu, Sigi dan Donggala berakhir pada 26 Oktober 2018 dan dilanjutkan dengan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana setelah melalui masa transisi. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/aww.

Mamuju (ANTARA News) - Warga Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, masih trauma pascagempa beruntun yang melanda kawasan itu sejak Sabtu (3/11) hingga Senin (5/11), meski kekuatannya tidak terlalu besar.

"Hingga tadi pagi, gempa masih terasa walaupun tidak terlalu besar tetapi karena warga terlanjur trauma sehingga kami tetap khawatir," ujar Tompo, warga Kabupaten Mamasa yang dihubungi dari Mamuju, Senin.

Ia mengatakan, sebagian warga masih takut tidur di dalam rumah dan memilih bertahan di tenda di ruang terbuka, akibat khawatir terjadi gempa susulan yang terjadi terus menerus.

"Hari ini, masih ada beberapa warga yang memasang tenda di Kantor KPU Mamasa karena khawatir akan terjadi gempa susulan. Saat terjadi guncangan yang cukup keras pada Sabtu (3/11), tidak ada warga yang berani menginap di dalam rumah dan terpaksa membangun tenda di samping rumah," tutur Tompo.

Apalagi, lanjutnya, guncangan gempa pada Sabtu (3/11) terjadi secara beruntun hingga menyebabkan beberapa rumah warga mengalami kerusakan.

"Pemerintah Kabupaten Mamasa melalui wakil bupati telah menyampaikan imbauan kepada warga agar tidak panik namun tetap waspada dan jika terjadi gempa agar segera mencari tempat aman, seperti tanah lapang dan jauh dari pohon-pohon besar serta menghindari tebing," ucapnya.

"Memang, di Kabupaten Mamasa jauh dari laut sehingga yang dikhawatirkan jika terjadi guncangan gempa yang cukup besar adalah bangunan ambruk dan longsor. Jadi, pada hari Sabtu itu (3/11) guncangan gempa terjadi sepanjang hari," terang Tompo.

Warga di Kabupaten Mamasa, tambahnya, juga tengah mempersiapkan diri jika terjadi gempa dengan menyimpan dokumen berharga.

"Saat ini, saya sedang menyiapkan dokumen-dokumen penting untuk disimpan di tempat yang aman dan mudah dijangkau sehingga jika terjadi apa-apa bisa langsung diselamatkan. Namun, kami berharap tidak ada lagi gempa," ujar Tompo.

Berdasarkan data BMKG, gempa yang melanda wilayah Kabupaten Mamasa pada Sabtu (3/11) berlangsung sejak pukul 10.30 Wita dengan kekuatan 4,7 magnitudo, kemudian pukul 13. 04 Wita dengan kekuatan 4,6 magnitudo dan terparah pada pukul 16.44 Wita dengan kekuatan 4,9 magnitudo serta pukul 17.09 Wita dengan kekuatan 3,7 magnitudo.

Gempa kembali terjadi pada Minggu (4/11) sekitar pukul 06.14 Wita dengan kekuatan 4,6 magnitudo selanjutnya pukul 09.30 Wita dengan kekuatan 3,2 magnitudo serta pukul 14. 08 dengan kekuatan 3,4 magnitudo.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulbar Darno Madjid, saat akan dikonfirmasi terkait dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa yang terjadi di Kabupaten Mamasa tersebut, tidak mengangkat telepon genggamnya.

Baca juga: 5.000 pengungsi Palu transit di Mamuju Sulbar
Baca juga: Warga Mamuju Sulbar juga trauma pascagempa

Pewarta:
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar