counter

Artikel

Jelajah bakau di negeri jiran

Jelajah bakau di negeri jiran

Kereta gantung Langkawi (Facebook/Langkawi SkyCab)

Aceh merupakan salah satu pasar untuk mewujudkan kunjungan wisata Malaysia pada tahun 2018, yakni sebanyak 26,1 juta wisatawan.
Pagi itu cuaca tidak begitu bersahabat. Hujan menyelimuti kawasan Jetty Tanjung Rhu, Langkawi Kedah, yang menjadi tempat mangkalnya boat jelajah hutan bakau/mangrove sungai Rhu dan Kilim.

Pelancong dari luar negeri dan termasuk peserta Mega Fam Tourism Malaysia dalam rangka forum pariwisata Indonesia, Malaysia dan Thailand (IMT-GT) Langkawi, terlihat telah bersiap-siap menyusuri hutan yang terawat apik di kawasan Utara Langkawi.

Sembari menunggu hujan, pramuwisata mengecek wisatawan yang akan ikut paket jelajah yang dibandrol dari harga 350 ringgit Malaysia sampai 500 ringgit Malaysia tersebut. Satu persatu wisatawan bergegas menuju boat yang telah menuggu para penumpang yang akan menjejal kawasan wisata alam, yang dijaga dan dipugar agar tetap asri oleh pemerintah setempat, kala hujan telah berhenti.

Budiman Ibrahim (60) warga Kampung Pasir, Langkawi Kedah, yang telah menunggu, menyapa satu persatu penumpang yang akan menjejal sungai dan laut Selat Malaka.

Perlahan-lahan boat yang dikemudikannya meninggalkan Jetty Rhu. Sepanjang perjalanan pria berkulit hitam yang mengenakan baju oblong kerah bergaris tersebut menjelaskan akan sejarah hutan bakau yang menjadi salah satu destinasi di negara jiran tersebut.

"Wisata hutan bakau saat ini banyak dikunjungi para pelancong, terutama dari Arab Saudi. Mereka banyak berlibur kesini pascaramadhan hingga lebaran Idul Adha," kata pria yang telah bekerja selama sepuluh tahun sebagai juru kemudi Jetty Rhu.

Ia menjelaskan hutan bakau yang menjadi salah satu destinasi pupuler di negeri dengan simbol elang tersebut bukan serta merta terjadi dengan sendirinya, tapi dibangun dengan mengeruk areal sungai termasuk juga membelah bukit (batu belah) menuju sungai lainnya.

Budiman yang awalnya bekerja sebagai nelayan terlihat sangat lihai menakhodai wisata menyusuri sungai yang dihimpit bakau yang umurnya ada seratusan tahun.

Sesekali, ia memperlambat laju kemudi seraya menjelaskan akan sejarah yang ada di hutan bakau yang menjadi salah satu destinasi bagi pelancong yang datang ke Langkawi, Kedah, Malaysia.

Ia menunjuk gunung gorilla yang saat dilihat dengan mata telajang mirip seperti gorilla. Penyebutan gunung gorilla tersebut tidak terlepas dari bentuk gunung tersebut saat dipandang dari kejauhan.

Selepas memperlihatkan gunung gorilla, ia kembali melanjutkan perjalannya menuju atraksi yang tidak kalah menarik lainnya yakni melihat atraksi elang liar yang menjadi simbol utama Langkawi.

Perlahan-lahan mesin dimantikannya, hal yang sama juga dilakukan oleh beberapa lainnya yang telah lebih dulu berada di kawasan sungai Rhu yang tak lain adalah untuk melihat atraksi elang.

Sesekali terlihat elang terbang dengan cepat menerkam ikan yang dilempar pramuwisata. Mereka berputar-putar di atas sungai Rhu seraya melihat mangsa yang ada di atas air.

"Ohhhh itu bukan elang Langkawi, elang coklat kemerahan. Yang di atas itu baru elang Langkawi," kata Budiman seraya menjelaskan saat seekor elang menerkam mangsa di atas air.

Pria yang telah sepuluh tahun menjadi kemudi pelancong Kilim Geoforest Park tersebut kembali melanjutkan perjalannya untuk memperlihatkan kawasan lainnya yang tidak kalah dengan atraksi elang.

Saat itu ia kembali memperkenalkan Pulau Bakar Arang, yang dulunya menjadi salah satu kawasan penghasil arang. Di sana ada monyet yang siap berenang dan menaiki boat jika disungguhkan makanan.

Lantaran rombongan Mega Fam Tourism Malaysia tidak membawa bekal makanan, Norman berinisiatif meminta makanan yang ada pada rombongan ?lainnya.

Saat makanan tersebut diberikan, seekor monyet langsung naik ke atas boat yang kami tumpangi tersebut. Ia terlihat rakus dan merampas makanan yang ada ditangan Norman dan salah satu peserta Wan Nur Asyikin Wan Azemim juga ikut mencoba memberi makan monyet penghuni hutan bakau tersebut.

Setelah bercengkrama dengan hewan penghuni bakau tersebut, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri hutan bakau dan rombongan diajak untuk melintasi gua buaya. Boat berjalan dengan pelan-pelan di bawah gua yang terlihat mirip seperti buaya.

Rombongan kembali menjelajah kawasan hijau yang terrawat dan dijaga dengan ketat oleh pemeritah setempat dengan menempelkan peringatan tegas berupa denda dan pidana bagi yang mencoba merusak hutan tersebut.

Peserta Mega Fam yang berasal dari Indonesia dan juga Malaysia kembali mendapat kesempatan untuk menjelajah gua kelelawar. Sebelum memasuki gua, para wisatawan akan menelusuri jalan setapak yang terbuat dari kayu di sepanjang hutan bakau. Jalanan ini terus tersambung hingga ke dalam gua dan para pelancong tidak akan tersesat.

Saat menjajal gua kelelawar tersebut, di pintu masuk setiap rombongan diberikan senter agar dapat melihat secara jelas kelelawar di dalam gua tersebut. Di dalam gua tersebut tamu tidak diperkenankan mengabadikan momen dengan menggunakan cahaya.

Dalam gua tersebut terdapat ribuan kelelawar yang bergantungan dan tentu menjadi sebuah petualangan yang tidak kalah menarik sebab para wisatawan berada di dalam gua yang gelap dan hanya terdengar suara kelelawar.

Untuk memberikan pengetahuan kepada para pelancong, ada beragam penjelasan yang ditempel terhadap spesies serta asal muasal adanya gua kelelawar yang menjadi salah satu destinasi menyusuri hutan bakau Langkawi.

Setelah menyusuri gua kelelawar dan menikmati berbagai pesona yang ada termasuk pohon bakau yang memagari jalan setapak yang ada di luar hutan kelelawar tersebut.

Para rombongan kembali melanjutkan perjalanannya ke sungai Kilim. Dalam setiap perjalanan menyusuri hutan bakau tersebut, para peserta selalu mengabadikan perjalanannya melalui ponsel pribadinya. Ada momen yang tak pernah dilewatkan adalah mengabadikan tulisan Kilim Geoforest Park.

Setelah mengabadikan momen tersebut, Budiman membagikan baju pelampung kepada penumpangnya, seraya berkata bahwa mereka akan menyusuri laut selat malaka yang berbatasan langsung Thailand untuk kembali ke Jetty Rhu. Budiman kembali memperlihatkan kepiawaiannya dalam menahkodai boat mengarungi selat malaka tersebut.

Para penumpang terlihat memengang erat-erat saat boat yang dikemudikan Budiman itu melaju kencang memecah ombak dan sesekali suara teriakan kegirangan keluar lepas yang seakan menguji ketangguhan peserta Mega Fam Tourism Malaysia tersebut.

Semua penumpang seakan menikmati dengan seksama akan pacu adrenalin yang ikut dibumbui penjelasan sejumlah pulau yang dilewati dan spot memancing di selat yang berhubungan langsung dengan Thailand tersebut.

Usai menguji adrenalin berselancar bersama boat yang dinakhodai Budiman tersebut, rombongan berkesempatan singgah di rumah makan terapung yang siap memberikan pengetahuan kepada tamu terhadap jenis ikan yang ada di daerah setempat.

Para tamu yang datang tidak hanya dapat mengenal ikan semata melalui para pemandu yang sudah disiapkan dan mampu berbicara dengan cakap akan bahasa asing.

"Ada sekitar 30 spesias ikan yang ada di dalam keramba jaring apung ini diantaranya pari, gerpoh dan kertang. Semua ikan di sini merupakan spesies yang ada di di kawasan Langkawi," kata Firdaus yang menjadi pemandu wisata di restoran terapung tersebut.

Restoran terapung yang kerap di sebut tempat ekspose ikan tersebut, menjadi akhir dari petualangan rombongan bersama Budiman, yang menjadi pemandu sekitar tiga jam melintasi wisata air yang ada di Utara Langkawi tersebut.

"Terima kasih atas kunjungannya, semoga kita bisa berjumpa kembali," sapa Budiman seraya mengakhiri perjumpaan yang telah berlangsung selama tiga jam tersebut.

Tak hanya sampai di hutan bakau, bagi pelancong yang ingin menghabiskan liburannya dengan konsep penginapan hijau, maka dapat mencoba di The Frangipani Langkawi Resort dan Spa.

Direktur The Frangipani Langkawi Resort dan Spa, Anthony Wong menyatakan hotel yang dimiliknya tersebut merupakan salah satu penginapan yang mengusung konsep hijau di negeri jiran tersebut.

"Kami mengusung konsep hijau di mana dalam setiap perkarangan penginapan kami menanam beragam pohon yang memiliki fungsi untuk memberi suasana sejuk bagi tamu termasuk pohon kamboja yang menjadi nama penginapan," katanya kepada rombongan.

Di sela-sela menunjukkan pengelolaan limbah dan juga kebun yang dimiliki termasuk ternak, Anthony menjelaskan beragam konsep yang diusung tersebut merupakan bagian untuk menjaga keberlanjutan usaha serta memberikan rasa nyaman kepada tamu yang datang untuk menghabiskan liburan bersama keluarga.

The Frangipani Resort dan Spa memiliki luas areal sekitar 10 hektare dengan kamar penginapan sebanyak 110 unit. Ada pun harga yang ditawarkan untuk setiap kamar tersebut berkisar dari 500 RM sampai 2.024 RM.




Sasar Aceh

Deputi Direktur Perencanaan, Tourism Malaysia Dato Mohmed Razip Hasan mengatakan Aceh merupakan salah satu pasar untuk mewujudkan kunjungan wisata Malaysia pada tahun 2018, yakni sebanyak 26,1 juta wisatawan.

"Kami terus berupaya meningkatkan promosi berbagai destinasi wisata yang ada di Malaysia secara umum dan Langkawai khususnya baik secara tradisional dan berbagai sarana promosi lainnya," katanya.

Ia menuturkan promosi wisata tersebut tentu akan terus digencarkan terhadap daerah-daerah yang memiliki kedekatan khusus dan memiliki budaya yang hampir sama, salah satunya Aceh.

Promosi ke daerah yang memiliki hubungan lebih dekat tersebut merupakan salah satu pangsa pasar yang sangat strategis dalam meningkatkan kunjungan wisata antara kedua daerah, sehingga memberikan dampak positif terhadap kunjungan wisatawan yang ada di Aceh khususnya dan juga Malaysia.

Beragam lokasi wisata yang di Aceh khususnya seperti Sabang dan juga Malaysia, yakni Langkawi menjadi sebuah destinasi yang layak untuk dikunjungi.*



Baca juga: Gajah, harimau di Langkawi dipindahkan

Baca juga: Ratusan turis terjebak di dalam kereta gantung Malaysia




 

 

Pewarta: M Ifdhal
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar