PBB kutuk serangan milisi terhadap rumah sakit di Tripoli, Libya

PBB kutuk serangan milisi terhadap rumah sakit di Tripoli, Libya

Perdana Menteri Libya Fayez Serraj, yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). (libyanexpress.com)

Tripoli, Libya (ANTARA News) - PBB pada Senin (5/11) mengutuk serangan oleh anggota milisi terhadap satu rumah sakit lokal di Ibu Kota lIbya, Tripoli, kata Misi Pendukung PBB di Libya (UNSMIL) di dalam satu pernyataan.

"PBB mengutuk serangan terhadap Rumah Sakit Jalaa untuk Perempuan dan Kebidanan di Tripoli oleh milisi. Para penyerang menembak seorang dokter dan mengancam keselamatan serta keamanan staf medis di rumah sakit itu, sehingga terjadi penghentian tiga-hari semua layanan medis bukan darurat," kata pernyataan tersebut.

Kelompok bersenjata membom rumah sakit, menyerang staf medis, menjarah obat, perlengkapan dan ambulans, dan bentrok di dalam rumah sakit, dengan segala kekebalan, kata pernyataan itu.

Sistem kesehatan Libya mengalami kekurangan sumber daya, dan serangan semacam itu mengancam nyawa pasien yang tak berdosa serta personel medis, tambah pernyataan tersebut, sebagaimana dilaporkan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa siang.

Baca juga: Pejabat keamanan Libya lolos dari upaya pembunuhan

Baca juga: AL Libya selamatkan 116 imigran gelap di lepas pantai


"PBB memperingatkan para pelaku bahwa serangan terhadap instalasi medis dan penyedia perawatan kesehatan dilarang berdasarkan Hukum Kemanusiaan Internasional dan mereka yang bertanggung-jawab harus diseret ke pengadilan atas apa yang mungkin menjadi kejahatan perang, berdasarkan Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional," demikian pernyataan tersebut memperingatkan.

Pada Kamis, UNSMIL menyatakan beberapa kelompok bersenjata baru-baru ini telah menggunakan kekuatan dan mengintimidasi lembaga pemerintah serta swasta di Tripoli dengan tujuan memperoleh akses ke sumber keuangan.

Libya telah mengalami perpecahan politik dan ketidak-amanan sejak jatuhnya pemimpin lama negeri itu Muammar Gaddafi pada 2011. Pemerintah berjuang untuk menerapkan kekuasaan di negeri tersebut, sementara banyak kelompok bersenjata beroperasi secara mandiri.

Editor: Chaidar Abdullah

Pewarta:
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar