Sudah di bawah Rp14.500, rupiah makin perkasa

Sudah di bawah Rp14.500, rupiah makin perkasa

Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA /Puspa Perwitasari)

Sentimen dari dalam negeri yang positif mendominasi arah pergerakan kurs rupiah
Jakarta (ANTARA News) - Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis sore ini kembali melanjutkan apresiasi sebesar 142 poin menjadi Rp14.452 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.594 per dolar AS.

"Sentimen dari dalam negeri yang positif mendominasi arah pergerakan kurs rupiah," kata analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, sentimen positif dari domestik yang menjadi perhatian pelaku pasar diantaranya membaiknya cadangan devisa, pembatasan impor, dan mulai diberlakukannya transaksi domestic non-deliverable forward (DNDF).

"DNDF merupakan salah satu instrumen lindung nilai bagi pelaku usaha, instrumen itu juga untuk mendukung upaya meningkatkan stabilitas nilai tukar rupiah," katanya

Di sisi lain, lanjut dia, kenaikan kurs rupiah juga dipengaruhi sentimen hasil pemilu sela kongres Amerika Serikat dimenangkan Partai Demokrat.

Situasi itu membuat sebagain pelaku pasar khawatir karena langkah-langkah stimulus fiskal pemerintah AS dapat terhambat.

"Pasar merespon dengan mengurangi permintaan atas aset dolar AS sehingga mendorong pelemahan kurs. Tentunya kondisi itu juga memberikan kesempatan pada rupiah untuk dapat bergerak positif," katanya.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan langkah Bank Indonesia yang menguatkan bantalan valuta asing melalui bilateral currency swap dengan Monetary Authority of Singapore (MAS) senilai 10 miliar dolar AS turut menjadi penopang rupiah.

"Itu juga menambah keyakinan terhadap rupiah," katanya.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis, tercatat mata uang rupiah menguat menjadi Rp14.651 dibanding sebelumnya (7/10) di posisi Rp14.764 per dolar AS.

Baca juga: Pergerakan rupiah tertahan setelah penguatan tajam
 

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar