WCCE rumuskan 21 poin Bali Agenda for Creative Economy

WCCE rumuskan 21 poin Bali Agenda for Creative Economy

Pengunjung mengamati perajin yang menenun kain di stan pameran CreatiVillage World Conference on Creative Economy (WCCE) di Nusa Dua, Bali, Selasa (6/11/2018). (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Terdapat empat faktor yang melandasi 21 poin tersebut

Nusa Dua (ANTARA News) - Konferensi Ekonomi Kreatif Dunia atau World Conference on Creative Economy (WCCE) 2018, menghasilkan 21 poin yang telah disepakati oleh para delegasi dari 36 negara.

"Terdapat empat faktor yang melandasi 21 poin tersebut, pertama kolaborasi dan kolektifitas dari forum Friend on Creative Economy dan kedua mendukung pembangunan ekosistem," kata Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Ricky Pesik di Nusa Dua, Bali, Kamis.

Ketiga, lanjutnya, Perayaan, Promosi, Pemberdayaan SDG's, Warisan Kebudayaan, dan Keberagaman. Terakhir, Pertemuan WCCE berikutnya.

Adapun 21 poin Bali Agenda for Creative Economy tersebut yakni dalam hal Kolaborasi dan Perilaku Kolektif Friends of the Creative Economy meliputi:

1. Mempromosikan komitmen politik internasional yang lebih kuat untuk mengatasi tantangan dan merebut peluang Ekonomi Kreatif;

2. Mempromosikan keterlibatan organisasi internasional yang relevan termasuk tetapi tidak terbatas pada PBB, WIPO, WTO, IDB, ASEAN serta organisasi internasional dan regional lainnya untuk mengatasi tantangan Ekonomi Kreatif;

3. Mendukung dan mengembangkan lingkungan yang mendukung dan memudahkan untuk mengakomodasi pertumbuhan pasar lokal dan internasional dan merek lokal di sektor kreatif;

4. Berkomitmen untuk memperkuat peran pemerintah, sektor swasta, media, masyarakat sipil, business council, dan akademisi dalam Ekonomi Kreatif;

5. Memperhatikan hasil Preparatoy Meeting Pertama dan Kedua World Conference on Creative Economy sebagaimana terlampir;

6. Menyambut inisiatif Indonesia untuk menetapkan, pada saat yang tepat, pusat virtual dan/atau fisik yang mempromosikan pertukaran, kolaborasi, dan kerja sama internasional dalam bidang ekonomi kreatif di Indonesia yang akan membantu kemajuan tujuan ekonomi kreatif di tingkat global dan pencapaian Sustainable DevelopmentGoals;

7. Melakukan berbagai kegiatan untuk memfasilitasi usaha dan proyek baru, seperti studi kelayakan, untuk mendorong kolaborasi start-up di tingkat nasional dan internasional;

8. Mempromosikan partisipasi penuh dari sektor swasta dalam semua aspek perencanaan dan implementasi ekonomi kreatif, dengan kesadaran bahwa bahwa kemitraan publik-swasta adalah unsur penting dalam mencapai nilai sosial dan manfaat penuh dari ekonomi kreatif;

9. Meningkatkan kolaborasi di antara berbagai pemangku kepentingan termasuk sektor swasta, pencipta, lembaga pemerintahan dan pendidikan, tidak hanya untuk manfaat ekonomi tetapi juga untuk meningkatkan ketahanan budaya dan membangun identitas nasional;

10. Melanjutkan promosi diskusi dan pertukaran di antara berbagai pemangku kepentingan di berbagai forum dan level, seperti dalam forum Friends of the Creative Economy;

Kemudian, dalam hal Mendukung Pengembangan Ekosistem, meliputi:

11. Membina perkembangan e-commerce dan kekayaan intelektual sebagai alat untuk mendorong pertumbuhan, untuk mengurangi kesenjangan digital dan menghasilkan solusi digital untuk Negara Berkembang dan Kurang Berkembang (LDCs);

12. Mempromosikan peran perempuan dan pemuda dalam Ekonomi Kreatif dan partisipasi mereka dalam pengembangan, antara lain, UKM, start-up, dan industri hiburan, yang membantu meningkatkan kohesi sosial dan dampak sosial;

13. Mendukung peraturan yang diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan, aman dan terlindungi untuk Ekonomi Kreatif, terutama untuk menjamin inklusifitas ekonomi kreatif dan untuk mendukung UKM;

14. Mendukung lingkungan yang memudahkan yang mempromosikan inovasi, komersialisasi dan perlindungan kekayaan intelektual serta program untuk meningkatkan kesadaran publik dalam konteks ekonomi kreatif;

15. Mendorong regulasi di sektor kreatif untuk menyediakan data yang tanpa batas sekaligus menangani masalah privasi data.Regulasi tersebut juga harus mempertimbangkan kepentingan nasional tanpa mengabaikan kebutuhan untuk menstimulasi ekonomi kreatif;

16. Mendukung dan mengembangkan kebijakan untuk meningkatkan pendidikan dan pelatihan kejuruan, akses terhadap informasi, teknologi, pembiayaan, dan lingkungan yang memudahkan jalannya usaha dalam sektor UKM bidang ekonomi kreatif untuk menciptakan nilai tambah dalam produk dan layanan;

Selanjutnya, terkait Perayaan, Promosi, dan Pemberdayaan SDGs, Warisan Budaya dan Keberagaman, yakni:

17. Mendukung ekonomi kreatif sebagai sarana penting untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) dan Agenda 2030;

18. Melakukan kegiatan untuk memperkuat akar budaya warga melalui keterlibatan dan kerja sama pemerintah dan organisasi internasional untuk menyediakan bantuan teknis dan pembangunan kapasitas;

19. Mempromosikan kreativitas sebagai "mata uang baru", sekaligus mengakui pentingnya peran budaya bagi kreativitas seniman dalam mengembangkan ekonomi lokal dan pedesaan dan memanfaatkan warisan dan keragamannya yang kaya;

20. Memanfaatkan keberadaan ruang pasar global, termasuk munculnya pasar jejaring sosial, untuk mempromosikan pemasaran produk dan layanan kreatif;

Kemudian, pertemuan WCCE Berikutnya yaitu:

21. Didorong oleh hasil WCCE Pertama, setuju untuk merencanakan dan mendukung pelaksanaan WCCE berikutnya pada tahun 2020 di Uni Emirat Arab. Baca juga: Triawan Munaf: WCCE 2020 digelar di Dubai

Baca juga: Tekanan ekonomi global tak pengaruhi pasar online

Baca juga: Kedai kopi Indonesia ekspansi ke Singapura


 


 

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar