Artikel

Cengkih Afo suguhkan suasana Ternate masa lampau

Cengkih Afo suguhkan suasana Ternate masa lampau

Ilustrasi Cengkih Afo. (istimewa)

Saat tamu berkunjung ke objek wisata Cengkih Afo di Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara (Malut), akan terlihat suasana seperti kondisi Ternate pada masa lampau.

Suasana itu di antaranya tergambar dari bangunannya, yang semuanya didesain secara tradisional dan menggunakan bahan lokal, seperti dinding dan lantainya dari bambu china dan atapnya dari daun katu atau daun sagu.

Kuliner yang disajikan di objek wisata Cengkih Afo, umumnya kuliner tradisional yang dimasak dengan cara dimasukkan dalam bambu kemudian dibakar hingga matang, sama seperti yang dilakukan masyarakat Ternate pada masa lampau.

Peralatan makan yang digunakan di objek wisata itu, dari batok kelapa yang didesain sedemikian rupa, sehingga menyerupai piring, gelas, dan sendok, sementara untuk tempat buah-buahan memanfaatkan anyaman bambu atau daun pandan hutan.

Salah seorang wisatawan asal Jakarta bernama Handoko melukiskan objek wisata Cengkih Afo itu sebagai pintu lorong waktu yang mengantarkan para pengunjung untuk melihat dan menikmati suasana pada suatu masa ketika Ternate belum tersentuh peradaban modern.

Salah satu kuliner tradisional di objek wisata itu, yang banyak diminati pengunjung adalah nasi jaha dari bahan beras ketan, yang dulunya merupakan makanan para sultan dan bangsawan di Kesultanan Ternate.

Kopi rempah juga menjadi minuman yang banyak dipesan para pengunjung, karena minuman dari campuran kopi hitam dan rempah-rempah, seperti jahe, cengkih, kayu manis dan pala ini di percaya sebagai obat herbal.

Salah seorang wisatawan asal Surabaya, Tofian, mengaku sudah banyak mengunjungi objek wisata dan menikmati kuliner tradisional di berbagai daerah di Indonesia, tetapi kuliner yang ada di objek wisata Cengkih Afo itu rasanya sangat khas dan sulit dilupakan sampai kapan pun.

Suasana masa lampau di objek wisata yang terletak di lereng Gunung Gamalama itu, juga diperkuat dengan pemandangan sekitarnya, berupa hamparan perkebunan cengkih dan pala, tanaman rempah yang dikembangkan petani setempat sejak ratusan tahun silam.

Bangsa-bangsa Eropa, seperti Portugis, Spanyol dan Belanda datang ke Ternate pada abad ke-15, karena tertarik dengan keberadaan tanaman rempah itu, yang kemudian mendorong mereka untuk menguasainya dengan cara memerangi pengusaha Ternate pada saat itu.

Jejak sejarah bangsa-bangsa Eropa saat menguasai Ternate, masih bisa disaksikan di daerah ini, di antaranya berupa sembilan buah benteng, seperti Benteng Oranje, yang dibangun Belanda dan Benteng Kastela yang dibangun Portugis.

Cengkih Tertua

Berkunjung ke objek wisata yang hanya sekitar 4 km dari pusat kota Ternate itu, akan menyaksikan pula cengkih tertua di dunia yang dikenal dengan nama Cengkih Afo.

Cengkih Afo di objek wisata itu, ada sembilan pohon, satu pohon di antaranya yang berusia 500 tahun lebih sudah mati sejak tahun 1980-an, tetapi lubang tanah bekas pohon itu masih dapat disaksikan.

Sedangkan delapan pohon Cengkih Afo lainnya, tiga pohon di antaranya berusia 400 tahun lebih dan lima pohon cengkih lainnya berusia 300 tahun lebih, kini masih hidup dan berbuah setiap tahunnya.

Sejarah keberadaan Cengkih Afo, seperti yang dituturkan Hamdal (60), generasi ke sembilan dari petani yang menanam cengkih itu, bermula ketika Belanda ingin menghilangkan cengkih di Ternate dan menggantinya dengan pala.

Siasat Belanda untuk mewujudkan keinginan itu, dilakukan dengan cara memaksa petani menjual daun cengkihnya dengan harapan tanaman cengkih petani akan mati semua.

Tetapi siasat itu gagal, karena cengkih petani yang sudah diambil daunnya kembali tunas, sehingga Belanda menggunakan siasaat lain dengan cara memaksa petani untuk menjual akar pohon cengkihnya.

Siasat itu berhasil karena seluruh pohon cengkih petani di Ternate mati kecuali satu pohon cengkih kecil, yang disamarkan pemiliknya dengan cara dikelilingi dengan tanaman lain, di antaranya pohon afo, sehingga tidak terlihat oleh Belanda yang melakukan pengisiran di lapangan.

Sesuai cerita yang diperoleh Hamdal secara turun temurun dari leluhurnya, pohon cengkih itu lah yang kini tersisa lubang tanah bekas pohonya di kawasan objek wisata Cengkih Afo atau yang mati pada 1980-an.

Sedangkan delapan pohon Cengkih Afo yang kini masih hidup merupakan turunan dari cengkih yang sudah mati tersebut, yang turunan lainnya juga telah menyebar ke seluruh wilayah lainnya di Malut dan di daerah lainnya di Indonesia.

Di kawasan objek wisata Cengkih Afo tersebut, juga ada pohon pala yang sudah berusia lebih dari 300 tahun dan diperkirakan merupakan pala tertua di dunia, namun sejarah keberadaannya tidak jelas.

Pemkot Ternate, kini tengah membangun akses jalan menuju ke pohon cengkih afo tersebut, karena selama ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki, sehingga menyulitkan para pengunjung yang ingin melihatnya, karena jalannya berupa jalan setapak dan menanjak.

 

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar