Pemerintah-ormas Islam capai kesepakatan soal bendera tauhid

Pemerintah-ormas Islam capai kesepakatan soal bendera tauhid

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

ini ada kesalahpahaman yang tidak lagi boleh terjadi pada masa ke depan
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan perwakilan pemerintah dengan pemimpin ormas Islam mencapai kesepakatan dalam dialog tentang peristiwa pembakaran bendera bertulisan kalimat tauhid di Garut.

"Kita sangat bahagia terjadi kesepakatan, bahwa ini ada kesalahpahaman yang tidak lagi boleh terjadi pada masa ke depan nantinya," kata Wiranto usai dialog dengan pemimpin ormas Islam di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta, Jumat.

Dalam kejadian pembakaran bendera bertulisan kalimat tauhid di Garut, Jawa Barat, ia menjelaskan, pembawa bendera dan pembakarnya menganggap bendera yang dibakar adalah bendera organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang telah dibubarkan dan dalam konteks hukum bendera tersebut merupakan bendera HTI. Sementara dalam konteks agama, bendera tersebut adalah bendera tauhid yang tidak boleh dibakar.

"Semua menyadari semua permasalahan itu sehingga kesimpulannya adalah bahwa semua sudah menerima apa yang sudah diselesaikan, baik penyelesaian hukum mau pun penyelesaian organisasi di mana oknum yang terlibat di masalah itu," kata Wiranto.

Ia mengatakan seluruh umat Islam Indonesia harus ikut bersama-sama dengan aparat menjaga stabilitas keamanan dan politik.

Dialog antara pemerintah dengan pemimpin organisasi massa Islam dihadiri oleh perwakilan dari PBNU, MUI, PP Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Syarikat Islam, GP Ansor, Persaudaraan Alumni 212, Polri, Badan Intelijen Negara, Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Baca juga:
Wiranto berdialog dengan pemimpin ormas Islam
Tiga terdakwa pembakaran bendera dihukum 10 hari

Pewarta: Dyah Dwi Astuti
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar