Pengamanan "Surabaya Membara" 2019 harus diperketat

Pengamanan "Surabaya Membara" 2019 harus diperketat

Gubernur Jawa Timur terpilih Khofifah Indar Parawansa. (ANTARA /Zabur Karuru)

Surabaya (ANTARA News) - Gubernur Jawa Timur terpilih Khofifah Indar Parawansa menyatakan pementasan drama kolosal "Surabaya Membara" tahun 2019 tetap diizinkan untuk kembali digelar dengan pengamanan yang menjamin keselamatan penonton lebih diperketat.

"Viaduk rel kereta api itu memang bukan tempat untuk menonton pertunjukan," katanya sembari menunjuk ke arah viaduk rel kereta api di Jalan Pahlawan Surabaya, Jumat malam, seusai menyaksikan drama kolosal "Surabaya Membara".

Dua orang penonton yang pada malam itu hendak menyaksikan pertunjukan dari atas viaduk rel kereta api di Jalan Pahlawan Surabaya meninggal dunia, setelah tiba-tiba kereta api melintas, hanya sesaat menjelang pertunjukan berlangsung.

Enam korban lainnya mengalami luka-luka setelah memilih menghindari kereta api dengan melompat dari viaduk setinggi enam meter tersebut.

Khofifah langsung memimpin doa di akhir pertunjukan yang ditujukan terhadap para korban penonton yang meninggal dunia.

"Mudah-mudahan khusnul khatimah, segala amalnya diterima dan dosa-dosanya diampuni," katanya, sembari membaca "Alfatehah", diikuti ribuan penonton lainnya.

Bagi Khofifah, pementasan drama kolosal "Surabaya Membara" yang telah berlangsung rutin selama delapan tahun terakhir dalam rangka memperingati Hari Pahlawan adalah pengingat memori sejarah perjuangan "Arek-arek Suroboyo" dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada 10 November 1945.

"Meski malam ini jatuh korban penonton hingga ada yang meninggal dunia, tahun depan dan seterusnya pentas drama kolosal Surabaya Membara harus tetap digelar. Tentunya dengan pengamanan yang menjamin keselamatan penonton dengan lebih diperketat lagi," ucapnya.

Baca juga: Polisi olah TKP jatuhnya penonton drama kolosal
Baca juga: Polisi selidiki kelalaian panitia pascatragedi "Surabaya Membara"
Baca juga: Drama kolosal "Surabaya Membara" tanpa izin
Baca juga: Round up - Drama kolosal itu jadi tragedi


 

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar