B2P2BPTH Yogyakarta hasilkan bibit kayu putih unggulan

B2P2BPTH Yogyakarta hasilkan bibit kayu putih unggulan

Peneliti Prastyono memegang botol yang berisi minyak kayu putih yang telah diekstrak di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta, Jumat (16/11/2018). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Yogyakarta (ANTARA News) - Balai Besar Penelitian dan Pengembangan  Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH)  Yogyakarta mendorong peningkatan produktivitas kayu putih di Indonesia dengan menghasilkan benih unggul kayu putih.

Kepala Bagian Umum Balitbang itu Priyo Kusumedi, Yogyakarta, Jumat mengatakan, dengan bibit unggul kayu putih yang dihasilkan maka produktivitas tanaman kayu putih bisa meningkat dengan angka rendemen yang lebih baik dibanding bibit yang sudah ada.

Sementara peneliti bidang pemuliaan tanaman dari balai itu, Prastyono, mengatakan sejak 1995, balai itu telah melakukan pemuliaan tanaman kayu putih untuk meningkatkan produktivitas biomassa dan rendeman minyaknya.

Dia mengatakan pihaknya telah melakukan seleksi dan persilangan tanaman, untuk mendapatkan benih unggul sehingga ditemukan pohon-pohon dengan rendeman minyak antara 1,25-2 persen, jauh di atas rendeman yang dihasilkan oleh penyulingan di Jawa dan Kepulauan Maluku yang masih berkisar 0,60-1 persen.

Ia mengungkapkan, karena kekurangan pasokan minyak kayu putih dalam negeri, pelaku industri mengimpor minyak substitusi yaitu minyak ekaliptus terutama dari China.  Bahkan ada salah satu kasus yang mencuat adalah minyak kayu putih yang dioplos dengan minyak terbantin untuk memperbanyak volume.

Belum Penuhi Pasar

Di sela kunjungan pihak Direktorat Lembaga Penelitian dan Pengembangan Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Pendidikan Tinggi  Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) ke balai itu, Priyo mengungkapkan, produksi minyak kayu putih nasional tidak lebih dari 600 ton tiap tahun atau belum dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri yang lebih dari 3.500 ton tiap tahun.

"Karena kekurangan pasokan ini, pelaku usaha mengimpor minyak ekaliptus sebagai minyak campuran," ujarnya.

Minyak ekaliptus tergolong dalam kelompok minyak atsiri yang sejenis dengan minyak kayu putih karena keduanya mengandung unsur 1,8 cineole.

Karena kekurangan pasokan itu, minyak kayu putih dijual di pasaran dengan komposisi sekitar 20 persen minyak kayu putih dan 80 persen campuran.

Harga minyak kayu putih di dalam negeri pada 2017 sebesar Rp240.000 per kilogram, sementara harganya meningkat dari waktu ke waktu.

Menurut dia, impor minyak ekaliptus tidak perlu dilakukan jika perkebunan kayu putih dan industri minyaknya dikembangkan secara komersial.

Dia mengatakan ada banyak lokasi di Indonesia bagian timur yang cocok untuk perkebunan kayu putih seperti di Desa Katupa di Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat yang tengah dibangun kebun kayu putih seluas 4.000 hektare.

Pada tahun 2016, B2P2BPTH Yogyakarta telah berhasil meraih penghargaan sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Pemuliaan Tanaman Hutan Tropis dari Kemenristekdikti.

Baca juga: WWF di Papua bantu warga pasarkan minyak kayu putih
Baca juga: IPB inovasi kayu putih menjadi permen anti-sariawan


 

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar