counter

Dolar melemah setelah komentar pejabat bank sentral AS

Dolar melemah setelah komentar pejabat bank sentral AS

Petugas menghitung pecahan dolar Amerika di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta (ANTARA/Sigid Kurniawan)

Anda telah melihat kecenderung dovish dari beberapa pejabat Fed
New York (ANTARA News) -  Kurs dolar AS melemah secara luas pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) setelah komentar hati-hati dua pejabat Federal Reserve AS(Fed) tentang pertumbuhan ekonomi global.

Sementara sterling berbalik naik menyusul kerugian terkait kekhawatiran tentang kesepakatan Brexit.

Greenback jatuh ke posisi terendah satu minggu terhadap euro dan terdalam dua minggu terhadap yen, menyusul komentar dari Wakil Ketua Federal Reserve Richard Clarida, yang mengatakan kepada televisi CNBC bahwa ia melihat beberapa bukti bahwa pertumbuhan global mendingin.

Clarida juga mencatat bahwa suku bunga pinjaman jangka pendek AS mendekati netral dan mengatakan kenaikan suku bunga lebih lanjut akan bergantung pada data ekonomi.

Para pedagang menganggap komentarnya berarti pejabat nomor dua The Fed itu mungkin terbuka bagi bank sentral AS itu untuk menunda kampanye kenaikan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

"Anda telah melihat kecenderung dovish dari beberapa pejabat Fed. Itu memberi tekanan pada dolar," kata Analis Investasi Senior di Manulife Asset Management di Boston, Chuck Tomes.

Secara terpisah, Presiden Federal Reserve Dallas Robert Kaplan mengatakan kepada Fox Business bahwa pertumbuhan global akan menjadi sedikit headwind yang dapat menyebar ke Amerika Serikat.

Pernyataan Clarida dan Kaplan mendorong penjualan dalam dolar AS jatuh 0,7 persen terhadap euro menjadi 1,141 dolar AS.

Terhadap yen, greenback turun 0,7 persen pada 112,82 yen.

Presiden The Fed Chicago Charles Evans mengakui beberapa risiko ekonomi ke depan, tetapi ia juga meningkatkan probabilitas The Fed dapat menaikkan suku di atas apa yang akan netral jika data AS datang lebih kuat dari perkiraan.

Dolar AS juga melemah terhadap sterling, membalikkan beberapa kenaikan hari sebelumnya.

Pound secara singkat pulih terhadap euro setelah hari terburuknya terhadap mata uang tunggal dalam sekitar 25 bulan, karena Perdana Menteri Inggris Theresa May meraih dukungan dari beberapa pendukung utama Brexit, dengan rencana rancangannya bagi Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa pada Maret.

Sejumlah menteri kabinet mengundurkan diri pada Kamis (16/11) sebagai protes atas persyaratan dalam proposal Brexit May. Pengunduran diri beberapa menteri tersebut mengirim pound terguncang.

Sterling terakhir naik 0,42 persen terhadap dolar AS pada 1,2829 dolar AS, tetapi turun 0,31 persen terhadap euro pada 88,945 pence.

Euro juga didukung oleh harapan bahwa Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte sedang mencari cara untuk bekerja dengan Uni Eropa atas anggaran pemerintah 2019, yang telah ditolak oleh Brussels.

Sementara itu, pedagang mata uang memonitor tanda-tanda bahwa Washington dan Beijing sedang berusaha untuk menurunkan ketegangan sengketa perdagangan mereka.

Presiden AS Trump mengatakan dia mungkin tidak akan mengenakan tarif lebih pada impor China jika China datang dengan syarat yang dia dan Beijing dapat sepakati.

Yuan dalam perdagangan luar negeri naik tipis 0,13 pada 6,92 per dolar AS. Demikian laporan yang dikutip dari Reuters.

Baca juga: Aksi jual saham produsen chip, Bursa Wall Street ditutup bervariasi

Baca juga: Harga emas naik berturut-turut, investor cari aset yang aman





 

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar