counter

Menjaga Manggarai

Menjaga Manggarai

Anies Baswedan dalam apel pasukan tanggap musim hujan DKI Jakarta di Lapangan Promoter Direktorat Lantas Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Jumat (16/11/2018). (Foti: Antara)

Jakarta (ANTARA News) - Musim hujan seperti ini adalah saat Rohmat bersama timnya harus bekerja keras dan harus pula selalu begadang setiap malam.

Begadangnya di pos penjagaan. Tetapi bukan di pos ronda untuk menjaga keamanan seperti layaknya sebuah pos keamanan.

Dia begadang di pos penjagaan pintu air Manggarai di Jakarta Selatan. Yang dijaga adalah aliran air di Sungai Ciliwung yang membelah Jakarta.

Sungai yang berhulu di daerah Bogor (Jawa Barat) itu bermuara di Teluk Jakarta. Aliran sungai inilah yang dianggap sebagai penyebab banjir di Jakarta di saat musim hujan seperti ini.

Hujan yang terjadi di Bogor berpengaruh langsung ke Jakarta. Ini karena air sungai itu mengalir ke teluk di Jakarta melintasi Kota Jakarta.

Itu pula yang melahirkan istilah banjir kiriman. Di musim hujan inilah tugas Romat memastikan aliran Ciliwung lancar sampai Teluk Jakarta.

Tetapi berdasarkan kenyataan selama ini--tampaknya benar-benar tidak mudah mewujudkan Jakarta bebas banjir karena hujan kecil saja debit aliran Ciliwung naik. Apalagi hujan lebat dan lama.

Itulah yang sedang dihadapi jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hari-hari ini. Satuan tugas dan tim penanggulangan bencana sedang serius-serius mengantisipasi banjir dengan segala daya dan upayanya.

Di sinilah tugas amat penting yang sedang dijalani jajaran pemerintah provinsi ini. Rohmat selaku Ketua Satuan Pelaksana Unit Pelaksana Kebersihan (UPK) Badan Air Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat berada dalam tugas itu.

Dia bersama rekan-rekannya wajib bersiaga saat memasuki musim hujan. Tugas utamanya menjaga kelancaran air Ciliwung yang melintasi pintu air Manggarai.

Luapan air di pintu air ini akan menyebabkan banjir di berbagai kawasan di Ibu Kota. Itulah sebabnya menjaga pintu air ini adalah tugas yang tidak bisa ditinggalkan.

Tugasnya terasa berat karena aliran Ciliwung tidak hanya air, tetapi juga sampah. Aliran air saja bisa membuat luapan, apalagi ditambah sampah.

Itulah sebabnya, kalau musim hujan seperti ini, bukan hanya dibutuhkan peralatan untuk memperlancar air saja, tetapi juga alat berat. Alat berat selalu siaga di pintu air ini.

Kalau di daerah lain ketersediaan alat berat seperti buldozer atau excavator disiagakan untuk mengantisipasi longsor, di Jakarta alat berat disiapkan untk mengangkat tumpukan sampah yang selalu mengalir bersama air di musim hujan ini. Itulah bedanya.

Kalau saja tidak ada alat berat, teramat banyaknya sampah yang menumpuk di pintu air ini. Itulah sebabnya alat berat ini digunakan untuk mengantisipasi agar sampah tidak menumpuk di Pintu Air Manggarai.

Rohmat beberapa hari lalu mengatakan petugas pintu air yang berada di aliran Sungai Ciliwung selalu memantau termasuk penjaga pintu air Manggarai selama 24 jam.

Kewajiban utamanya adalah memantau arus air terhambat atau tidak. Ada peningkatan debit airnya atau tidak.

Apapun perkembangannya wajib mengabarkannya kepada jajaran terkait. Pintu air Manggarai yang menjadi pintu air terakhir sebelum aliran sungai Ciliwung terpecah ke danau Istiqlal dan Kanal Banjir Barat menjadi pusat pengendalian aliran air Sungai Ciliwung dari hulu ke hilir di Teluk Jakarta.

Sebagai tempat terakhir sebelum percabangan Sungai Ciliwung, ternyata bukan hanya air dari kawasan hulu yang datang, namun juga berbagai macam sampah. Sebut saja batang pohon, plastik, styrofoam, kasur bahkan hingga kulkas bekas turut terbawa derasnya debit air saat hujan.

Akhirnya, Rohmat dan timnya harus rela kerja lembur atau begadang untuk membersihkan sampah tersebut demi aliran air yang bisa lancar dan tidak terhambat sampah. Hujan lebat pada Minggu malam lalu saja memjadikan  sampah langsung menggunung hingga diperkirakan mencapai ratusan ton.



 
Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Idham Azis (kanan) bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengecek kesiapan pasukan gabungan antisipasi banjir di Polda Metro Jaya, Jumat (16/11). (Taufik Ridwan/Antara)





Siaga Banjir

Kini setidaknya sebanyak 7.000 personel Polda Metro Jaya bersama TNI dan unsur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang Siaga 1 banjir. Mereka telah siap dikerahkan apabila terjadi banjir di wilayah Jakarta.

Polda Metro Jaya telah membentuk tim khusus untuk menghadapi banjir di Jakarta dan sekitarnya. Menurut Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Idham Azis, di Jakarta, Jumat (16/11), pada tingkat Polres dan pemerintah kota serta Kodim juga dikerahkan 13 satuan tugas.

Satuan tugas itu antara lain fokus pada setidaknya 30 titik lokasi yang teridentifikasi daerah rawan banjir dan genangan air hujan. Lokasi-lokasi itu tersebar di lima wilayah.

Untuk mengantisipasinya, Gubernrur DKI Anies Baswedan memastikan jajarannya akan bekerja keras. Jajarannya memeriksa kondisi saluran air secara rutin untuk memastikan tidak terjadi banjir maupun genangan.

Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta merinci 30 lokasi rawan genangan dan banjir itu, yakni empat titik di Jakarta Pusat, 13 titik di Jakarta Selatan, empat titik di Jakarta Timur, enam titik di Jakarta Barat dan tiga titik di Jakarta Utara.

Adapun berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) data daerah yang berpotensi banjir di Jakarta adalah:

Jakarta Barat: Kecamatan Cengkareng, Grogol Petamburan, Kali Deres, Kebon Jeruk, Kembangan, Pal Merah, Taman Sari.

Jakarta Pusat: Kecamatan Cempaka Putih, Gambir, Kemayoran, Menteng, Sawah Besar, Senen, Tanah Abang.

Jakarta Selatan: Kecamatan Cilandak, Jagakarsa, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, Pancoran, Pasar Minggu, Pesanggrahan, Setia Budi, Tebet.

Jakarta Timur: Kecamatan Cakung, Cipayung, Ciracas, Duren Sawit, Jatinegara, Kramat Jati, Makasar, Matraman, Pasar Rebo, Pulo Gadung.

Jakarta Utara: Kecamatan Cilincing, Kelapa Gading, Koja, Pademangan, Penjaringan, Tanjung Priok.


 
Pompa mobile disiagakan di Pintu Air Jayakarta, Jakarta Pusat. (ANTARA News/LPJA/Dwi Mediansyah)




Pompa Air

Untuk itu telah disiapkan 450 pompa air untuk mengantisipasi terjadinya banjir di titik-titik yang rawan itu karena sifatnya genangan atau kawasan yang lebih rendah. Pompa air sebanyak itu dalam kondisi siap untuk bekerja dengan baik.

Lokasi berisiko banjir di Jakarta ada lebih dari 30 titik yang memang sudah terdata sebagai titik rawan genangan. Bisa dikatakan lokasi-lokasi itu secara reguler setiap tahun terjadi genangan.

Namun sebetulnya kalau bicara soal risiko ada juga tempat-tempat lain yang biasanya tidak banjir pun bisa terjadi. Hal itu terjadi karena status "bukan langganan banjir" tersebut seakan terlena dan saluran air yang mengalir di sana tak terawat dan dipenuhi sampah hingga terjadilah banjir.

Karena itu, tempat-tempat seperti itulah yang juga harus dipastikan kebersihan saluran airnya. Anies menyampaikan tiga kunci dalam menangani masalah banjir di Jakarta yakni siaga, tanggap dan galang.

Siaga yang dimaksud adalah pada apel ini dilakukan untuk mengirimkan pesan kepada warga bahwa jajarannya dalam posisi siaga dan juga komponen lainnya menghadapi musim hujan harus direspon dengan cepat.

Kemudian untuk tanggap, begitu ada masalah maka bergerak dengan cepat, tidak menunggu masalah terakumulasi. Selanjutnya, perlu menggalang kekuatan yang ada, baik di unsur pemerintah maupun masyarakat. Dengan tiga kunci tersebut diharapkan banjir tertangani.

Apalagi BMKG menyebut musim hujan akan terjadi sampai Maret. Dalam waktu hingga Maret tahun depan itulah harus dilakukan langkah antisipasi secara rinci dan detil.

Ada empat instruksi gubernur terkait musim hujan dan antisipasi banjir. Pertama, mempercepat pembangunan drainase kemudian, pengerukan saluran-saluran air.

Kedua, menyiagakan pompa-pompa air pada titik-titik yang rawan banjir karena sifatnya genangan atau lebih rendah dan melakukan rekayasa lalu lintas di tempat-tempat yang rawan banjir.

Ketiga, menggiatkan sosialisasi di tempat-tempat pemukiman-pemukiman yang berpotensi terdampak banjir.

Dalam rangka meningkatkan kesigapan warga terhadap banjir, Pemprov DKI akan melakukan simulasi tanggap banjir mulai dari simulasi rekayasa lalu lintas sampai simulasi evakuasi dini bagi warga yang tinggal di tempat-tempat yang rawan banjir.

Kemudian memastikan kesiapan logistik khususnya masalah air bersih dan sanitasi di tempat-tempat yang berpotensi banjir.

Keempat, memastikan bahwa mekanisme penyaluran bantuan di berbagai tempat itu berlangsung dengan cepat dan tepat sasaran.



 
Lubang Sumur Biopori Personel TNI mengikuti pelatihan pembuatan lubang biopori atau resapan air di halaman Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Senin (11/8). Kegiatan untuk membekali keterampilan anggota TNI itu diharapkan nantinya bisa membantu masyarakat dalam membuat lubang resapan air guna mengurangi terjadinya banjir. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)



Biopori

Selain penanganan saat terjadi banjir, pengurangan dampak dan potensi banjir juga dilakukan. Misalnya, warga di Jakarta Utara dihimbau untuk membuat resapan atau biopori agar air terserap ke tanah secara cepat saat hujan.

Wali Kota Jakarta Utara Syamsuddin Lologau mengimbau warga untuk membuat biopori sebagai salah satu usaha mencegah banjir memasuki musim hujan. Dengan biopori air hujan bisa terserap ke dalam tanah.

Selain itu, tidak kalah pentingnya adalah warga harus meningkatkan perhatian kebersihan saluran air di sekitar rumah.

Banjir adalah konsekuensi dari curah hujan yang tinggi yang tidak terserap di bumi. Itulah pentingnya bagaimana membuat air hujan agar cepat terserap ke bumi, sementara permukaan tanah di Jakarta umum sudah tertutup semen dan bangunan.

Dicermati dari sifat dasarnya bahwa air selalu menetes ke bawah, maka banjir dan luapan disebabkan dari air yang tidak lancar mengalir ke wilayah yang lebih rendah. Maka inti penanganan luapan, genangan dan banjir adalah bagaimana membuat air mengalir secara cepat ke bawah.
Baca juga: Anies sebut lebih dari 30 titik di Jakarta berisiko banjir
Baca juga: Tanggul laut pencegah banjir rob DKI selesai pertengahan Desember



 

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar