counter

Industri manufaktur topang ekonomi Kepri

Industri manufaktur topang ekonomi Kepri

Karyawan Schneider Electric menggunakan teknologi "remote assistance" (tengah) dalam mendukung industri 4.0 sekaligus memudahkan serta mempercepat proses pekerjaan di pabrik Schneider Electric Batam, Jumat (16/11). (ANTARA News/Alviansyah P)

Jakarta (ANTARA News) - Industri manufaktur menjadi penopang perekonomian di Kepulauan Riau, karena memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor industri.

"Untuk itu, pemerintah terus mendorong wilayah tersebut menjadi tujuan investasi dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif. Industri pengolahan memberikan kontribusi paling besar hingga 36 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepri pada triwulan III tahun 2018," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melalui keterangannya di Jakarta, Minggu.

Airlangga menyampaian hal itu ketika menjadi narasumber seminar nasional bertema "Kebangkitan Ekonomi Batam - Provinsi Kepri untuk Industri Indonesia di Kota Batam.

Arlangga juga mencatat, perekonomian Provinsi Kepri pada triwulan III-2018 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp65,19 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp43,68 triliun.

Hal ini tidak terlepas dari peran Batam sebagai salah satu pusat kawasan industri. "Maka itu, kami mengajak kepada para pelaku industri dan investor di Batam untuk tetap optimistis menjalankan usahanya. Pemerintah telah memiliki solusi dan kebijakan strategis untuk menjadikan kawasan Batam semakin kompetitif," paparnya.

Apalagi, Batam berpeluang menjadi pusat pertumbuhan startup dengan adanya pengembangan Nongsa Digital Park. Upaya ini untuk merealisasikan Batam sebagai innovation hub serta mendukung implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

"Saat leadership retreat di Bali pada Oktober lalu, Pemerintah Indonesia dan Singapura menandatangani Bilateral Investment Treaty. Selain potensi investasi Singapura ke Batam akan semakin besar, juga membidik Batam sebagai 'digital bridge' Singapura ke Indonesia," imbuhnya.

Airlangga menambahkan, Indonesia ke depan diyakini bisa menjadi pusat pengembagan ekonomi digital. Kondisi tersebut akan mendukung visi Indonesia menjadi bagian dari 10 negara besar yang memiliki ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2030.

"Kami sedang menghitung, di tahun 2030, kita butuh 17 juta tenaga kerja yang punya literasi terhadap ekonomi digital," jelasnya.

Saat ini, industri manufaktur masih menjadi penopang utama perekonomian di Batam, dengan didukung pula sektor perdagangan dan jasa, serta konstruksi.

Perlahan namun pasti, industri lain juga mulai berkembang pesat di Batam. Di antaranya industri digital, pariwisata, dan MRO atau industri perawatan pesawat.

"Tentunya kami juga fokus pada pengembangan sektor lain, seperti industri galangan kapal (shipyard), offshore, termasuk migas," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani mengaku telah melihat perkembangan positif dari Batam. Pertumbuhan ekonomi yang saat ini sudah di angka 4,25 persen, jauh lebih tinggi dibanding 2017 lalu yang berada di bawah dua persen.

"Dengan tren yang bagus itu, kami berharap agar kebijakan yang ada harus disempurnakan. Begitu juga dengan koordinasi di tingkat daerah dan pusat yang harus berjalan harmonis. Dengan begitu, kawasan strategis seperti Batam dan kawasan industri lain bisa kembali dilirik investor," ujarnya.

Pewarta:
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar