counter

Diplomasi cokelat ala Indonesia dan Belgia

Diplomasi cokelat ala Indonesia dan Belgia

Salah satu stan di acara 'Taste of Belgium' di Jakarta, Sabtu (18/11) (Antara News/Aria Cindyara)

Jakarta (ANTARA News) – Pada hari Sabtu petang, kediaman Duta Besar Belgia untuk Indonesia, Stephane De Loecker disulap menjadi arena bazar, dengan menghadirkan berbagai hidangan kuliner ala Belgia.

Kedutaan Besar Kerajaan Belgia membawa sejumlah cita rasa kuliner khas negara tersebut dalam acara ‘Best of Belgium’ yang digelar di Jakarta, Sabtu petang.

Dengan mengusung tema ‘Taste of Belgium’, acara tahunan itu diadakan di kediaman Duta Besar Belgia untuk Indonesia, dan menghadirkan berbagai penganan asal Belgia, termasuk cokelat, kentang goreng Belgia dan wafel.    

Dalam acara ini, berbagai perusahaan kuliner berpartisipasi untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat Indonesia dan warga asing yang berdomisili di Jakarta.

Pengunjung tampak berdatangan dengan anggota keluarga untuk mencicipi berbagai hidangan ala belgia itu.

 

Salah satu stan di acara 'Taste of Belgium' di Jakarta, Sabtu (18/11) (Antara News/Aria Cindyara)

Tentu semua perusahaan yang berpartisipasi memiliki kaitan dengan kedua negara, termasuk cokelat Monggo,  merek cokelat premium Godiva, biskuit speculoos Lotus Biscoff, wafel mentega Julis Destrooper serta kentang goreng Mydibel.

Tak hanya mencicipi, para pengunjung juga dapat memperoleh informasi mengenai berbagai produk kuliner yang dipamerkan di acara itu. Salah satunya adalah cokelat Monggo yang diprakarsai oleh seorang warga negara Belgia Thierry Detournay yang tiba di Yogyakarta pada tahun 2001 lalu. Disana ia mulai meracik ramuan cokelatnya sendiri, karena menurutnya pada saat itu sulit untuk menemukan cokelat yang dapat disandingkan dengan cokelat yang biasa ia konsumsi di Belgia.

Setelah mendapatkan resep yang pas, ia pun mulai menjajakan cokelat buatannya ke teman-teman dekatnya, serta membuka stan kecil di depan gereja Kotabaru dan pasar akhir pecan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Antusiasme yang ia terima untuk cokelat buatannya akhirnya membuat Thierry memutuskan untuk membuat mereknya sendiri dan diberi nama ‘Monggo’.

Cokelat memang salah satu penganan yang paling dikenal dari Belgia, bahkan industrinya telah berkembang sejak abad ke-19. Kini, negara tersebut memproduksi berbagai variasi produk cokelat. Pertama ada praline yang berupa cangkang terbuat dari coklat dengan isian berbagai macam seperti nougat, caramel, kopi atau kacang-kacangan. Ada juga truffles yang biasanya berbentuk bulat dan sering diberikan isi ganache coklat, wafer atau kacang dan kopi.

Merek-merek cokelat terkenal asal Belgia seperti Godiva dan Leonidas juga seringkali membuat coklat dengan bentuk-bentuk yang mengikuti musim, seperti bentuk kelinci sekitar hari paskah, atau bentuk hati saat orang-orang merayakan hari ‘Valentine’.

Untuk menambah kemeriahan acara, Kedutaan Besar Belgia di Jakarta, bersama dengan Puratos Chocolates mengadakan sesi demonstrasi yang dapat dihadiri langsung oleh para pengunjung. Salah satunya demo pembuatan cokelat batangan. Adang Hendra, salah satu koki ahli dari Puratos menunjukkan cara pembuatan cokelat siap konsumsi dari mulai proses melelehkan hingga pendinginan.

Tak hanya itu, ia juga membagikan ilmu kepada para partisipan yang hadir, termasuk cara mengolah produk cokelat yang tepat serta cara memilih cokelat yang baik di pasaran.

Harga cokelat di pasaran sangat bervariasi, mulai dari cokelat yang dapat dibeli di supermarket, sampai cokelat impor mewah yang dipajang dalam etalase kaca di pusat perbelanjaan. Hal itu disebabkan oleh proses yang dilalui kakao sebelum dapat menjadi cokelat siap konsumsi. Setelah dipanen, kakao harus difermentasikan terlebih dahulu, lalu melalui proses roasting selebum akhirnya digiling. Setelah itu, bubuk kakao murni dicampur dengan massa cokelat serta gula.

“Carilah cokelat dengan kandungan kakao murni yang tinggi, karena itu artinya produk tersebut tidak mengandung terlalu banyak lemak nabati,” jelasnya kepada partisipan yang hadir.

 

Koki ahli Puratos Chocolates Adang Hendra usai memberikan demonstrasi pembuatan cokelat batangan di acara 'Taste of Belgium' di Jakarta, Sabtu (18/11) (Antara News/Aria Cindyara)

Adang juga menjelaskan bahwa tiga jenis cokelat yang paling populer di kalangan masyarakat memiliki kandungan yang berbeda-beda. Seperti varian cokelat ‘dark’ yang memiliki kandungan kakao murni paling tinggi, sehingga rasanya cenderung lebih pahit dibandingkan dengan yang lain. 

“Untuk ‘milk chocolate’, kandungan cokelat murni nya lebih sedikit, diimbangi dengan susu bubuk dan bahan-bahan lain,” jelasnya. 

Sedangkan untuk cokelat putih atau ‘white chocolate’, tidak ada kandungan bubuk kakao sama sekali di dalamnya. “Bahan utamanya hanya ada susu bubuk, massa kakao dan gula saja,” katanya lagi.


Profil rasa

Sama seperti biji kopi, cokelat juga bisa memiliki karakteristik rasa yang berbeda-beda. “Profil rasa dari biji cokelat bergantung pada lokasi dimana tanaman itu tumbuh. Kondisi tanah dan udara yang berbeda-beda mempengaruhi karakteristik rasa,” kata Adang.

Indonesia merupakan salah satu negara produsen kakao paling besar di dunia. Posisinya berada di nomor tiga, setelah Pantai Gading (Ivory Coast) di posisi satu dan Ghana di posisi kedua. Setelah Indonesia, Nigeria menempati posisi keempat sebagai produsen kakao terbesar di dunia, diikuti oleh Kamerun dan Brasil di posisi lima dan enam.

Di Belgia sendiri, industri cokelat telah menjadi bagian penting dari ekonomi dan kebudayaan. Banyak kedai-kedai cokelat kecil di pedesaan Belgia yang menjual cokelat dengan resep turunan keluarga, bahkan di kota besar seperti Brussels, Antwerp, Bruges dan Ghent. 

Terdapat sekitar 2.000 pembuat cokelat di Belgia, termasuk perusahaan besar dan usaha kecil. Setiap tahunnya, negara tersebut memproduksi 172.000 ton untuk konsumsi dalam negeri dan untuk di ekspor ke negara lain.

Baca juga: Tembok Besar China, Rasa Coklat
Baca juga: KitKat luncurkan varian rasa permen obat batuk

Pewarta: Aria Cindyara
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar