BPOM: Indonesia berpotensi memimpin pasar obat herbal

BPOM:   Indonesia berpotensi memimpin pasar obat herbal

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) Penny K Lukito (kiri) bersama Dirut PT Bio Farma (Persero) M Rahman Roestan (kanan) dan Dirjen Kerja Sama Multilateral Kemenlu Febrian A Ruddyard (tengah) memberikan keterangan pers jelang penyelenggaraan pertemuan NMRAs di Jakarta, Senin (19/11/2018).

Jakarta (ANTARA News) - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny Lukito mengatakan Indonesia berpotensi memimpin pasar obat herbal terutama di lingkungan negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) karena memiliki sediaan bahan baku yang besar.
   
"Upaya itu diinisiasi tahun ini agar membuat suatu forum bersama atau konsorsium untuk obat herbal berbahan alami," kata Penny di sela konferensi pers "The First Meeting of National Medicines Regulatory Authorities (NMRAs) from the Organization of Islamic Cooperation" di Jakarta, Senin.
   
Dia mengatakan obat herbal bisa menjadi alternatif bagi masyarakat global yang memberi jaminan kesehatan. Indonesia dapat unggul karena memiliki potensi keanekaragaman hayati yang bisa diolah menjadi produk herbal yang diminati pasar.
   
Berkaca dari kesuksesan China dan India dalam menggarap produk agar laku, Penny mengatakan Indonesia bisa meniru kisah sukses dua negara dalam memajukan industrinya dengan interaksi lintas sektor yang bersinergi.
   
BPOM sebagai regulator obat dan makanan di Indonesia, kata dia, telah menjalin nota kesepahaman dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi agar inovasi-inovasi dalam industri bisa dikapitalisasi dengan baik.
   
"Melalui nota kesepahaman ini, kami bersinergi untuk melakukan pengawalan penelitian dan pengembangan obat dan makanan di Indonesia serta membangun sinergi kebijakan nasional dan regulasi dalam pengembangan obat dan makanan sehingga hasil penelitian dapat dihilirisasi atau dikomersialisasi," kata dia.
   
Selain itu, Penny mengatakan pengembangan obat herbal agar mampu memenangi pasar harus dibarengi dengan kerja sama lintas sektor seperti unsur perguruan tinggi, pusat penelitian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian dan lainnya.
   
"Perlu agar suplai bahan bahan baku terjamin karena industri tidak bisa berkembang tanpa bahan baku untuk jamu dan obat herbal. Regulasi juga harus ada untuk memberi kepastian standar prosedur dan jaminan hukum," katanya.
   
embangun sektor industri obat herbal dalam negeri yang kuat, kata dia, juga harus dipayungi oleh konsorsium dengan pencanangan target dan monitoring pencapaian.
   
"Ini harapan kita untuk obat herbal itu potensinya besar sehingga kita bisa melangkah sehingga jadi produsen unggul. Beberapa industri butuh pendampingan di awal sehingga saat masuk bisa memproduksi obat herbal. Jika ada inovasi juga agar ada perusahaan dan investor tertarik," kata dia. 

Baca juga: Pengembangan obat herbal akan gunakan bahan biosintetis
Baca juga: BPOM: teknologi vaksin Indonesia unggul di kalangan OKI
Baca juga: Pemerintah dukung pengembangan riset obat herbal

Pewarta: Anom Prihantoro
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar