Bangkai ikan paus telan sampah di Wakatobi dikuburkan

Bangkai ikan paus telan sampah di Wakatobi dikuburkan

Ilustrasi bangkai paus terdampar (ANTARA /Ampelsa)

perut ikan paus tersebut berisi sampah dari berbagai jenis dengan berat total 5,9 kilogram.
Kendari (ANTARA News) - Ikan paus jenis Sperma (Physeter macrocephalus) penelan sampah seberat 5,9 kg yang terdampar dan menjadi bangkai di Perairan Pulau Kapota Resort Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara akan dikuburkan Selasa ini.

Kasubag TU Balai Taman Nasional Wakatobi Laode Ahyar ketika dihubungi dari Kendari, Selasa mengatakan, rencananya Selasa ini, bangkai ikan paus sepanjang 9,5 meter dan lebar 437 sentimeter akan dikuburkan.  "Penguburannya masih menunggu kesiapan tim," katanya.

Menurut dia, ikan paus itu ditemukan dalam kondisi sudah mati dan mulai membusuk oleh nelayan setempat yang akan melaut pada Senin (19/11) sekitar pukul 08.00 Wita.

Kepala Seksi Konservasi BKSDA Provinsi Sulawesi Tenggara, Darman yang dihubungi secara terpisah mengatakan, begitu mendapat laporan tersebut, tim dari BKSDA dan Dinas Kelautan dan Perikanan langsung ke lokasi untuk memastikan penyebab kematiannya.

Laode Ahyar mengatakan, dari hasil identifikasi isi perut ikan paus yang dilakukan di kampus Akademi Komunitas Perikanan dan Kelautan Wakatobi disebutkan bahwa perut ikan paus tersebut berisi sampah dari berbagai jenis dengan berat total 5,9 kilogram.

Sampah yang ada di dalam perut ikan paus tersebut, menurut dia, terdiri dari sampah gelas plastik 750 gram (115 buah), plastik keras 140 gram (19 buah), botol plastik 150 gram (4 buah), kantong plastik 260 gram (25 buah), serpihan kayu 740 gram (6 potong), sandal jepit 270 gram (2 buah), karung nilon 200 gram (1 potong), tali rafia 3.260 gram (lebih dari 1000 potong).

"Kalau ditotal sampah yang ada dalam perut ikan paus sperma tersebut 5,9 kilogram," katanya.

Baca juga: Paus jenis kepala melon terdampar di Kupang
Baca juga: Sampah plastik penuhi perut paus mati di Thailand
 

Pewarta: Hernawan Wahyudono
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar