counter

Pendapatan Freeport 2023 diproyeksikan mencapai 7,463 miliar dolar

Pendapatan Freeport 2023 diproyeksikan mencapai 7,463 miliar dolar

Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri), Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri) dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan (kanan), menyaksikan CEO Freeport McMoRan Richard Adkerson (ketiga kiri) dan Direktur Utama PT Inalum Budi Gunadi Sadikin menandatangani Sales and Purchase Agreement di Gedung Setjen Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (27/9/2018). PT Inalum (Persero) selaku holding BUMN pertambangan telah menandatangani Sales & Purchase Agreement (SPA) dengan PT Freeport-McMoRan Inc dan PT Rio Tinto Indonesia, dengan demikian jumlah saham PT Freeport Indonesia (PTFI) yang dimiliki PT Inalum akan naik dari 9,36 persen menjadi 51,23 persen. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/pras.

Jakarta, (ANTARA News) - Pendapatan PT Freeport Indonesia diproyeksikan mencapai angka tertinggi pada tahun 2023 sebesar 7,463 miliar dolar AS. 

Head of Corporate Communication and Government Relations Inalum Rendi Witular kepada AntaraNews di Jakarta, Selasa, mengatakan bahwa pendapatan Freeport tahun 2023 tersebut melampaui pendapatan pada tahun 2021 yang diperkirakan mencapai 5,121 miliar dolar AS.

Sebelumnya, perusahaan induk BUMN pertambangan Inalum menyatakan sudah mendapatkan dana pembelian 51 persen saham milik asing di Freeport Indonesia sebesar empat miliar dolar AS atau setara Rp58,4 triliun (kurs Rp14.600) dari hasil penerbitan obligasi global.

"Dana obligasi global sudah diperoleh. Dengan begitu kami sudah siap melakukan transaksi dengan Freeport," kata Rendi. 

Ia menjelaskan, dana hasil obligasi tersebut akan digunakan untuk membiayai transaksi pembelian saham mayoritas Freeport dan sisanya untuk refinancing.

Hingga kini,  langkah selanjutnya adalah menunggu selesainya dokumen di kementerian terkait lainnya, meliputi IUPK di Kementerian ESDM dan terkait perpajakan dan jaminan investasi di Kementerian Keuangan.

Global bond yang diterbitkan Inalum merupakan yang pertama. Ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap Inalum dan kondisi ekonomi nasional.

Dalam penerbitan global bond tersebut, tidak ada yang digadaikan, dan tidak ada aset yang dijaminkan. 

Berdasarkan data yang diterima Antara, obligasi tersebut memiliki empat tenor, yakni tiga tahun dengan nilai emisi 1 miliar dolar AS dengan kupon 5,230 persen, tenor lima tahun senilai 1,25 miliar dolar AS dengan kupon 5,710 persen, tenor 10 tahun senilai 1 miliar dolar AS dengan kupon 6,530 persen, dan tenor 30 tahun senilai 750 juta dolar AS dengan tingkat kupon 6,757 persen.

Pada saat penawaran obligasi global mengalami oversubscribe (kelebihan permintaan). Untuk obligasi dengan tenor tiga tahun, kelebihan permintaannya mencapai 4,1 miliar dolar, untuk tenor lima tahun oversubscribe mencapai 5,5 miliar dolar, untuk tenor 10 tahun, mengalami oversubcribe mencapai 7,1 miliar dolar, dan untuk tenor 30 tahun kelebihan permintaan mencapai 3,7 miliar dolar AS.

Baca juga: Inalum sebut puncak pendapatan Freeport terjadi pada 2021 senilai Rp133,2 triliun

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar