counter

Botol plastik hingga sandal jepit ada di perut paus yang terdampar di Wakatobi

Botol plastik hingga sandal jepit ada di perut paus yang terdampar di Wakatobi

Arsip Foto. Warga berkerumun di sekitar bangkai Paus Sperma di perairan Bombana, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Jumat (2/2/2018). (ANTARA FOTO/Jojon)

Jakarta (ANTARA News) - Beberapa macam sampah plastik termasuk botol plastik dan sandal jepit yang seluruhnya berbobot 5,9 kilogram ditemukan di dalam perut bangkai ikan paus sperma (Physeter macrocephalus) yang terdampar di Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
 
Paus sperma dengan panjang sekitar 9,5 meter dan lebar 437 centimeter yang bangkainya ditemukan terdampar di Pulau Kapota dalam kondisi sudah membusuk pada Minggu (18/11) itu mengandung aneka macam sampah plastik di dalam perutnya.

Menurut investigasi bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Wakatobi, Balai Taman Nasional Wakatobi, Badan Promosi Pariwisata Daerah, Akademi Kelautan dan Perikanan Wakatobi, WWF, dan masyarakat setempat, sampah plastik di dalam perut satwa malang itu meliputi 19 plastik keras seberat 140 gram, empat botol plastik seberat 150 gram, 25 kantong plastik seberat 260 gram, dua sandal jepit seberat 270 gram, 115 gelas plastik seberat 750 gram, serta didominasi tali rafia seberat 3,26 kilogram.

Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi Heri Santoso dalam pernyataan tertulisnya pada Rabu menjelaskan bangkai paus itu sudah ditarik dari laut ke lokasi penguburan di Pantai Watululu menggunakan kapal cepat Pos TNI AL (POSAL) Wakatobi dan selanjutnya kurang lebih 50 orang menarik bangkai paus ke dalam lubang yang telah disiapkan.

Bangkai satwa malang itu dikubur di lubang dengan panjang 10 meter, lebar dua meter dan kedalaman 80 centimeter di pesisir Desa Kapota Utara.

"Untuk memudahkan disepakati bangkai paus dibagi dua bagian yaitu badan dan kepala karena tidak memungkinkan jika ditarik sekaligus masuk ke dalam lubang. Kemudian bangkai ditimbun dengan pasir," kata Heri.

Penguburan bangkai paus dilakukan untuk menghindari dampak negatif bagi lingkungan perairan dan masyarakat sekitar lokasi; serta menjaga rangka tulangnya tetap utuh.

"Rencananya rangka tersebut akan dijadikan spesimen oleh kampus AKKP Wakatobi sebagai bahan edukasi dan penelitian. Guna keamanan, kami juga membuat tanggul karung berisi pasir mengelilingi titik penimbunan bangkai," ujar Heri.

Baca juga: Bangkai ikan paus telan sampah di Wakatobi dikuburkan
 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar