Menag sayangkan maraknya fenomena tebar kebencian

Menag sayangkan maraknya fenomena tebar kebencian

Presiden Jokowi menghampiri anak-anak yang hadir dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H di Istana Bogor, Rabu (21/11/2018) malam. Foto ANTARA News (Agus Salim)

Patut disayangkan adanya fenomena tebar kebencian kini justru mulai mendera dan merasuk ke dalam tubuh sebagian saudara kita dengan berbagai kemasan
Bogor (ANTARA News)  - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyayangkan maraknya fenomena tebar kebencian yang merasuk ke sebagian warga di Indonesia. 

"Patut disayangkan adanya fenomena tebar kebencian kini justru mulai mendera dan merasuk ke dalam tubuh sebagian saudara kita dengan berbagai kemasan," kata Menag dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Bogor,  Rabu malam. 

Ia menyebutkan tebar kebencian itu ada kalanya berbungkus agama,  politik,  ras,  suku dan lain sebagainya.  

"Tidak jarang kebencian berlabelkan agama ditebar melalui mimbar keagamaan,  melalui suara keras para pengkhotbah yang penuh kecaman murka dan ungkapan marah," katanya. 

Menurut dia,  mimbar keagamaan telah beralih dari semula sebagai tempat menyebarkan pesan kedamaian menjadi media tebar kebencian teutama kepada mereka yang berbeda paham keagamaan atau keyakinan

Pada awal sambutannya Menag mengatakan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada hakikatnya merupakan ikhtiar ekspressi rasa syukur,  gembira dan cinta karena jasa besar Sang Nabi untuk manusia dan kemanusiaan.

Rasa cinta akan memberikan energi positif untuk mengikuti jejak langkah orang yang dicintai. Cinta  itu pula yang akan meleburkan pencinta dan yang dicinta dalam kebersamaan. 

Baca juga: Jokowi: mari hijrah ke ujaran kebenaran

Ia menyebutkan banyak ahli mengkaji salah satu kunci kesuskesan dakwah Nabi Muhammad adalah kepemimpinannya yang berlandasakan cinta kepada sesama,  penuh kasih sayang dan lemah lembut dalam bingkai semangat persudaraan. 

Sifat lembut, lanjut dia, bukan pertanda lemah,  justru di situ tersimpan kekuatan. Sifat lemah lembut melahirkan simpati sehingga orang akan mendekat dan merapat kepadanya. 

Sifat lembah lembut dan kasih sayang Nabi menjadi magnet bagi banyak orang. Kepemimpinan Rasullah SAW memberikan keteladanan bahwa pemimpin penuh kasih dan kelembutan akan melebur bersama rakyatnya dan menjadi besar dan kuat. 

Menag kemudian mengajak hadirin merenungkan seorang  muslimah yang dikisahkan Rasullah SAW akan masuk neraka karena mengurung seekor kucing dan tidak memberinya makan sampai mati dalam kandang. 

Sebaliknya seorang wanita nakal dikisahkan masuk surga setelah diampuni Allah berkat rasa iba karena rasa sayang dalam dirinya sehingga dia mau memberi minum seekor anjing yang kehausan. 

"Rasa kebinatangan saja bisa mengantarkan seseorang masuk ke surga apalagi rasa kemanusiaan sebagaimana diteladankan oleh Rasullah SAW, " katanya. 

Baca juga: Mendagri ajak masyarakat lawan ujaran kebencian
Baca juga: Menag ajak berpolitik berlandaskan nilai universal agama

Pewarta: Agus Salim
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2018

IDI: Mobilitas masyarakat sumbang lonjakan kasus COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar