Peneliti: sentimen politik elektoral bisa mengancam mediatisasi agama

Peneliti: sentimen politik elektoral bisa mengancam mediatisasi agama

Arsip Foto. Maskot Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bawas dan Lula menunjukan stiker pemilu bersih dan anti hoaks saat sosialisasi pemilu bersih dan berintegritas di Karawang, Jawa Barat, Minggu (25/11/2018). (ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar)

Jakarta (ANTARA News) - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Wahyudi Akmaliyah menilai sentimen politik elektoral bisa membawa ancaman bagi mediatisasi agama, penyebaran informasi agama di media.

Wahyudi mengatakan keberadaan media baru seperti media sosial diakui atau tidak telah menciptakan kubu-kubu baru dalam masyarakat. 

"Demonstrasi pembubaran organisasi Hizbut Tahrir Indonesia misalnya, sebetulnya bukanlah isu yang begitu besar. Namun, ketika hal ini dikaitkan dengan politik elektoral, dampaknya akan sangat luas," katanya dalam seminar bertajuk "Mediatisasi Agama: Peluang atau Ancaman?" yang diselenggarakan di kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Senin.

Ia mengatakan berbagai kepentingan bisa muncul dari politik elektoral. 

"Misalnya predator politik bisa muncul, terus kelompok konservatif yang bisa mendapatkan suara di sana," kata Wahyudi.

Predator politik yang dia maksud adalah mereka yang berani menghalalkan apa saja untuk memenangi kontestasi politik. Tipe seperti ini tak memikirkan dampak cara yang dia gunakan terhadap perpecahan.

Wahyudi menjelaskan pula bahwa bahaya yang lebih besar bisa muncul kalau sampai buzzer politik memanfaatkan penyebaran informasi terkait agama di media. Kondisi tersebut bisa menciptakan polarisasi dalam masyarakat, mengingat di sosial media ada algoritma yang membuat seseorang hanya melihat apa yang dia sukai saja dan memunculkan fragmentasi-fragmentasi baru.

"Secara ekonomi algoritma ini menguntungkan untuk membaca pasar. Tapi itu bahaya ketika masuk ke sentimen politik elektoral. Akhirnya algoritma ini sulit dipecah kecuali oleh pembuatnya," ucap dia.

Wahyudi menambahkan kondisi ini diperburuk dengan budaya literasi yang belum begitu kuat. 

"Tradisi membaca belum tumbuh, sudah ada era digital. Sementara kita hobi gosip kan. Akhirnya pelacakan informasi enggak pernah dapat, terlalu terfragmentasi, kemudian ketika ada hoaks menilai itu sebagai kenyataan," kata dia.

Ia mengatakan perlunya "antibodi" untuk membentengi mediatisasi agama dari kepentingan politik elektoral.

"Pembentukan 'antibodi' untuk mencegah ancaman ini salah satunya bisa dilakukan dengan memperkuat basis tradisional tadi. Dalam Islam misalnya, ada Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang sudah punya kiprah panjang dalam mediatisasi Islam dan kebangsaan," katanya.

Masalahnya, menurut dia, kedua organisasi itu belum banyak bermain dalam media daring.

"Baru NU yang mengejar itu, Muhammadiyah ini baru membuat Islam Berkemajuan, tapi enggak banyak juga yang bermain di daring. Besar di luring kecil di daring," kata dia.

Baca juga:
Hoaks politik banyak menyasar pemilih pemula
Hoaks dan Gelembung Isolasi Politik

 

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Polisi tetapkan 10 tersangka kasus penyebaran hoaks

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar