counter

Harga minyak menguat tembus di atas 60 dolar AS

Harga minyak menguat tembus di atas 60 dolar AS

Kilang minyak (ANTARA News/Ridwan Triatmodjo)

Kami enggan membaca banyak tentang kenaikan harga minyak hari ini mengingat kondisi teknis sangat `oversold` yang hanya membutuhkan reli pasar saham moderat untuk memaksa beberapa `short-covering`
New York (ANTARA News) - Harga minyak melonjak hampir tiga persen pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), mengembalikan beberapa kerugian tajam pekan lalu, meskipun kenaikannya dibatasi oleh ketidakpastian atas pertumbuhan ekonomi global dan tanda-tanda lebih lanjut dari peningkatan pasokan, termasuk rekor produksi Saudi.

Minyak mentah Brent berjangka naik 1,68 dolar AS atau 2,9 persen menjadi menetap di 60,48 dolar AS per barel. Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), meningkat 1,21 dolar AS atau 2,4 persen, menjadi ditutup pada 51,63 dolar AS per barel.

Harga minyak pada Jumat (23/11) jatuh mencapai tingkat terendah sejak Oktober 2017, di tengah peningkatan kekhawatiran tentang melimpahnya pasokan. Brent merosot ke 58,41 dolar AS per barel, sementara WTI jatuh ke 50,15 dolar AS per barel.

"Kami enggan membaca banyak tentang kenaikan harga minyak hari ini mengingat kondisi teknis sangat `oversold` yang hanya membutuhkan reli pasar saham moderat untuk memaksa beberapa `short-covering`," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates, dalam sebuah catatan.

Mendukung harga minyak, pasar saham AS secara luas menguat karena Cyber Monday, hari belanja daring (online) terbesar tahun ini, dimulai. Minyak mentah berjangka kadang-kadang mengikuti pasar ekuitas.

Harga menemukan beberapa dukungan karena stok minyak mentah di titik pengiriman untuk WTI di Cushing, Oklahoma, naik hanya 126 barel dari Selasa (21/11) hingga Jumat (23/11), kata para pedagang, mengutip laporan dari firma intelijen pasar Genscape.

Namun, kekhawatiran permintaan dan rekor produksi dari Arab Saudi membatasi kenaikan harga minyak lebih lanjut pada perdagangan Senin (26/11).

Produksi minyak mentah Saudi mencapai 11,1-11,3 juta barel per hari (bph) pada November, tertinggi sepanjang masa, sebuah sumber industri mengatakan.

Meningkatnya dolar AS yang telah melemahkan permintaan di negara-negara "emerging market" utama, biaya pinjaman yang lebih tinggi dan ancaman terhadap pertumbuhan global dari sengketa perdagangan antara Amerika Serikat dan China, telah mendorong investor keluar dari aset-aset yang lebih selaras dengan ekonomi global, seperti ekuitas atau minyak.

Pada November saja, "hedge fund" telah menarik lebih dari 12 miliar dolar AS dari pasar minyak, berdasarkan pada penurunan dalam kepemilikan jangka pangjang Brent dan WTI serta opsi-opsi terhadap rata-rata harga minyak untuk bulan tersebut.

Bahkan prospek pemangkasan produksi yang hampir pasti oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) belum cukup untuk membendung penurunan.

OPEC akan bertemu di Wina pada 6 Desember, di tengah harapan bahwa Arab Saudi akan mendorong pemotongan produksi hingga 1,4 juta barel per hari oleh klub produsen dan sekutu-sekutunya.

Goldman Sachs mengatakan pertemuan G20 pekan ini bisa menjadi katalis untuk "rebound" harga-harga komoditas, mungkin mendorong pencairan ketegangan perdagangan AS-China dan menawarkan kejelasan lebih besar tentang potensi pembatasan produksi minyak OPEC.

Goldman percaya OPEC dan negara-negara lain akan mencapai kesepakatan, yang akan mendorong pemulihan harga Brent.

"Meskipun kami tidak berpikir bahwa harga Brent dibenarkan pada 86 dolar AS per barel, kami juga tidak percaya bahwa mereka berada di 59 dolar AS dengan perkiraan Brent 2019 kami di 70 dolar AS," kata Goldman.

 Baca juga: Kelebihan pasokan, harga minyak jatuh hampir 8 persen
Baca juga: Wall Street berakhir melemah terseret penurunan harga minyak

Pewarta:
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar