Metropolitan

Polisi buru "Geng Nona" penodong Tanjung Priok

Polisi buru "Geng Nona" penodong Tanjung Priok

Polsek Tanjung Priok Jakarta Utara membekuk komplotan "Geng Nona" yang beraksi menodong penumpang dengan senjata tajam di kawasan Terminal Tanjung Priok. (Istimewa)

Jakarta (ANTARA News) - Anggota Polsek Tanjung Priok Jakarta Utara masih melakukan pencarian terhadap tiga tersangka dalam "Geng Nona" yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) pelaku penodongan di Terminal Tanjung Priok.

Kapolsek Tanjung Priok Komisaris Polisi Supriyanto di Jakarta, Selasa menyebut tiga penodong yang di-DPO -kan tersebut yakni F, RR dan J, yang berhasil lolos dari kejaran polisi.

"Mereka bawa senjata tajam, kebanyakan penumpang yang jadi korban itu dari luar kota merasa takut, kebanyakan korban mahasiswa semua," ujar Kompol Supriyanto.

Polsek Tanjung Priok sebelumnya telah membekuk pentolan "Geng Nona" dan beberapa anggotanya yang diyakini merupakan pelaku penodongan di Terminal Tanjung Priok, yang mengicar penumpang angkot pada 12 November.

"Dari Polsek Tanjung Priok mendapat laporan kita tunggu, kebetulan yang namanya Nona (33) habis melakukan kasus 365 (pencurian dengan kekerasan). Kemudian dikejar dan tertangkap," ujar dia.

Polisi kemudian menggeledah pakaian tersangka Nona dan menemukan ponsel pintar di saku celana. Tak lama kemudian, korban yang melapor mengakui ponsel pintarnya yang dicuri.

"Otaknya ini yang dewasa, Nona ini. Dia yang mengajak. Suaminya pun melakukan yang sama dan sudah tertangkap. Nona punya anak enam," ungkap dia.

Selanjutnya, pengembangan kasus dilakukan dan pihaknya menangkap beberapa pelaku lainnya yakni DS (21), YR alias Kucing (18), AG alias Aan (16), dan AF alias Ambon (23).

Kompol Supriyanto mengatakan, para pelaku beroperasi tiap subuh sekitar pukul 04.00-04.30 WIB. Mereka menunggu korban yang datang dari luar.

Modusnya, pemumpang yang baru saja tiba didatangi oleh pelaku yang masih di bawah umur untuk meminta-minta uang. Setelah itu, pelaku yang lain sekitar tujuh-delapan orang mendatangi korban dan mengambil dompet serta ponsel pintar.

Hasil penodongan berupa ponsel pintar dari para korbannya kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Kurang lebih dari pengakuan sudah melakukan 30 kali dalam sebulan. Belum bulan-bulan sebelumnya. Setelah komplotan ini tertangkap terminal menjadi aman tidak ada lagi yang melakikan kejahatan itu," kata Kompol Supriyanto.

Pihaknya telah menyita barang bukti berupa dua ponsel pintar hasil penodongan yang akan dijual.

Para pelaku kini terancam Pasal 365 ayat (2) KUHP dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara.
 

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar