counter

Bekraf-Asosiasi Game rumuskan pengembangan industri digital 2019

Bekraf-Asosiasi Game rumuskan pengembangan industri digital 2019

Deretan game untuk personal computer yang dipajang di salah satu gerai penjualan di Jakarta, Selasa (23/10/2018). (Antara News/Aji Cakti)

Bandung  (ANTARA News) - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Asosiasi Game Indonesia menyelenggarakan Bekraf Developer Conference (BDC) 2018 yang bertujuan untuk merumuskan pengembangan industri digital 2019.

Deputi Infrastruktur Bekraf, Hari Sungkari, di Bandung, Minggu, mengatakan, industri di bidang aplikasi, game, web, dan Internet of Things (IoT) menawarkan potensi bisnis yang besar. Namun banyak dari pengembang terutama pemula kesulitan untuk menembus pasar dan layu sebelum tumbuh.

Dalam pertemuan tersebut hadir sekitar 300 developer/ pengembang game dan aplikasi buatan anak negeri seperti Digital Happiness, Gojek, dan Dicoding.

"Indonesia adalah salah satu negara paling berpotensi sebagai produsen game bermutu. Penghasilan yang diperoleh Indonesia setiap tahun dari industri game mencapai Rp1 triliun. Melihat potensi ini, game developer menjadi salah satu profesi yang sangat dicari," ujarnya.

Hari menyatakan, kontribusi pengembang lokal terhadap industri game Indonesia hanya 5 persen pada 2017, jumlahnya turun dari 2016 yang sebesar 9,5 persen. Hal ini terjadi karena ukuran pasar membesar, namun, jumlah pengembang tidak bertambah.

Di samping itu, investor lokal belum terlalu melirik industri IT karena dinilai tidak memiliki daya jual, berbeda jika dibandingkan dengan industri properti yang dinilai memiliki aset nyata.

"Investor kita kalau industri properti misal jalan tol berapa puluh kilometer, sudah keliatan, nah kalau ke startup flashdisk doang asetnya,"ujar Hari.

Menurut dia, justru kebanyakan investor untuk industri digital datang dari luar negeri dibanding dalam negeri. Kepercayaan investor luar lebih tinggi, hal itu tercermin saat perintisan Gojek, Tokopedia, dan Traveloka yang disuntik investasi dari perusahaan luar.

"Gojek dari Tencent, Traveloka dari Alibaba. Kalau saya bilang saya larang perusahaan asing, Gojek akan mati. Yang lebih parah lagi 18.000 UMKM akan mati," kata Hari.

Untuk itu dalam pertemuan ini, kata dia, seluruh elemen pengembang bisa bersinergi untuk menciptakan iklim industri digital tanah air yang produktif.

Sinergi itu akan dirumuskan dalam sebuah rekomendasi yang akan menjadi acuan pengembangan industri digital nasional pada 2019.

"Pemerintah juga telah merumuskan cetak biru ekonomi kreatif kekuatan baru Indonesia menuju 2025. Sektor tersebut selain diharapkan menjadi tulang punggung ekonomi nasional juga mampu menjadi sebuah identitas baru bangsa yang kreatif dan inovatif," ujar Hari.

Baca juga: Asosiasi Game Indonesia sebut kewajiban data center sukar diterapkan
Baca juga: Kementerian Perindustrian bentuk peta jalan industri "game"

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar