Jakarta (ANTARA News) - Kepala Seksi (Kasie) Pemeliharaan Bina Marga DKI Jakarta, Hans Mahendra mengatakan, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang akan berhias batik bertujuan untuk menunjukkan citra Jakarta yang ramah.

"Kita ingin menunjukkan Jakarta yang ramah, tidak terlalu kaku, dengan bangunan-bangunan besi beton. Agar lebih dekoratif, ada batik jadi tampilan kota ini lebih manis," ujar Hans di Jakarta, Rabu.

Hans mengatakan program pemeliharaan JPO berbatik dilaksanakan di empat lokasi yakni JPO Daan Mogot KM 17-18, JPO Kalideres, JPO Bandengan, juga di JPO Tendean, Jakarta Selatan, dan dalam pemasangan struktur dekorasi.

Penggunaaan unsur batik dalam menghias JPO semata-mata demi menunjukkan Jakarta yang terdiri dari bermacam-macam unsur budaya, dan menampilkan sisi perkotaan yang lebih humanis.

Hans menyebut pihaknya telah mempersiapkan sekitar 100 motif batik nusantara, termasuk diantaranya motif tumbuhan, islamik, betawi, dan sebagainya.

Setiap JPO akan memiliki satu macam desain batik nusantara. Selebihnya, dekorasi tersebut akan digunakan untuk persiapan mempercantik JPO lainnya di tahun depan.

Pemilihan empat lokasi JPO tersebut dikarenakan atas permintaan masyarakat yang sebelumnya mengeluhkan kondisinya yang sudah tidak aman untuk dilewati, keropos, sehingga membutuhkan penanganan.

"Karena parah sekali kondisinya, kalau lewat situ ngeri, keropos, serem. Jadi kita ingin masyarakat melintas dengan JPO karena lalu lintasnya di bawahnya kencang, dan masyarakat yang melintas di bawah JPO tentu mengganggu lalu lintas bawah yang menjadi akses ekonomi," ujar dia.

Hingga saat ini, JPO berbatik masih dalam progres penyelesaian. Salah satunya, tampak di JPO Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat yang sedang dalam tahapan pemasangan dekorasi batik di bawah jembatannya.

Rencananya, JPO berbatik di empat lokasi tersebut ditargetkan selesai pada 15 Desember.

"Yang penting konsep kita adalah, ingin merubah JPO ini lebih aman, nyaman dan berbudaya. Ada sentuhan humanisnya, ada sentuhan budayanya," tandasnya.

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2018