counter

Pemerintah nilai kinerja perusahaan internalisasi SDGs dalam kelola lingkungan

Pemerintah nilai kinerja perusahaan internalisasi SDGs dalam kelola lingkungan

Foto dengan atribusi Creative Commons milik Jan-Joost Verhoef di Flickr yang diambil 8 Maret 2009. (Flickr/Jan-Joost Verhoef)

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menilai kinerja 437 perusahaan menginternalisasi upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER).

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan M.R. Karliansyah dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis, mengatakan selama 2018 ada 1.906 industri yang dipantau dalam PROPER yang meliputi 916 agroindustri, 555 manufaktur, serta 435 Prasarana dan Jasa-Pertambangan, Energi dan Migas.

Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan menyebutkan bahwa pelaku usaha adalah salah satu pemangku kepentingan yang dapat berperan dalam melaksanakan SDGs.

Dunia usaha, menurut Karliansyah, dapat berkontribusi lebih dengan menginternalisasikan SDGs ke dalam peta jalan perencanaan dan program perusahaan agar dapat mendukung dan berkolaborasi untuk mencapai target SDGs Nasional.

"Dari 437 industri yang tersaring sebagai calon kandidat Hijau, KLHK mencoba memetakan keterkaitan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan dalam mencapai SDGs," kata dia.

Karliansyah menjelaskan selama 2018 ada 8.474 kegiatan yang dapat dinilai setara uang Rp38,9 triliun yang menjawab tujuan SDGs. Dari seluruh kegiatan itu, ada 1.583 kegiatan atau 19 persen yang menjawab tujuan SDGs ke-12 yaitu menjamin pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.

Menurut hasil evaluasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kegiatan-kegiatan itu menghasilkan efisiensi energi sampai sekitar 273,61 juta gigajoule, penurunan emisi gas rumah kaca hingga 306,94 juta ton karbon dioksida equivalent (CO2e), penurunan emisi udara 18,69 juta ton, reduksi limbah bahan berbahaya dan beracun (LB3) 16,34 juta ton, pengurangan-penggunaan kembali-pendaurulangan (3R) limbah non B3 sebesar 6,83 juta ton, efisiensi air 543.399 juta meter kubik, penurunan beban pencemaran air 31,72 juta ton serta dana bergulir pemberdayaan masyarakat sebesar Rp1.531 triliun.

Selain itu, selama 2018 kementerian mencatat 542 inovasi yang terdiri 135 inovasi upaya efisiensi energi; 65 inovasi efisiensi dan penurunan beban pencemaran air; 72 inovasi penurunan emisi; 95 inovasi 3R Limbah B3; 53 inovasi 3R Limbah padat non B3; 66 inovasi terkait keanekaragaman hayati; dan 56 inovasi upaya pemberdayaan masyarakat.

Baca juga: 100 industri ditargetkan masuk daftar industri hijau
 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar