counter

Artikel

Pasar Terapung, budaya Kesultanan Banjar

Pasar Terapung, budaya Kesultanan Banjar

FESTIVAL PASAR TERAPUNG Pedagang Pasar Terapung melakukan atraksi Jukung (perahu) di Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2018 di Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (02/12/2018). Festival Pasar Terapung Lok Baintan yang diikuti ratusan pedagang tersebut menjadi ajang promosi pariwisata Kalsel. ANTARA FOTO/Bayu/wpa/wsj. (ANTARA FOTO/BAYU)

Pasar terapung atau pasar apung yang kini menjadi objek andalan kepariwisataan Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin, diperkirakan sudah eksis di era kesultanan Banjar yang masih lestari.

Beberapa pedagang di pasar terapung mengaku tidak tahu persis kapan kegiatan transaksi di atas air melalui sampan tersebut mulai tumbuh dan berkembang di kawasan yang dikenal sebagai "daratan dengan seribu sungai" tersebut.

Menurut para pedagang, mereka berjualan seperti ini hanya meneruskan kebiasaan orang tua-orang tua mereka, sementara orang tua-orang tua mereka mengaku meneruskan hal itu dari kebiasaan pendahulunya juga.

Pasar terapung di wilayah ini terdapat di dua lokasi, yang besar di Desa Kuin atau di atas Sungai Barito Kota Banjarmasin, sedangkan yang kedua di Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar atau perjalanan satu jam naik klotok (perahu bermesin) dari pusat Kota Banjarmasin.

Sangat disayangkan keberadaan pasar terapung Desa Kuin, Kota Banjarmasin lambat laun berkurang dan sekarang sudah tak terlihat lagi, sedangkan di Lok Baintan, Kabupaten Banjar masih hidup hingga sekarang.

Oleh karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin sejak kepemimpinan Wali Kota Haji Muhidin menciptakan pasar terapung buatan di Sungai Martapura, tepatnya di lokasi objek wisata Siring Tendean.

Ternyata, pasar buatan tersebut berkembang baik dan menjadi objek wisata andalan kota ini.

Hanya saja objek wisata pasar terapung ini buka saat Sabtu dan Minggu dan dikunjungi tak kurang dari enam ribu orang per minggu. Banyak kalangan berharap pasar terapung buatan ini bisa beroperasi tiap hari, karena banyak kunjungan wisatawan di luar Sabtu dan Minggu.

Berdasarkan berbagai keterangan, musnahnya pasar terapung yang berada di Desa Kuin yang dahulu sempat dipopulerkan melalui tayangan "RCTI Oke" disebabkan beberapa hal.

Namun, perkiraannya akibat kian berkembang pembangunan di mana jalan-jalan darat di kawasan tersebut terus sambung-menyambung.

Melalui jalan darat yang mulus dan sambung-menyambung akibatnya banyak pedagang eceran terutama pedagang sayuran, ikan, dan buah-buahan yang tadinya memanfaatkan sampan sebagai sarana berdagang, mengalihkan menggunakan sepeda atau sepeda motor lewat jalan darat untuk mengunjungi desa-desa di kawasan tersebut.

Dengan beralihnya kebiasaan tersebut, aktivitas transaksi di atas air terus berkurang dan akibatnya pedagang grosir yang datang dengan kapal-kapal pun berkurang, akhirnya pasar terapung itu bubar.

Namun, ada juga yang menyebutkan bubarnya pasar terapung di Desa Kuin lantaran lokasi terkena imbas dari kapal-kapal penyeberangan angkutan penumpang karyawan pabrik polywood (kayu lapis), yang melahirkan gelombang, akhirnya banyak pedagang yang menggunakan sampan takut terbaik terkena gelombang kapal angkutan itu.

Dulu, keberadaan pasar terapung dinilai sangat membantu masyarakat di kawasan-kawasan pemukiman yang hanya bisa dijangkau melalui sampan lantaran belum tersedianya jalan darat yang memadai.

Konon keberadaan pasar terapung itu ada sejak kesultanan Banjar, dan turun temurun hingga sekarang.

Yang unik dari kegiatan ekonomi masyarakat di atas air ini muncul saat dinihari dan menggunakan lampu templok dan akan sangat ramai jika matahari terbit dan bubar jika matahari naik atau sekitar pukul 09.00.

Barang yang dijual sebagian besar hasil sumber daya alam berupa hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan kerajinan.

Kegiatan ini didominasi kaum ibu menggunakan kemeja sederhana dan bedak dingin (pupur dingin) tebal , tetapi yang unik semuanya menggunakan topi sangat lebar yang disebut tanggui.

Hal yang sulit ditemui di daerah lain, konon transaksi antarpedagang ini dilakukan secara barter (tukar barang), umpamanya antara sayuran dengan beras, antara buah dengan ikan, atau sebaliknya.

Terkait dengan pasar terapung, menurut Kepala Bidang Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin Mokhammad Khuzaimi, merupakan aktivitas ekonomi yang lazim ditemukan tidak hanya di Kota Banjarmasin, namun juga di berbagai area dalam wilayah Kesultanan Banjar kala itu.

 
FESTIVAL PASAR TERAPUNG Pedagang Pasar Terapung mengikuti Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2018 di Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (02/12/2018). Festival Pasar Terapung Lok Baintan yang diikuti ratusan pedagang tersebut menjadi ajang promosi pariwisata Kalsel. ANTARA FOTO/Bayu/wpa/wsj. (ANTARA FOTO/BAYU)




Lokasi baru.

Mengutip keterangan yang digali melalui temannya, Vera D. Damayanti yang sedang studi S3 mengenai sejarah lanskap Banjarmasin di Belanda, Mokhamad Khuzaimi menyebutkan pedagang yang terlibat dalam kegiatan pasar apung di Kota Banjarmasin pun berasal dari berbagai daerah di sekitar kota.

Karena Banjarmasin merupakan lokasi strategis pertemuan pedagang dari berbagai penjuru, termasuk salah satunya para pedagang dari area yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Banjar.

Dengan berkembangnya kota, lokasi pasar apung di Banjarmasin pun berkembang di beberapa tempat sebagai respon akan kebutuhan konsumen.

Sebut saja misalnya pasar apung Pasar Lama, Kuin, Pasar Awang Perumnas, Harum Manis, yang bahkan sempat ramai dulu ketika akses Sungai Veteran masih bisa dilewati klotok, yakni Pasar Veteran Jalan A. Yani di mana sebagian pedagangnya dari Lok Baintan.

Fenomena kesejarahan tersebut menunjukkan bahwa budaya pasar apung tak lain merupakan budaya Urang Banjar dalam konteks wilayah yang luas sebagai warisan budaya zaman kesultanan yang tata kehidupannya sangat bergantung pada sungai di masa itu.

Untuk melestarikan kebudayaan ini, maka upaya inovatif guna menghidupkan dan melestarikan pasar apung perlu dikembangkan secara bijak.

Salah satunya misalnya, dengan mencari lokasi-lokasi baru yang nantinya menguntungkan bagi para pedagang di pasar apung, sebagaimana yang telah diinisiasi di Siring Tendean,

Pasar terapung tersebut dengan tetap mempertahankan keaslian para penjual (acil-acil) bahkan penampilan diri termasuk jenis bedak wajah dan jenis dagangan serta alat transportasi.

Yang tak kalah pentingnya, pembekalan kepada para pedagangnya dengan seni berdayung, berformasi di tengah sungai.

Ke depannya diharapkan akan bisa bangkit lagi beberapa pasar terapung tradisional Banjarmasin.

Bagian lain, Khuzaimi menuturkan ada beberapa informasi dari Vera bahwa pada mulanya wilayah pengaruh Kesultanan Banjarmasin mencakup kawasan Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan sebagian Kalimantan Tengah.

Sebagaimana tertulis dalam Hikayat Banjar, kerajaan-kerajaan seperti Sabangau, Mandawai, Sampit, Pambuang, Kota Waringin, Sukadana, Lawai, Sambas, Takisung, Tambangan Laut, Kintap, Asam-asam, Pulau Laut, Pamukan, Pasir, Kutai, Berau, dan Karasikan merupakan vasal dari Banjarmasin.

Dalam berbagai dokumen Belanda, penulisan Kesultanan Banjarmasin sering kali disingkat dengan Banjar, sementara itu penulisan Banjarmasin secara lengkap biasanya dalam konteks mengacu pada Kota Banjarmasin yang kala itu pusat pemerintahan, baik di masa kesultanan maupun kolonial.*


Baca juga: Kirab obor di Banjarmasin bakal lewati pasar terapung

Baca juga: Lampion berterangan pada pembukaan Festival Budaya Pasar Terapung



 

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar