counter

Warga Bogor Selatan merasakan seperti kiamat

Warga Bogor Selatan merasakan seperti kiamat

Warga melihat mobil yang hancur akibat tertimpa pohon di kawasan Siliwangi, Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, Kamis (6/12/2018). Angin puting beliung yang melanda wilayah Bogor Selatan, Bogor, Jawa Barat, mengakibatkan seorang pengendara mobil tewas tertimpa pohon tumbang. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/kye.

Saya lari ke bawah sambil bawa lari anak-anak, takut kenapa-napa
Bogor (ANTARA News) - Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat, diterjang puting beliung pada Kamis (6/12) sore.

Warga setempat menjadi saksi mata kedahsyatan angin yang dalam waktu singkat memporakporandakan pertokoan dan rumah-rumah warga serta menumbangkan pohon-pohon.

Andri Firmansyah (22) karyawan salah satu resto cepat saji di Jalan Shaleh Danasasmita tempat terjangan angin melanda wilayah Cipaku, mengaku kencangnya angin menimbulkan rasa takut warga yang ada di sekitar kejadian.

"Terasa seperti mau kiamat, angin kencang semua atap beterbangan, ditambah hujan dan petir juga," kata Andri.

Saat kejadian, Andri sedang istirahat duduk di depan resto yang berada di pinggir jalan. Saat itu tidak banyak tamu datang berbelanja.

Puting beliung datang dua kali. Pertama hanya selintas tidak menakutkan, namun tidak lama kemudian angin kedua yang menerjang semua rumah yang ada di sepanjang Jalan Saleh Danasasmita.

"Orang-orang semua ketakutan dan mengucapkan Allahu Akbar," kata pemuda asal Pamijahan ini.

Baca juga: Ratusan rumah di Bogor rusak akibat puting beliung
Petugas PLN memperbaiki jaringan listrik yang terputus akibat angin puting beliung di wilayah Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, Kamis (6/12/2018). Angin puting beliung yang melanda wilayah Bogor Selatan, Bogor, Jawa Barat, mengakibatkan seorang pengendara mobil tewas tertimpa pohon tumbang. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/kye.

Asbes Beterbangan
Hal senada juga dirasakan Hidayat (27) warga Jalan Saleh Danasasmita, Cipaku, yang rumahnya rusak diterjang puting beliung.

"Saat kejadian, saya baru beres kerja, ganti shift. Saya duduk depan rumah, tiba-tiba angin kencang datang menerbangkan semua yang ada," katanya.

Kecepatan puting beliung mampu menerbangkan dirinya jika ia tidak berlindung dan mencari pegangan.

"Angin sangat kencang, tangan saya aja sampai terluka kena serpihan asbes yang beterbangan. Kejadiannya ada sekitar lima menitan," katanya.

Pengakuan serupa juga disampaikan Ika Salihat (31), ibu dua anak yang tinggal di RT 02/RW 07 Jalan Saleh Danasasmita. Atap rumahnya yang berlantai dua  porak-poranda diterbangkan puting beliung.

Saat kejadian, dirinya bersama dua anaknya sedang beristirahat di lantai dua sambil tidur-tiduran. Tiba-tiba ada bunyi cukup keras dari atap rumahnya. Atap rumanya diterbangkan puting beliung.

"Saya lari ke bawah sambil bawa lari anak-anak, takut kenapa-napa," katanya.
Warga duduk di depan rukonya yang rusak diterjang angin puting beliung di wilayah Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, Kamis (6/12/2018). Angin puting beliung yang melanda wilayah Bogor Selatan, Bogor, Jawa Barat, mengakibatkan seorang pengendara mobil tewas tertimpa pohon tumbang. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/hp.

Hamil Tua
Ika merasakan kecemasan luar biasa saat angin dengan kecepatan 30 knot (50 kilometer per jam) menerjang wilayah pemukimannya. Seumur hidupnya belum pernah ada kejadian tersebut dialaminya.

"Baru kali ini pertama merasakan kejadian begini, mana saya sedang hamil tua. Jadi agak panik juga," kata Ika yang sedang hamil enam bulan.

Kencangnya angin puting beliung yang menerjang wilayah Cipaku sempat diabadikan oleh seorang pemuda bernama Roni. Nideo ini pun menjadi viral karena memperlihatkan dahsyatnya angin menyapu wilayah tersebut.

Akibat angin kencang ini sebanyak 770 rumah di Kecamatan Bogor Selatan rusak berat maupun ringan. Kerusakan terberat dialami warga di wilayah Cipaku, rata-rata atap rumah milik warga diterbangkan oleh angin.
Baca juga: Ratusan rumah rusak akibat puting beliung
Baca juga: Angin kencang di Bogor dipicu awan Kumulonimbus 

Pewarta:
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar