counter

Pariwisata di Pacet-Mojokerto didorong berbasis konservasi

Pariwisata di Pacet-Mojokerto didorong berbasis konservasi

Banjir Bandang Sejumlah warga melihat banjir bandang di Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (3/2). Akibat kejadian tersebut satu orang dinyatakan hilang yakni Markiyah (50) warga Dusun Treceh, Desa Sajen, Kecamatan Pacet serta puluhan ternak dan satu pick up hanyut terbawa arus banjir. (FOTO ANTARA/Syaiful Arief)

Akibat dari pengembangan pariwisata yang tidak terkendali akan dapat memicu alih fungsi lahan dan dampak yang membahayakan lingkungan
Mojokerto, Jatim (ANTARA News) - Pariwisata di Desa Pacet,  Claket, dan Padusan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. didorong 
berbasiskan konservasi dan pengurangan risiko bencana .

Upaya itu diwujudkan melalui penandatanganan perjanjian kerja sama oleh USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK) dan Yayasan Sahabat Multi Bintang (YSMB).

Direktur Eksekutif Yayasan Sahabat Multi Bintang Hning Wicaksono di Mojokerta, Kamis, mengatakan pihaknya menyambut baik kerja sama ini karena beberapa desa di Pacet rawan terkena bencana.

"Selain itu, akibat dari pengembangan pariwisata yang tidak terkendali akan dapat memicu alih fungsi lahan dan dampak yang membahayakan lingkungan, sehingga upaya kolektif untuk mencegah penurunan kualitas lingkungan dan meminimalkan potensi bencana amatlah penting. Hal ini pun selaras dengan visi dan misi YSMB dalam hal pembinaan lingkungan," katanya di sela penandatanganan kerja sama, di Balai Adat Sendi, Desa Pacet.

Ia mengemukakan kolaborasi USAID APIK dan YSMB akan diimplementasikan dalam bentuk penyusunan kajian kerentanan, risiko, dan dampak perubahan iklim untuk bentang lahan ketiga desa bersama masyarakat.

"Dalam kajian ini masyarakat memetakan kondisi wilayah, hal-hal yang mengancam dan menentukan aksi untuk mengatasinya. Aksi adaptasi yang dijalankan akan berdasarkan hasil kajian wilayah dan kesepakatan masyarakat," tambahnya.

Menurutnya beberapa contoh ide aksi adaptasi yang berpotensi untuk direalisasikan antara lain penanaman bambu di wilayah rawan longsor.

"Selain itu, pembuatan instalasi pembuangan air limbah cair usaha terkait pariwisata misalnya warung dan restoran, pembuatan greenhouse, bank sampah, dan penyebarluasan informasi cuaca dan iklim," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Manajer Regional Jawa Timur Program USAID APIK, Ardanti Sutarto mengatakan aktivitas pariwisata di ketiga desa ini sudah berjalan dan diprediksi di tahun mendatang akan semakin berkembang pesat, sehingga pengelolaannya sebisa mungkin harus dilakukan secara berkelanjutan.

"Untuk menjamin keberlanjutan, kami juga akan mendukung advokasi pengembangan Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana (API-PRB) dan pengembangan desa berbasis konservasi ini ke dalam rencana Pembangunan jangka menengah," lanjutnya.

Baca juga: Pemudik Lebaran agar waspadai jalur Cangar - Pacet

Baca juga: Hutan harus bernilai tambah dan jadi biofarmasi

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar