counter

Wamenkeu: Transformasi ekonomi Indonesia butuh optimalisasi industri

Wamenkeu: Transformasi ekonomi Indonesia butuh optimalisasi industri

Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo. (ANTARA /Rosa Panggabean)

Tenaga kerja di sektor pertanian menurun, karena berpindah ke sektor jasa. Kondisi ini menyebabkan sektor manufaktur relatif stagnan
Nusa Dua (ANTARA News) - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo mengingatkan penguatan transformasi ekonomi di Indonesia membutuhkan kemajuan dalam bidang industri serta diversifikasi di berbagai sektor ekonomi.

"Penguatan transformasi struktur ekonomi melibatkan industrialisasi dan diversifikasi ekonomi," kata Mardiasmo dalam penutupan seminar di Nusa Dua, Bali, Jumat.

Mardiasmo menjelaskan saat ini Indonesia mulai memperlihatkan tanda-tanda menuju deindustrialisasi, karena pertumbuhan sektor manufaktur relatif landai dan belum menunjukkan adanya pembenahan.

"Tenaga kerja di sektor pertanian menurun, karena berpindah ke sektor jasa. Kondisi ini menyebabkan sektor manufaktur relatif stagnan," katanya.

Untuk itu, pemerintah mulai mendorong perbaikan di sektor manufaktur dengan memperbaiki perizinan berusaha agar investasi berbasis ekspor dan subtitusi impor makin tumbuh.

Pembenahan ini juga dilakukan agar peringkat kemudahan berusaha (EoDB) Indonesia bisa mencapai peringkat 40 sesuai arahan Presiden.

Berbagai upaya untuk meningkatkan transformasi dalam bidang ekonomi ini sangat penting agar Indonesia secara perlahan dapat menjadi negara dengan tingkat penghasilan tinggi.

"Transformasi ini nantinya tidak hanya meliputi transformasi ekonomi secara struktural, tapi juga dalam bidang teknologi dan human capital," kata Mardiasmo.

Terkait pembangunan modal manusia, tambah Mardiasmo, hal tersebut juga makin mendesak karena bisa mendukung terjadinya pembangunan yang inovatif dan berkelanjutan.

"Kita bisa belajar dari Korea dalam pengembangan human capital , karena kualitas SDM yang tinggi bisa menciptakan inovasi teknologi yang berkelanjutan dan ikut mendorong pendapatan per kapita," ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Suahasil Nazara mengatakan Indonesia berpotensi menjadi negara maju yang lepas dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap) pada 2045.

Hal itu didukung oleh bonus demografi, usia produktif, urbanisasi, jumlah kelas menengah, dan sektor jasa yang lebih produktif. 

Meski demikian, Indonesia masih membutuhkan infrastruktur, sumber daya manusia, teknologi, perencanaan wilayah, sumber daya ekonomi dan keuangan, stabilitas makro dan politik, serta kepastian hukum. 

Selama ini Indonesia telah menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan di atas lima persen dengan kualitas pertumbuhan yang semakin membaik.

Kondisi tersebut terlihat dari pencapaian ekonomi makro yang stabil serta turunnya tingkat kemiskinan, rasio gini, dan pengangguran. 

Namun terdapat sejumlah tantangan antara lain gejala deindustrialisasi, ketergantungan pada komoditas, industri yang terkonsentrasi di Jawa, masalah kualitas tenaga kerja, dan kemampuan adaptasi teknologi.

Baca juga: Komplek petrokimia senilai Rp52,5 triliun dibangun di Cilegon

Baca juga: Analis: Rupiah masih berpeluang melemah

Baca juga: IHSG dibuka melemah seiring aksi ambil untung


 

Pewarta: Satyagraha
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar