AS susul China-Pakistan impor sawit Indonesia

AS susul China-Pakistan impor sawit Indonesia

Pajak Impor Minyak Sawit Dirut Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit Bayu Krisnamurthi (kedua kiri) berbincang dengan Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia Derom Bangun (kiri), Deputi I Menko Maritim Arif Havaz Oegroseno (kedua kanan), dan Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Togar Sitanggang (kanan) seusai mengadakan rapat membahas pajak impor produk minyak sawit mentah (CPO) di Jakarta, Selasa (2/2). Pemerintah bersama para pelaku industri kelapa sawit nasional menolak pajak impor minyak sawit yang diberlakukan oleh Perancis karena merugikan industri dan petani sawit Indonesia. (ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo)

Meskipun secara volume tidak besar, tapi secara persentase sangat signifikan yaitu 129 persen atau dari 58,20 ribu ton naik menjadi 133,46 ribu ton
Jakarta (ANTARA News) - Amerika Serikat menyusul China dan Pakistan mengimpor minyak sawit dari Indonesia, demikian pernyataan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Dalam pernyataan yang diterima dari Direktur Eksekutif GAPKI, Ir Mukti Sardjono, M.Sc di Jakarta, Sabtu, disebutkan bahwa hingga Oktober 2018 AS mencatatkan kenaikan impor meskipun secara volume tidak besar.

"Tapi secara persentase sangat signifikan yaitu 129 persen atau dari 58,20 ribu ton naik menjadi 133,46 ribu ton," katanya.

Pada Oktober, katanya, China meningkatkan impor minyak sawit dari Indonesia hingga 63 persen atau dari 332,52 ribu ton di September terkatrol menjadi 541.81 ribu ton.

Volume impor tersebut di luar dari permintaan untuk biodiesel.

Ia menjelaskan kenaikan impor juga dicatatkan oleh Pakistan sebesar 76 persen atau dari 140,16 ribu ton melonjak menjadi 246,97 ribu ton.

Pada Oktober 2018, kata dia,  merupakan volume impor tertinggi sejak Oktober 2015.

Melonjaknya permintaan oleh Pakistan karena harga yang murah dan untuk pengisian stok di dalam negeri di mana beberapa bulan terakhir impor minyak sawit Pakistan mengalami perlambatan akibat dari kondisi ekonomi Pakistan yang sedang kurang baik karena defisit neraca perdagangan yang tinggi.

Di sisi lain, pada Oktober, India mencatatkan penurunan sebesar 12 persen namun secara volume India tetap menjadi pengimpor minyak sawit tertinggi dari Indonesia.

Oktober ini volume impor CPO dan produk turunannya oleh India hanya mampu mencapai 698,17 ribu ton, di mana bulan sebelumnya mencapai 779,44 ribu ton.

Penurunan impor juga diikuti oleh Negara Uni Eropa yakni 8 persen dan negara Afrika 40 persen.

Di sisi produksi, sepanjang bulan Oktober 2018 produksi diprediksi mencapai 4,51 juta ton atau naik sekitar 2 persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 4,41 juta ton.

Naiknya produksi yang tidak terlalu signifikan dibarengi dengan ekspor yang meningkat menyebabkan stok minyak sawit Indonesia menurun menjadi kira-kira 4,41 juta ton.

Di sisi harga, sepanjang Oktober 2018 harga bergerak di kisaran 512,50 dolar AS -537,50 dolar AS per metrik ton CIF Rotterdam, dengan harga rata-rata 527,10 dolar AS per metrik ton.

Harga CPO global, tambahnya, terus tertekan karena harga minyak nabati lain yang sedang jatuh, khususnya kedelai dan stok minyak sawit yang masih cukup melimpah di Indonesia dan Malaysia.

Baca juga: China siap impor 2 juta ton sawit Indonesia

Baca juga: Pakistan berharap Indonesia buka keran impor lebih besar

Baca juga: Prancis tidak diskriminasi produk sawit Indonesia menyusul penghapusan biofuel PE 2021


 

Pewarta: Andi Jauhary
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar