Paviliun Indonesia selalu dipadati peserta Konferensi Perubahan Iklim

Paviliun Indonesia selalu dipadati peserta Konferensi Perubahan Iklim

Peserta Konferensi Perubahan Iklim (COP) 24, Katowice, Polandia, memadati Paviliun Indonesia, Senin (10/12/2018). (Istimewa)

Bisa dikatakan Paviliun Indonesia nyaris tak pernah sepi di hari kerja ...
Jakarta  (ANTARA News) - Paviliun Indonesia selalu dipadati peserta Konferensi Perubahan Iklim (COP) 24, Katowice, Polandia, sebagai tempat diskusi dan mendalami kebijakan Pemerintah Indonesia terkait agenda lingkungan hidup, termasuk pengendalian perubahan iklim.

Adanya Paniliun Indonesia di konerensi internasional itu menjadi bukti komitmen dan konsistensi pemerintah dalam kesepakatan global terkait pengedalian perubahan iklim. Indonesia dinilai telah membuktikan diri menjadi salah satu negara paling terdepan dalam kesepakatan perubahan iklim. 

Ketua Paviliun Indonesia, Agus Justianto mengungkapkan, Paviliun Indonesia di COP 24 merupakan refleksi implementasi Paris Agreement

Selama hampir dua pekan pelaksanaan COP 24 akan ada 52 sesi dan dihadiri 225 pembicara dengan perkiraan total 2.865 peserta diskusi dari berbagai negara peserta konferensi.

"Sepanjang minggu pertama saja, Paviliun Indonesia telah menghadirkan 83 pembicara dalam 21 sesi, dihadiri 1.265 peserta," ungkap Agus dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.

Paviliun Indonesia menjadi salah satu favorit peserta konferensi. Melalui berbagai sesi yang dihadirkan, Paviliun Indonesia menjadi "rumah informasi' bagi delegasi negara-negara di dunia tentang berbagai upaya mitigasi, adaptasi, kebijakan, aturan dan implementasi perubahan iklim.

Hanya di hari libur saja suasana di lokasi ini sepi. Kalaupun terlihat ramai karena pada COP24 kali ini area negosiasi dan paviliun menjadi satu dan tidak dipisah sehingga para negosiator lalu-lalang di area paviliun atau negosiator memakai paviliun negaranya untuk beraktifitas.

Sementara di hari kerja, tidak kurang dari 400-500 pengunjung bisa memenuhi Paviliun Indonesia setiap harinya. Dalam satu hari bahkan bisa mencapai 8 sesi.

Narasumbernya mulai dari perwakilan pemerintah Indonesia, perwakilan dari Negara para pihak, pemda (gubernur, bupati/wali kota), akademisi, para dubes, dunia usaha hingga aktivis.

"Bisa dikatakan Paviliun Indonesia nyaris tak pernah sepi di hari kerja, sesuai jadwal yang ditetapkan karena antusiasme pengunjung dan peserta diskusi,'' kata Agus.

Baca juga: Indonesia mempertegas komitmen dalam mengatasi perubahan iklim
Peserta Konferensi Perubahan Iklim (COP) 24, Katowice, Polandia, mengikuti diskusi di Paviliun Indonesia, Senin (10/12/2018). (Istimewa)

Diplomasi
Paviliun Indonesia menjadi bagian dari soft diplomacy Indonesia pada COP24 dan sudah berlangsung selama empat tahun berturut-turut. Paviliun Indonesia aktif saat pelaksanaan konferensi dan pada akhir pekan akan dimanfaatkan para delegasi untuk melakukan evaluasi kerja.

Guna memaksimal agenda, Agus memastikan bahwa pihaknya juga sudah melakukan koordinasi sejak jauh hari dengan kementerian/lembaga yang hadir perihal jadwal Paviliun Indonesia.

''Koordinasi sudah dilakukan paling tidak empat kali pertemuan dengan para pihak, termasuk kementerian terkait, jauh sebelum COP24 dimulai,'' ungkap Agus.

Selain itu semua informasi terkait Paviliun Indonesia juga bisa diakses melalui website indonesiaunfccc.com. "Di situ bisa terlihat jelas, bagaimana kesibukan dan ramainya Paviliun Indonesia menjadi rujukan masyarakat internasional,'' kata Agus.

Paviliun Indonesia yang tampil dengan nuansa khas daerah serta kekayaan Indonesia lainnya telah disiapkan sedemikian rupa sejak 10 bulan lalu dengan kerjasama berbagai pihak. Dari lokasi ini, peserta COP24 bisa melihat kerja nyata Indonesia dalam agenda perubahan iklim global.  
Baca juga: Indonesia-Inggris perkuat kerja sama sektor lingkungan hidup
Baca juga: Pemerintah membentuk Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup

Pewarta: Sri Muryono
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2018

BMKG sebut perubahan iklim sebabkan curah hujan tinggi

Komentar