Artikel

Upaya kembalikan kejayaan produksi lada Lampung

Upaya kembalikan kejayaan produksi lada Lampung

Petani menjemur lada hitam hasil kebunnya di Blambangan Umpu, Waykanan, Lampung, Jumat (26/7). Petani enggan menjual komoditas itu sehubungan harga lada hitam di tingkat petani masih stabil dengan kisaran Rp 54.000 per kilogram dan masih memungkinkan bisa naik. (ANTARA FOTO/Gatot Arifianto)

Bandarlampung (ANTARA News) - Provinsi Lampung menjadi daerah yang dikenal memproduksi lada dan tanaman komoditas itu berada menyebar hampir di seluruh wilayah daerah tersebut.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Lampung Ferynia mengatakan, lada merupakan salah satu komoditas ekspor andalan daerah ini selain kopi dan kakao. Ekspor komoditas lada hitam dari Lampung selama Oktober mencapai 1.396 ton, setara dengan 3,3 juta dolar AS.

Selain lada hitam, lanjutnya, Lampung juga mengekspor lada putih sebanyak 49,79 ton dengan nilai 286.723 dolar AS.

Ia menyebutkan, pada September 2018 volume ekspor lada Lampung sebanyak 1.931 ton terdiri atas lada hitam 1.862 ton dan lada putih 78,88 ton.

Menurut dia, produksi komoditas lada Lampung berasal dari sejumlah sentra perkebunan komoditas tersebut seperti di Kabupaten Lampung Timur, Lampung Utara, Waykanan, dan Lampung Barat.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung Dessy Desmaniar Romas mengatakan, luas areal tanaman lada di daerah ini mencapai 45.882 ha, produksinya 15.128 ton lada hitam. Produktivitasnya 449 kg/ha, melibatkan 62.778 kepala keluarga tersebar di lima kabupaten sentra lada, seperti Kabupaten Lampung Utara, Lampung Timur, Waykanan, Lampung Barat, Tanggamus, dan hampir seluruhnya dikelola oleh rakyat (99,90 persen).

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Waykanan berupaya terus meningkatkan hasil panen dan kualitas lada dengan memberikan bimbingan pengembangan pemberdayaan kelembagaan bagi petani setempat.

Kegiatan ini untuk pengembangan lada di Kabupaten Waykanan, agar bisa meningkat hasil panennya serta harga jualnya tambah meningkat, kata Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Waykanan, Bani Aras.

Menurutnya, kegiatan ini sangat penting bagi kelangsungan dan pengembangan produksi lada di Kabupaten Waykanan. Kegiatan tersebut diikuti oleh 35 kelompok tani lada se-Kabupaten Waykanan dan dilaksanakan di Kampung Bengkulu, Kecamatan Gunung Labuhan.

Ia menjelaskan, bahwa Lampung terkenal penghasil utama lada yang mempunyai peranan penting dalam perdagangan lada nasional. Waykanan menpunyai area sebanyak 3.872 hektare dengan hasil 413 ton.

Namun sayangnya, lanjut dia, dalam beberapa tahun terakhir terjadi pengurangan lahan area lada yang diakibatkan faktor kekeringan, serangan penyakit busuk pangkal batang, hama penggerak batang dan buah serta konversi areal lada baik untuk tambang maupun komidotas lain seperti sawit dan karet.

Dengan Bimbingan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani lada, agar produksi tahun selanjutnya bisa meningkat sehingga pendapatan petani lada juga meningkat, dan menambah wawasan manajemen pengelolaan dan pasaran hasil perkebunan lada jauh berkualitas.

Ia menambahkan, akan mendorong Kabupaten Waykanan menjadi penghasil lada dan penyumbang lada terbesar di Provinsi Lampung.

Bani Aras mengharapkan, anggota yang mengikuti sekolah lapangan ini benar-benar serius dan menggunkanan kegiatan yang dibagi 16 kelas, serta mengikuti kegiatan sampai dengan selesai.

Sedangkan Kabid Pengembangan Usaha Dinas Perkebunan Waykanan, Rohim mengatakan, dalam upaya mewujudkan peningkatan hasil produksi perkebunan tidak terlepas dari berbagai macam masalah yang dihadapi, salah satunya yaitu penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya lahan.

Dari segi kualitas, lahan kita sudah mengalami degradasi yang luar biasa dari sisi kesuburannya karena akibat dari pemakaian pupuk anorganik, kata dia.

Apalagi, pada saat ini banyak sekali petani yang menggunakan bahan kimia untuk pemupukannya dan memiliki kecenderungan akan semakin banyak memberi pupuk kimianya, dikarenakan hasil yang diharapkan akan tinggi, tetapi dari waktu ke waktu bukannya meningkat malah semakin menurun hasil produksinya.

Dengan pelatihan ini kelompok tani bisa mengambil pembelajarannya, bahwa penggunaan pupuk anorganik tidak bisa digunakan dan dapat merusak kesuburan tanah dan pohon lada tersebut, kata dia.

Secara umum tanaman lada untuk tumbuh dan berproduksi secara baik, lanjut dia, sangat membutuhkan unsur hara yang relatif banyak. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan penggunaan pupuk dan pestisida organik yang ramah lingkungan namun tetap dapat berproduksi secara optimal.

Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan mencegah degradasi lahan. Tersedianya sarana produksi berupa pupuk dan pestisida organik bagi petani kebun sangat membantu perbaikan kondisi lahan dalam meningkatkan hasil produksi.

Ketua kelompok Tani Lada Rahmat Sentosa, Marsan mengatakan, setelah selesai sekolah lapangan ini berharap kembali adanya pembinaan terhadap kelompok tani, sehingga lebih mengerti tentang budidaya sehingga menghasilkan lada dengan hasil yang memuaskan.


Bantuan Rehabilitasi

Pemerintah Kabupaten Waykanan, Provinsi Lampung mendapatkan bantuan rehabilitasi tanaman lada seluas 200 hekatare dari Dirjen Perkebunan Kementrian Pertanian Republik Indonesia.

Kepala Dinas Perkebunan Waykanan Bani Aras mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat berupa bibit dan pupuk organik bagi pengembangan lada di Kecamatan Gunung Labuhan.

Menurutnya, bantuan yang diserahkan ini merupakan anggaran tahun 2018 yang diperuntukan bagi para petani lada yang ada di Kabupaten Waykanan.

Selain itu, bantuan yang diberikan oleh pemerintah pusat ini, berpusat di Kecamatan Gunung Labuhan dengan jumlah 7 kelompok tani.

Untuk setiap hektare para petani mendapatkan bantuan 800 batang bibit lada dan 200 kilogram pupuk organik.

Jadi per hektere, lanjut dia, para petani mendapatkan bibit 800 batang dan 200 kilogram pupuk organik.

Bani menjelaskan, program rehabilitasi lada ini bertujuan untuk mengganti tanaman lada yang sudah tidak produktif lagi dan kerusakan yang mencapai 50 persen.

Bantuan lada yang diberikan yaitu lada panjat. Para petani dapat memilih apakah lebih cendrung ke lada hitam atau lada putih, tergantung dengan kesukaan para petani.

Kalau lampung lebih terkenal dengan lada hitam, tetapi bila petani ingin menjual lebih tinggi bisa ke lada putih.

Untuk ketujuh kelompok tani yang mendapatkan itu yaitu Kelompok Tani Kayu Btatu, Bengkulu, Negeri Sungkai, Bamar Ratu, Gunung Lasuhan dan Bengkulu Rahman.

Sementara itu, Bupati Waykanan, Raden Adipati Surya mengapresiasi bantuan rehabilitas tanaman lada 200 hektare dari Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia melalui Dinas Perkebunan Waykanan.

Dia berharap bantuan rehabilitasi lada ini bisa memperbaiki tanaman yang ada di Kabupaten Waykanan, agar hasil yang didapat lebih baik.

Menurutnya, bantuan rehabilitasi lada ini dapat mengganti tanaman lada yang sudah mulai rusak atau tidak produktif lagi.

Selain itu bila hasil lada tidak optimal maka nilai jual kepada para konsumen akan anjlok. Karena itu, dengan adanya rehabilitasi lada ini dapat meningkatkan kembali hasil produksi dan nilai jual lada.

Tahun ini hanya, lanjut dia, dapat 200 hektare, semoga tahun depan bisa lebih banyak lagi. Bahkan kalau perlu semua kelompok tani lada bisa mendapatkan bantuan untuk rehabilitasi tanaman lada tersebut.

Adipati menjelaskan bantuan ini diberikan kepada pengembangan lada di Kecamatan Gunung Labuhan yang merupakan sentral dari tanaman lada di Kabupaten Waykanan.

Bantuan ini berasal dari anggaran tahun 2018, Dirjen Perkebunan Kementrian Pertanian Republik Indonesia. Bantuan ini untuk 7 kelompok tani yang ada di Kabupaten Waykanan.

Adipati mengharapkan kepada Pemerintah Pusat khususnya Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian bisa memberikan bantuan untuk rehabilitasi tanaman lada pada tahun 2019 lebih besar dari tahun 2018.



Gairahkan Petani

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung Dessy Desmaniar Romas mengatakan kegiatan Festival Petik Lada di Kabupaten Lampung Timur akan membangkitkan gairah dan semangat para petani untuk meningkatkan hasil produksi lada daerah setempat.

Menurutnya, festival lada itu merupakan salah satu cara untuk menggairahkan kembali semangat para petani untuk membudidayakan tanaman lada.

Ia menyebutkan produksi lada dalam tiga tahun terakhir terus mengalami penurunan akibat cuaca ekstrem dan hama penyakit.

Dessy menjelaskan, kegiatan festival lada juga dapat menjadi tujuan wisata edukasi yang mampu menarik wisatawan domestik maupun orang-orang yang ingin tahu bagaimana proses produksi lada dari cara menanam sampai memetiknya.

Lada telah menjadi kebanggan masyarakat Lampung sejak dulu dan unggulan ekspor unggulan Provinsi Lampung. Dengan adanya kegiatan ini bisa menambah gairah dan semangat untuk meningkatkan produksi lada di Provinsi Lampung, katanya.

Pada 2017 dan 2018 , Pemerintah Provinsi Lampung telah memberikan bantuan berupa rehabilitasi tanaman lada di beberapa kabupaten, salah satunya Kabupaten Waykanan.

Ia mengharpkan agar festival lada ini bukan hanya di lakukan di Kabupaten Lampung Timur, tetapi dapat berkeliling ke daerah dengan potensi lada yang besar seperti Kabupaten Tanggamus, Lampung Barat, Waykanan dan Lampung Utara. ?

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Hamartoni Ahadis minta agar Dewan Rempah Indonesia (DRI) Provinsi Lampung bisa meningkatkan produksi lada hitam Lampung yang terus menurun produksinya.

Dengan dilantiknya DRI, beberapa waktu lalu, diharapkan dapat memberi perhatian serius terhadap komoditi unggulan di Lampung seperti lada, cengkeh, pala dan lainnya.

Ia menjelaskan lada hitam merupakan salah satu komoditi unggulan Provinsi Lampung yang dikenal sejak puluhan tahun lalu, karena memiliki cita rasa yang khas. Namun produksinya kini terus menurun dari tahun ke tahun.

Oleh karena itu, DRI Provinsi diharapkan mampu membangkitkan kembali lada hitam Lampung atau "Lampung black pepper", termasuk mengangkat kesejahteraan para petaninya.

Sekarang, lanjut dia, petani masih belum sejahtera dan Dewan Rempah harus ikut mendorong agar para petani bisa sejahtera dan harga lada juga dapat dikendalikan. Jangan hanya menguntungkan pengusaha dan memikirkan pemasaran saja, tapi bagaimana tentang pemanfaatan teknologi dan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas lada.

Lada merupakan komoditi rempah yang mempunyai peranan penting sebagai penghasil devisa negara, sumber pendapatan, penciptaan lapangan kerja, mendukung agribisnis, agroindustri bahkan sebagai agrowisata.

Perkebunan lada di Provinsi Lampung sepenuhnya berupa perkebunan rakyat dan merupakan sumber pendapatan petani seperti di Kabupaten Lampung Timur, Lampung Utara, Waykanan, Tanggamus dan Lampung Barat.

Ada berbagai permasalahan lada di Lampung, seperti penggunaan benih yang belum unggul dan bermutu, penggunaan pupuk tidak sesuai rekomendasi bahkan tidak dipupuk dan pemeliharaan kebun tidak optimal, dan masih banyak lainnya.

Selain itu, banyak kebun lada milik petani yang sudah mulai tua/rusak, hasil panen menurun, sehingga membuat produktivitasnya rendah yang mengakibatkan alih fungsi lahan lada cenderung meningkat.

Karena itu, DRI Provinsi Lampung diharapkan dapat segera mengoptimalkan kinerjanya agar dapat mendorong petani untuk berbudidaya lada yang lebih baik lagi, dan dapat meningkatkan produksi, pendapatan dan kesejahteraan petaninya.

Hamartoni mengharapkan agar DRI Lampung segera melakukan koordinasi, konsolidasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten yang menjadi sentra pengembangan kawasan lada seperti Lampung Utara, Lampung Timur, Tanggamus, Waykanan dan Lampung Barat.

Karena itu, ia meminta pihak terkait untuk melakukan sinergitas dengan komitmen yang kuat untuk mengembalikan kejayaan lada hitam Lampung melalui program revitalisasi, peningkatan produksi, mutu dan kualitas.

Baca juga: Babel merawat lada putih kelas dunia lagi
Baca juga: Petani Lada Lampung Barat Gunakan Pupuk Organik
Baca juga: Kementan nobatkan Gubernur Babel sebagai "presiden lada"


 

Pewarta: Triono Subagyo
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar